LIFE STYLE

Minggu, 20 April 2014 | 22:09 WIB

Aneka Rasa Puyuh Istimewa di Warung Sangrai

Doni Ramdhani
Aneka Rasa Puyuh Istimewa di Warung Sangrai
inilah.com/Syamsuddin Nasoetion


BIASANYA, jika mendengar puyuh dipastikan pikiran kita mengarah kepada telur. Namun, sebenarnya puyuh merupakan hewan pedaging dengan kandungan protein tinggi dan berkolesterol rendah yang menyehatkan bagi tubuh.

Istimewanya lagi, di Warung Sangrai yang terletak di Jalan Banda Kota Bandung ini, semua proses hidangan melalui cara disangrai yang notabene minim minyak. Dengan demikian, makanan yang disajikan relatif lebih sehat untuk tubuh.



Tak cuma jenis burung puyuh lokal, di kedai yang berdekatan dengan factory outlet (FO) The Heritage ini pun menyediakan daging puyuh Prancis. Bobot dagingnya pun lebih besar.

Manajer sekaligus Head Chef Warung Sangrai Ricky Atmadjaja menyebutkan, daging puyuh lokal berbobot 120 gram/ekor. Sedangkan, untuk puyuh Prancis beratnya sekitar 200 gram per ekor.

"Di sini, untuk kedua jenis daging puyuh itu kita memilik 5 macam menu istimewa. Di antaranya, puyuh original, puyuh goreng kecap, puyuh krispi, puyuh rawit, dan puyuh cabai garam," kata Ricky kepada INILAH.COM saat ditemui di gerainya beberapa waktu lalu.

Keistimewaan lainnya, setiap daging puyuh yang disajikan ini terbilang segar tanpa diungkep seperti biasanya. Daging puyuh segar itu sebelum disajikan melalui proses marinasi dengan cara direndam dengan berbagai bumbu rempah-rempah. Dengan karakteristik daging puyuh yang gurih itu semakin ciamik dengan proses marinasi tersebut.

Setelah dimarinasi, daging puyuh pun digoreng sebentar, sekitar 30 detik hingga 1,5 menit lamanya dengan suhu 100 derajat Celsius. Selanjutnya, daging diangkat dan dihilangkan kandungan minyaknya.

"Setelah itu, daging tinggal disangrai dengan bumbu yang diiginkan pengunjung. Karena semua proses masak disangrai, di sini kita menyajikan healthy food. Apalagi, daging puyuh itu sendiri sebenarnya makanan sehat," ucap pria bertubuh tinggi besar ini seraya menyebutkan dengan proses sangrai itu pihaknya ingin menonjolkan makanan khas Indonesia.


Secara filosofi, sangrai itu relatif lebih sehat karena tidak banyak mengandung minyak dalam setiap menu makanan.

Untuk menu original, puyuh yang disajikan hanya disangrai begitu saja. Sedangkan, untuk puyuh goreng kecap (gocap) disangrai dengan racikan kecap.

Untuk penikmat pedas, menu puyuh rawit dan cabai garam merupakan dua menu yang patut dicoba. Sebab, puyuh rawit rasanya lebih ke arah pedas dan gurih dimana saat digigit rasa pedasnya nempel. Cabai rawit yang dipakai yakni jenis rawit hijau dan domba.

"Untuk puyuh cabe garem itu rasanya pedas mengarah ke asin. Sedangkan, untuk puyuh krispi itu dagingnya dibaluri tepung yang diracik dengan rempah-rempah alami," tambah Ricky.

Sebagai menu pendamping, Warung Sangrai menyajikan hal yang lebih tradisional. Menurut Ricky, tak lengkap rasanya menyajikan menu daging burung tanpa sarang. Untuk itu, menu yang disebut Sarang menjadi pelengkap.

Pendamping itu berupa tahu goreng, tempe kriuk, kol goreng, dan lalapan sayur. Dengan tagline Orang Indonesia Asli Makan Pakai Tangan, Ricky menyebutkan pengunjung menyantap makanan dengan cara tradisi tanpa sendok dan garpu.

Sebagai informasi, kedai berkapasitas 60 seats ini buka setiap hari mulai pukul 08.30-21.30 WIB. Untuk di akhir pekan, waktu buka lebih lama hingga pukul 22.00 WIB. Daging puyuh didatangkan langsung dari pemasok asal Yogyakarta.

Harga yang dibanderol pun relatif terjangkau. Untuk menikmatinya, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp23.000-25.000 per porsi. Mengenai perbedaan harga, puyuh Prancis hanya dibanderol Rp6.000 lebih mahal dibandingkan dengan puyuh lokal. [hus]
#kuliner #puyuh
BERITA TERKAIT
Fendy Chow Tak Mau Ditinggal Stella Cornelia
6,5 Hektare Hutan di Nagan Raya Terbakar
Rio SB Juarai Seri Ketiga HJSC 12 dan ITCC 1.500cc
KPK Cegah Keponakan Novanto
Giroud Siap Bersaing dengan Lacazette
TNI/Polri Rutinkan Patroli Karhutla di Sumsel
Pengacara Sukses, Maruli Tampubolon Pilih Bermusik

ke atas