GAYA HIDUP

Rabu, 20 April 2016 | 20:08 WIB

Pembangunan Destinasi, Cerminkan Kearifan Lokal

Pembangunan Destinasi, Cerminkan Kearifan Lokal
Menteri Pariwisata Arief Yahya (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta Pembangunan 10 top destinasi, homestay dan toilet bersih di berbagai kawasan wisata harus mencerminkan kearifan lokal dengan sentuhan arsitektur tradisional.

Pengembangan 10 Top Destinasi dan semua destinasi harus mengikuti arsitektur Nusantara, supaya punya ciri khasnya, ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, saat menyampaikan kesan dan pengalamannya usai berkunjung ke Negeri Tirai Bambu Tiongkok, kemarin.

Ia memaparkan, Kementerian Pariwisata akan berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU PR) dan Kementerian BUMN, yang membawahi BTN-Bank Tabungan Negara, untuk membangun homestay dan toilet bersih di destinasi. Sejumlah 10 persen dari total 1 juta rumah, program Kemen PUPR itu akan diproyeksikan ke Kemenpar untuk membangun homestay dan toilet bersih. Kami sudah sepakat, arsitekturnya harus memperkuat posisi destinasi itu dalam budaya arsitektural, kata dia.

Ia memaparkan pengalamannya saat mengunjungi Tiongkok. Ada satu hal yang perlu dicontoh yakni ornament dragon atau dua naga dengan kepala saling berhadapan di atap luar rumah-rumah warga. Semua rumah, tidak terkecuali, mau kecil, besar, lama, baru, modern, tradisional, menggunakan ornament itu. Lalu, tembok bagian atasnya selalu ditutup dengan genting, yang ujung depan belakangnya selalu ada lekukan.

Arsitektural rumah di Tiongkok masih mempertahankan adat dan setia dengan kebudayaan yang sudah berturun-turun dipercaya leluhurnya. Konsep inilah yang dia sebut sebagai local wisdom, kearifan local. Menggunakan sentuhan tradisi Tiongkok yang ujungnya melengkung naik, estetika oriental.

Ia mencontohkan dengan di Indonesia, di kawasan Borobudur, begitu masuk dari jalan Yogya-Magelang, menuju Mungkid, seharusnya sudah ada ornament yang memperkuat dengan permainan batu dan candi-candi. Dengan begitu, Borobudur tidak seperti alient, semacam makhluk angkasa luar yang tiba-tiba datang sendiri turun dari langit, jelas Arief Yahya.

Indonesia punya ratusan gaya arsitektur rumah adat, dari Batak, Palembang, Padang (Minang Kabau) Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, Pendapa Joglo Jawa, Betawi, Saung di Jabar, Madura, Jawa Timuran, Bali, NTB, NTB, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua. Semua itu memiliki daya pikat yang sangat kuat, sebagai produk budaya yang sudah ratusan tahun turun-temurun di sana. Sudah teruji paling tahan dengan cuaca ekstrem sekalipun.

Di Pantura, dari Demak, Kudus, Pati, Rembang, Jepara dan ke selatan sampai Grobogan masih dapat ditemui atap rumah seperti wayang kulit, yang dinamakan genting Kudusan. Ada genting kelir di center, lalu genting pengapit kiri dan kanan, ujung-ujungnya genting bulusan, dan di paling sudut bawah dinamakan genting cungkrik.

Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan kepada Menteri PU PR Basuki Hadimuljo dan Menpar Arief Yahya agar kota seperti Bukit Tinggi, Sumatera Barat tetap melestarikan gonjong berbentuk seperti tanduk kerbau dengan ujung yang runcing. Bukit Tinggi bisa kehilangan karakter khasnya, jika tidak mengakses hal-hal seperti ini. China juga membuktikan, bahwa mereka juga concern di budaya arsitektura. Termasuk aktivitas yang ada di dalam area kampung wisata itu," tuturnya. [*]

BERITA TERKAIT
Ciptakan Suasana Kerja Seru di Coworking Space
Tips Mudah Atasi Adiksi Anak Terhadap Mainan
Jual Batam-Bintan, Kemenpar Gandeng Scoot Airlines
Sebelum Beli Mainan, Ini yang Harus Diperhatikan
Jangan Beri Gadget Anak Sejak Dini
Dengan Bermain, Emosi Anak Semakin Berkembang
Bermain Bagian dari Belajar

ke atas