EKONOMI

Minggu, 22 Maret 2015 | 08:58 WIB

Jakarta Harus Bangun Identitas Berdaya Saing

Arief Bayuaji
Jakarta Harus Bangun Identitas Berdaya Saing
(Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Jakarta - Jakarta harus membangun identitas dari pencarian dan penguatan identitas Jakarta yang berdaya saing. CEO Makna Informasi M Rahmat Yananda menegaskan itu saat diskusi 'Identitas Jakarta: Inisiasi Program Rebranding Jakarta' gelaran Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jakarta.

"Citra Jakarta dipersepsikan dominan negatif. Warga kota merasakan langsung efek negatif kesemrawutan kota ketika bepergian dan beraktivitas. Efek yang sama juga dirasakan ketika warga mendapatkan pelayanan publik. Secara tidak lansung, persepsi negatif juga terbangun karena pemberitaan tentang Jakarta dengan nada yang negatif, atau melalui percakapan di media sosial. Semua ini membangun citra Jakarta. Dan upaya melakukan branding Jakarta menjadi mendesak," kata Rahmat Yananda di Jakarta, baru-baru ini.

Rahmat menegaskan bahwa identitas, sumber terpenting branding kota. Identitas, papar dia, menjelaskan berbagai persamaan dan perbedaan kota-kota.

"Persamaannya terletak pada fungsi-fungsi pelayanan yang dimiliki suatu kota seperti ekonomi, transportasi, pendidikan, keamanan dan lain- lain. Perbedaannya terletak pada persepsi dan pemaknaan pemangku kepentingan kota terhadap fungsi tersebut. Makna yang hadir akan berbeda karena kualitas kinerja fungsi layanan juga berbeda. Misalnya, perbandingan fungsi layanan transportasi dan pelayanan publik antara Jakarta dan Singapura," jelas Rahmat.


Ia menambahkan bahwa fungsi layanan kota berdaya saing adalah prasyarat dasar membangun brand kota kompetitif, seperti kota-kota utama global dan regional. Identitas kota berdaya saing membuka ruang kota memposisikan dan mendapatkan citra positif. "Misalnya Singapura yang diasosiakan sebagai kota yang memiliki tata kelola yang berdaya saing menjadi lokasi kantor untuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi secara global. Karenanya, Jakarta harus banyak belajar dari kota-kota tersebut," tegas dia.

Menurut dia, identitas sejarah, kondisi alam serta geografi, budaya dan keragaman warga kota masih penting sebagai sumber awal identitas suatu kota karena berpotensi diferensiasi. Akan tetapi, terang dia, sumber-sumber tersebut dapat berkurang relevansinya.

"Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah mendorong perubahan ekonomi yang menuntut kualitas tertentu dari kota dan warganya karena adanya kebutuhan untuk memenangkan persaingan ekonomi. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi juga mulai mengurangi keunggulan kota karena lokasi dan jarak. Tidak heran Singapura melakukan rebranding dirinya dari kota berbasis ekonomi jasa dan perdagangan karena lokasi yang strategis menjadi kota berbasis ekonomi pengetahuan, kreativitas dan budaya, tutur dia.

Ia juga mengingatkan, pemangku kepentingan utama dalam branding kota adalah warga. Ia bilang, walaupun branding kota meminjam perangkat pemasaran tidak berarti warga diperlakukan melulu sebagai konsumen.

"Konsumen mendapatkan haknya karena membayar. Sedangkan warga atau citizen tidak harus selalu membayar untuk mendapatkan pelayanan kota karena sebagian pelayanan kota sudah menjadi hak yang melekat pada warga. Prinsip-prinsip pelayanan konsumen yang baik harus dikedepankan," kata dia. [aji]
#jakarta #m rahmat yananda #iai
BERITA TERKAIT
Menkop Percepat Program IUMK dan Hak Merek
Sri Mulyani Ingin Pengelolaan APBN yang Jelas
Bea Cukai Dumai & Bengkulu Musnahkan Barang Ilegal
(Deteksi Barang 'KW') Inilah Kecanggihan Lab Bea Cukai
PLN Siapkan 1.139 Personel Jelang Natal
Dikuasai Produk China, Impor Sulsel Turun 32,14%
Rencana Akuisisi Go-Pay Dipelajari BI, OJK Kemana?

ke atas