LIFE STYLE

Selasa, 01 April 2014 | 08:07 WIB

TB, Bakteri Lebih Cepat Terdeteksi

Ricky Reynald Yulman
TB, Bakteri Lebih Cepat Terdeteksi
ilustrasi

PEMBERIAN obat yang tepat pada pasien Tubuerkulosis (TB) dilakukan seorang dokter jika sudah ada hasil uji laboratorium.

Sampai sekarang Tuberkulosis (TB) Paru masih menjadi salah satu penyakit menular mematikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Seseorang bahkan bisa mudah terinfeksi TB hanya karena menghirup udara yang terkontaminasi Mycrobacterium Tuberculosis (MTB).

Seorang penderita TB Paru aktif bisa menularkan bakteri TB melalui udara ketika dia sedang batuk, bersin, atau membuang dahak (sputum) di sembarang tempat.

Kepala Instalasi Laboratorium RS Paru dr HA Rotinsulu, dr Irmawanty Setiaputri SpPK MKes mengingatkan, selain menganalisa sejumlah gejala klinis, tes laboratorium bagi terduga penderita TB juga sangat penting dilakukan.

Seorang dokter tidak akan memberi obat tertentu kepada pasien yang diduga terinfeksi bakteri TB. Tes laboratorium membantu dokter memberi obat yang tepat, kata Irmawanty di sela-sela Seminar Kedokteran Diagnostik dan Penatalaksanaan TB Paru Terkini Melalui Penggunaan Penunjang Medis di RS Paru dr HA Rotinsulu Jalan Bukit Jarian No 40, Ciumbuleuit, Kota Bandung, Kamis (27/3) siang.

Melalui uji laboratorium, dokter akan mencari tahu dan memastikan apa bakteri yang menginfeksi paru-paru si pasien benar-benar bakteri TB atau jenis bakteri lain. Juga untuk mengetahui resistansi bakteri terhadap obat antituberkulosis (OAT).

Salah satu kunci dalam penatalaksanaan TB Paru adalah, kita harus benar-benar menemukan kuman atau bakteri penyebab infeksi. Maka perlu dilakukan tes di laboratorium diagnostik TB level I, II, dan III, jelas perempuan berkerudung ini.

Lalu, apa saja yang diperiksa di laboratorium? Uji yang umum dilakukan pasien suspek TB Paru yaitu pemeriksaan apus langsung Bakteri Tahan Asam (BTA) atau pewarnaan Ziehl Nielsen. Teknik ini sederhana dan mudah, tetapi perlu jam terbang tinggi bagi pemeriksanya, jelas Irmawanty.

Selain itu diperiksa juga tiga spesimen sputum tiga kali berturut-turut. Meski bisa dilakukan memakai alat sederhana, cepat, dan spesifitas tinggi, ada beberapa kelemahan.

Di antaranya sensitivitas hanya berkisar 30-60%, jumlah spesimen harus cukup banyak 5.000-10.000 bacilli per ml sampel (beberapa literatur 100.000/mL). Kemudian false positif (tidak dapat membedakan spesies mikrobakterium TB atau Non TB/NTM). Selain itu 50% pasien TB akan hilang (tidak terdiagnosis TB) bila pemeriksaan hanya dengan apusan langsung.

Untuk mencapai tingkat akurasi yang lebih tinggi, ada satu metode lain yang sudah direkomendasi World Health Organization (WHO) sejak 2007. Metode ini dikenal sebagai Kultur TB Media Cair. Di dalam media cair ini sudah ada penyaring bakteri TB dengan yang lain, suplemen makanan, hingga antibiotik, ujarnya.

Irmawanty menambahkan, pengembangan kultur memakai media padat bisa memakan waktu hingga delapan minggu. Sedangkan penggunaan media cair bisa dilakukan hanya dalam waktu 40 hari dan bisa dipastikan apa seseorang benar-benar terinfeksi bakteri TB.

Meski lebih akurat dan waktu pengujian lebih cepat, biaya penggunaan media cair dalam pembiakan kultur MTB ini memang masih relatif mahal. Di Jawa Barat baru RS Paru dr HA Rotinsulu yang sudah bisa menggunakan metode ini, karena kami sudah punya mesin khusus Mycobacterium Growth Indicator Tubes (MGIT)dengan teknologi terbaru untuk melaksanakan metode ini, ungkap Irmawanty. [rni]

#tb #bakteri #terdeteksi
BERITA TERKAIT
Profesor Geothermal Selandia Baru Puji Kamojang
Barca Disarankan Mulai Berusaha Rekrut Isco
Batik Air Buka Rute Jakarta-Banyuwangi
Tim Prabowo Anggap Aneh Kotak Suara dari Kardus
(Jokowi Ganti Nama) MUI: Nama Itu Sebuah Doa dan Keindahan
Messi Punya Sesuatu yang Tak Dimiliki Pemain Lain
Tertutupnya Salah Satu Pintu Surga

ke atas