SERBA-SERBI

Minggu, 25 Agustus 2013 | 09:04 WIB

Mengikat Batin dengan Identitas Kesundaan

Doni Ramdhani
Mengikat Batin dengan Identitas Kesundaan
inilah.com/Doni Ramdhani

INILAH.COM, Bandung - Ikat kepala yang menjadi identitas kesundaan tak hanya sekadar aksesori, tapi juga bentuk pengikat kebatinan dan budaya Sunda.

Tampil dengan busana Sunda lengkap dengan iket di kepala saat ini terbilang bukan pemandangan langka. Upaya kalangan tokoh Sunda termasuk jurnalis dalam memperkenalkan identitas kesundaan mulai berbuah manis.

Hasilnya, tak sedikit saat ini kaum adam termasuk kalangan remaja menggandrungi iket sebagai pelengkap penampilan. Padahal, selama hampir beberapa tahun lamanya, identitas kesundaan seolah tenggelam ditelan tren busana modern dengan pernik-perniknya.

Dadang Rohyana (35) dari Komunitas Iket Sunda (KIS) menyebutkan, kini aksesori kepala itu mudah ditemui. Selain iket lepasan, berupa helaian kain berukuran persegi, pihaknya menyediakan iket praktis yang banyak dicari konsumen. "Untuk memproduksi iket ini, kita memberdayakan masyarakat dari ekonomi lemah. Dengan memproduksi iket ini, perekonomian mereka lumayan terbantu," kata Dadang, beberapa waktu lalu.

Mengupas soal iket, masyarakat Sunda tentu tak asing lagi dengan tokoh wayang golek bernama Astrajingga atau dikenal si Cepot. Selain muka merahnya, punakawan Kampung Tumaritis itu tak pernah lepas dari iket kepala.

Tak hanya Astrajingga, dalam kehidupan nyata, iket kepala juga menjadi identitas kesundaan seorang jurnalis nasional Agus Bebeng (34). Pria yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis media massa nasional itu menjelaskan terkait iket yang dipakainya sejak 2000 itu. "Saya memakai iket ini melalui proses yang cukup panjang. Yang pasti, iket ini merupakan identitas kultural Sunda," kata Bebeng kepada INILAH.COM, Senin (21/8).

Dia mengisahkan asal mula penyematan iket sebagai aksesori sehari-hari. Dulu, kata dia, kokolot di sejumlah kampung adat menyuruhnya menggunakan iket. Tak seperti hari ini, saat itu keberadaan iket kepala merupakan barang langka.

"Kalau ditanya sejak kapan, saya sendiri tidak mengingat dengan pasti. Saat itu saya sering mengunjungi sejumlah kampung adat di Jabar. Saat di satu kampung, ada kokolot yang menyuruh saya untuk menggunakan iket, ya saya terus pakai sampai sekarang," tutur Agus Bebeng.

Dia menuturkan, sejak memutuskan untuk memakai iket, dia harus belajar untuk memakai iket yang dikenal banyak jenisnya itu. Tak seperti sekarang di mana iket yang sudah jadi mudah dibeli di mana pun. Dia mengaku, dulu dia harus belajar ke beberapa tokoh masyarakat Sunda.

Tak hanya itu, Bebeng pun menyebutkan banyak orang yang memandang aneh. Bahkan, dia sempat disangka sebagai tukang cincin atau jawara. Dia mengharapkan keberadaan iket itu menyamai apa yang disandang 'udeng', aksesori kepala khas Bali.

Terkait akhir-akhir ini banyak anak muda yang menggunakan iket, dia mengaku hal itu sebagai hal yang positif. Setidaknya, kata dia, anak muda kini bangga dengan lokalitasnya. "Sekarang, pandangan orang terhadap iket kepala itu frame-nya bukan kampungan lagi," imbuhnya.

Meski demikian, pemakaian iket itu tak hanya menimbulkan kesan positif. Pasalnya, kata dia, kini banyak siapa pun bisa memakai iket. Bahkan, preman pun ada yang menggunakannya. Padahal, secara filosofi penggunaan iket itu bukan sekadar mengikat kepala.

"Tapi, iket itu juga untuk mengikat batin kesundaan. Dan, iket yang dipakai itu juga tergantung karakteristik si penggunanya," katanya.

Dari keterangan yang ada, beberapa jenis iket yang dikenal di Tatar Pasundan yakni parekos jengkol, parekos nangka, barangbang semplak, julang ngapak, koncer, kuda ngencar, lohen, kebo modol, kole nyangsang, buaya ngangsar, dan porteng.

Tak hanya itu, terdapat sejumlah jenis iket yang dikenal di beberapa kampung adat. Seperti, parekos gedang yang ditemui di Kampung Ciptagelar, ki parana (Kampung Ciptagelar), udeng (Kampung Ciptagelar), patua (Kampung Ciptagelar), babarengkos (Kampung Ciptagelar), iket adat Kampung Naga, iket Kampung Dukuh, iket adat Kampung Cikondang, dan iket adat Kampung Rancakalong.[jul]

#iket #sunda
BERITA TERKAIT
33 Ribu Lebih Kapal Nelayan Telah Disertifikasi
Pemimpin Harus Jeli dalam Memilih Hakim yang Adil
Banyak Kapal Terbakar di Muara Baru
Trailer & Poster My Stupid Boss 2 Dirilis Hari Ini
Sandi Siap Berhadapan Dengan Ma'ruf
Razer Phone 3 Batal Berbuntut Pekerja di PHK
Perkebunan Sawit Swasta Taat Aturan Bangun Plasma

ke atas