NASIONAL

Rabu, 09 Desember 2009 | 11:12 WIB
(Bagian 1: Mewaspadai Gerakan Massa Aksi)

Pengkhianat di Ring-1 Istana?

im sumarsono
Pengkhianat di Ring-1 Istana?
(ALM) Soemitro

INILAH.COM, Jakarta - Ini sebuah refleksi. Pada masa pemerintahan Soeharto, beberapa orang di Ring-1 Istana punya peran penting menggerakkan situasi di luar. Termasuk merekayasa aksi dan reaksi. Instrumen intelijen digunakan. Targetnya, membangun kekuasaan kelompok.Tanggal 16 Januari 1974, Jenderal Soemitro datang ke Istana Negara menghadap Presiden Soeharto. Dia melihat ada Ali Moertopo, orang yang begitu penting bagi setiap keputusan yang diambil Pak Harto.Hari itu, Jenderal Soemitro menyampaikan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Dia juga menolak tawaran untuk menjadi Duta Besar di Amerika.Soemitro, mengaku telah gagal menjalankan tugas. Sehari sebelumnya, tanggal 15 Januari 1974, telah terjadi aksi massa yang berujung pada kerusuhan. Seorang mahasiswa, Arief Rahman Hakim gugur.Pak Harto sempat mencegah. Tapi Soemitro telah mengambil keputusan. Jenderal yang dikenal dekat dengan aktivis mahasiswa kala itu, sempat melapor kepada Pak Harto tentang siapa yang berada di balik kerusuhan:''Ada orang-orang eks Partai Sosialis Indonesia yang terlibat.''Beberapa tahun kemudian, Soemitro yang sudah jadi pengusaha dan Pak Harto yang tetap berkuasa, membuka beberapa kesaksian tentang peristiwa 15 Januari 1974, yang akhirnya dikenal sebagai peristiwa Malari.Bahwa, di balik peristiwa itu, ada rangkaian pekerjaan intelijen yang memang dibangun untuk membenturkan pihak-pihak, yang dianggap mengancam kekuasaan. Tidak peduli, pihak itu adalah bagian dari pemerintahan itu sendiri.Soemitro mengerucutkan kesaksiannya itu pada suatu kelompok elite yang berada di Ring-1 Istana Negara. Mereka adalah sekelompok orang yang kemudian mendapatkan mandat untuk melakukan kegiatan intelijen. Namanya: Komando Opsus

Nama yang dimaksud oleh Soemitro adalah Ali Moertopo, seorang jenderal bintang dua, yang punya akses langsung ke Pak Harto dan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan Presiden.Waktu itu, banyak orang mencurigai bahwa Ali Moertopo adalah durno. Dia menggerakkan seluruh lembaga melalui operasi intelijen dan membentuk kader di semua lini. Tujuan akhirnya adalah Kepemimpinan Politik Negara.Soemitro tidak punya masalah secara pribadi dengan Ali Moertopo. Tapi setelah Soemitro mundur, dia melihat bahwa langkah-langkah Ali Moertopo melakukan operasi intelijen untuk membangun kekuasaan sekelompok orang, sangat berbahaya bagi kepemimpinan Pak Harto. Itu adalah pengkhianatan sistemik yang dibangun melalui operasi intelijen, yang disamarkan untuk tujuan mengamankan kekuasaan Presiden Soeharto. Caranya, dengan menggerakkan aksi-aksi politik di luar istana, untuk kemudian saat muncul, akan dibalas dengan reaksi kekuasaan dari Istana.Melalui operasi intelijen, Ali Moertopo membangun kelompok-kelompok intelektual kampus, kemudian merembet menjadi kelompok-kelompok aksi yang melibatkan aktivis jalanan dan kelompok-kelompok radikal yang pada akhirnya bergerak dan melakukan aksi untuk kepentingan operasi intelijen Ali Moertopo sendiri.''Ali Moertopo memperkuat kekuasaannya melalui dua lembaga. Yang pertama adalah lembaga resmi, yaitu Opsus, yang kemudian berfungsi menjadi Asisten Pribadi (Aspri) bagi Presiden. Yang kedua adalah lembaga intelektual, yang menjadi lembaga think-tank,'' demikian ditulis Jenderal (pur) Soemitro dalam memoarnya.''Saya dapat laporan yang bermacam-macam mengenai lembaga studi yang dimaksud. Antara lain, siapa di belakangnya. Menurut laporan intelijen, disebut-sebut nama Peter Beek. Seorang agen rahasia yang menyamar dan di tempatkan di Indonesia.''''Saya diberitahu bahwa lembaga studi ini dibentuk oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, bersama-sama beberapa golongan yang berafiliasi ke Peter Beek. Begitu Alie Moertopo menjadi komandan Opsus, dia sudah didukung oleh 200 sarjana terpilih.''''Orang kemudian mempercayai, bahwa gerakan intelijen dengan orang-orang yang berlatar belakang intelektual tinggi, akan lebih hebat dibanding gerakan intelijen Mosad di Israel atau CIA sekalipun. Mereka hebat karena bisa menyusup kemana-mana. Tidak kelihatan.''[bersambung/ims]

#ring 1 istana #presiden sby
BERITA TERKAIT
Tim Prabowo Anggap Aneh Kotak Suara dari Kardus
(Jokowi Ganti Nama) MUI: Nama Itu Sebuah Doa dan Keindahan
Andi Arief: KPU Bikin Keributan Baru Soal Kardus
(Jokowi Ganti Nama) MUI: Ganti Nama itu Tidak Masalah
Manuver La Nyalla Justru Jadi Bumerang Ke Jokowi
Sandi Janji Perketat Pekerja Asing Masuk Indonesia
Gempa 5,2 SR Guncang Gorontalo Dinihari

ke atas