INILAHKORAN.COM - PENDIDIKAN
twitter facebook
Rabu, 25 Juli 2012 | 17:07 WIB

Penerimaan Siswa Baru di Kab Bandung Disoal

Oleh: Dani Rahmat Nugraha
Penerimaan Siswa Baru di Kab Bandung Disoal
Meski masa penerimaan siswa baru sudah berlalu dua pekan, namun dinilai masih menyisakan permasalahan hingga saat ini. - istimewa

INILAH.COM, Bandung - Meski masa penerimaan siswa baru sudah berlalu dua pekan, namun dinilai masih menyisakan permasalahan hingga saat ini.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Remaja dan Anak Indonesia (Sahara) Kabupaten Bandung menyatakan sejumlah Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) melakukan penerimaan siswa baru melebihi kuota dan melanggar ketetapan Perbup 34/2010 tentang Wajar Dikdas 12 tahun.

"Dalam Perbup tersebut, dijelaskan bahwa satu SMPN itu kuotanya adalah untuk 9 kelas dengan jumlah siswa per kelasnya adalah maksimal 48 orang siswa didik. Tapi pada kenyataannya, banyak sekolah yang menerima siswa baru sampai dengan 10 hingga 12 kelas, itu jelas melanggar Perbup 34/2010 tentang wajar Dikdas 12 tahun," kata Koordinator LSM Sahara Agus kepada INILAH.COM, (25/7/2012).

Menurut Agus, hal ini terjadi di hampir semua SMPN di Kabupaten Bandung, seperti di antaranya adalah di SMPN I, II, dan III Soreang.

Agus menduga membengkaknya jumlah siswa di setiap sekolah ini dikarenakan banyaknya siswa titipan dari pihak-pihak tertentu. "Saya pikir ini gara-gara banyak siswa titipan dari pihak-pihak tertentu. Sehingga, sekolah pun terpaksa menerimanya," terang Agus.

Kepala Sekolah SMPN I Soreang Ading membantah jika siswa baru di sekolahnya melebihi kuota. Jumlah siswa didik baru yang diterimanya saat ini berjumlah 360 siswa didik dengan jumlah 9 kelas atau sama dengan per kelasnya yakni sebanyak 40 orang siswa didik.

"Kalau 10 sampai 12 kelas rasanya tidak mungkin yah. Coba saja 360 bagi 9 kelas, hasilnya 40 orang per kelas," ujarnya.

Meski membantah telah menerima siswa melebihi ketetapan Perbup. Namun, Ading mengakui jika selama ini memang benar pihaknya menerima beberapa siswa titipan dari berbagai pihak. Dimana siswa tersebut masuk ke SMPN I Soreang bukan berdasarkan pasing grade 24,85. Melainkan melalui jalur siswa undangan.

"Memang ada, tapi namanya bukan titipan. Istilahnya calon siswa undangan. Mereka ini berasal dari warga sekitar sekolah, dan hal ini juga ada peraturannya dan di SK-kan oleh Bupati untuk mengakomodir hal seperti ini," jelas Ading.

Sementara itu, Kepala SMPN II Soreang Dedi Tarmedi tidak membantah tudingan dari LSM Sahara ini. Menurutnya, saat ini di sekolahnya terdapat 450 siswa didik baru.

Jumlah tersebut dibagi ke dalam 10 kelas, jumlah siswa didik masing-masing kelasnya beragam, mulai dari 48 siswa, 43 siswa dan 32 siswa. Hal ini dilakukan untuk mengejar target 24 jam mengajar per minggu untuk para guru yang telah bersertifikasi. Selain itu, memang Dedi mengakui, hal ini juga terjadi karena banyaknya siswa titipan dari berbagai pihak.

"Untuk masalah ini saya juga telah melaporkannya kepada pihak Disdikbud dan mereka pun tidak mempermasalahkannya. Karena memang, Kadisdikbud Juhana sebelumnya pun telah menginstruksikan kepada kami, kalau ada hal-hal seperti ini untuk mengajukannya kepada Dinas," ucap Dedi.[jul]

BERITA TERKAIT
Kembali ke atas