NASIONAL

Minggu, 21 Juli 2013 | 04:40 WIB

Halal? Daging Impor Australia Kurang Peminat

Iwan Purwantono
Halal? Daging Impor Australia Kurang Peminat
Daging sapi (Foto: inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - Di balik penolakan daging beku yang diimpor dari Australia dan Selandia Baru, muncul kecurigaan. Bahwa daging yang didatangkan oleh Bulog itu, diragukan secara kualitas serta kehalalannya.

Dari pantauan INILAH.COM di beberapa pasar di Jakarta, konsumen memang kurang tertarik dengan kehadiran daging beku impor itu. Padahal, harganya lebih murah dibandingkan daging lokal. Untuk daging beku dibandrol Rp 80 ribu per kilogram sedangkan local masih diatas Rp 100 ribu per kilogram.

Seperti diungkapkan Abdullah (35) yang ditemui di Pasar Tebet, Jakarta Selatan, mengaku lebih memilih daging lokal walau harganya lebih mahal dibanding daging beku impor.


"Kalau daging impor bentuknya kan sudah berbentuk daging. Dipotongnya kan disana (Astralia dan Selandia Baru). Kita nggak tahu, kapan dipotongnya. Apakah sesuai dengan ajaran Islam. Halal atau tidak," ungkapnya kepada INILAH.COM, Sabtu (20/07/2013).

Pendapat Abdullah, sah-sah saja. Sebagai konsumen, dia berhak atas adanya jaminan untuk barang yang akan dibelinya. Menurut Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, penolakan pedagang atas kehadiran daging beku, tentunya merespon kepentingan konsumen. Bahwa konsumen lebih memilih daging sapi yang berasal dari sapi yang dipotong di rumah potong hewan.

"Adanya penolakan pedagang sapi tentu ada alasannya. Karena konsumen memang inginnya daging sapi segar. Berasal dari sapi bakalan atau sapi impor yang dipotong disini (rumah potong hewan)," paparnya.[dit]
#daging #sapi #halal
BERITA TERKAIT
KPK Selidiki Dugaan Korupsi Gedung IPDN Agam
Emil: Para Petani Harus Sejahtera
Spanduk #2019 GantiPresiden di Puncak Rinjani
PKS Buka Pintu untuk Zulkifli Dampingi Prabowo
(Iklan Mau Nyapres 2019) Ini Komentar Lucu Netizen untuk Sam Aliano
ARB Pamer Foto-foto Bertemu Habibie di Jerman
PDIP Menduga Wiranto-SBY Bahas Soal Cawapres

ke atas