INILAHKORAN.COM - ASPIRASI
twitter facebook
Selasa, 17 September 2013 | 08:45 WIB

Jangan Ada Kecurangan dan Sengketa di Pilkada

Oleh:
Jangan Ada Kecurangan dan Sengketa di Pilkada
istimewa

INILAH, Bandung - Perhelatan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) di dua daerah di Jabar, yakni Kota Bogor dan Kabupaten Majalengka, menyisakan persoalan. Tipisnya jarak keunggulan sang pemenang dengan runner-up, rentan menimbulkan sengketa yang berbuntut gugatan yang dilayangkan ke Mahkamah Agung (MA).

Di Bogor misalnya, dua pasangan calon yakni Bima Arya-Usmar Harman dan Ahmad Ruyat-Aim Halim Hermana bersaing ketat dengan perbedaan suara hanya nol koma sekian persen. Bahkan keduanya sudah saling klaim berhasil memenangi Pilwalkot Bogor Sabtu (14/9). Hasil quick count LSM Lekat, pasangan Ru'yat-Aim unggul 34,04%, disusul Bima-Usman dengan 31,97%. Namun, penghituangn cepat Charta Politika, hasilnya terbalik, Bima-Usmar unggul dengan 35,70% suara. Pasangan Ruyat-Aim hanya meraih 31,8% suara. Bahkan berdasarkan real count yang dilakukan KPUD, Bima-Usmar unggul tipis dengan 33,12% dari Ru'yat-Aim dengan 32,62%.

Tak jauh beda dengan Bogor, hasil Pilbup Kuningan pada Minggu (15/9) pun diprediksi menuai sengketa dan gugatan, siapa nantinya yang akan ditetapkan sebagai pemenang oleh KPUD setempat. Pasangan Utje-Acep Purnama (Utama) dan Momon Rochmana-Mamat Robby (Rochmat) sama-sama yakin memenangi pilkada. Berdasarkan hitung cepat Lembaga Survei Parameter, Utama meraih 44,31% suara sedangkan Rochmat 41,45%.

Yang jelas, quick count siapa pun yang dipakai, hampir dipastikan putusan akhir KPUD Kota Bogor dan KPUD Kabupaten Kuningan yang menetapkan sang pemenang, bakal menuai gugatan. Pasalnya, dengan perbedaan suara sangat tipis, sang runner-up akan berupaya sekuat tenaga untuk mengatrol perolehan suara, salah satunya dengan mencari-cari kesalahan dan selanjutnya melayangkan gugatan ke MA.

Jangankanperbedaan suara yang hanya satu digit, hingga dua digit pun, para pasangan yang kalah selalu mencari-cari alasan untuk melayangkan gugatan. Seperti para pemilih yang tidak terdaftar, banyaknya suara tidak sah, sampai dugaan kecurangan,dan money politics. Kasus seperti itu terjadi di Pilkada Jabar yang dimenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar. Padahal,perbedaan suara dengan peringkat kedua Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki hampir mencapai 7%. Atau Pilwalkot Bandung yang dimenangkan Ridwan Kamil-Oded M Danial dengan 44,57%. Gugatan dilayangkan oleh enam pasangan yang kalah, padahal perbedaan suara terdekat saja mencapai hampir 30%, yakni pasangan Ayi Vivananda-Nani Suryani Rosada dengan 15,35%.

Dalam kasus dua pilkada terbaru ini, bukan hanya gugatan yang membayangi, namun juga kekhawatiran terjadi kecurangan saat penghitungan manual yang dilakukan KPUD, dengan mengarahkan kemenangan ke salah satu pasangan kandidat.

Menyikapi hal itu,tentunya semua pihak harus bisa berpikir jernih dan jujur. Pada pasangan calon harus lebih bersabar, tidak perlu dulu memproklamirkan diri sebagai pemenang sebelum hasil rekapitulasi suara ditetapkan KPUD. Pihak KPUD pun harus berlaku jujur, jangan sampai disusupi kepentingan tertentu untuk memenangkan salah satu pihak.

Dan yang paling penting adalah, siapa pun nantinya yang ditetapkan sebagai pemenang oleh KPUD, pihak yang kalah harus secara lapang dada mengakuinya, jangan mencari-cari alasan untuk melayangkan gugatan. [den]

BERITA TERKAIT
Kembali ke atas