MOZAIK

Jumat, 03 Maret 2017 | 17:00 WIB
(3 Maret 1924, Runtuhnya Khilafah Islamiah)

Yahudi yang Turut Serta Memecat Sultan

Yahudi yang Turut Serta Memecat Sultan
(Foto: Ilustrasi)
DI antara bunyi fatwa Syeikh Hamdi adalah berikut:

Jika pemimpin umat Islam mengambil kiat-kiat agama yang penting dari kitab-kitab hukum dan mengumpulkan kitab-kitab tersebut, memboroskan uang negara dan terlibat dengan perjanjian yang bertentangan dengan hukum Islam, membunuh, menangkap, membuang negeri dan rakyat tanpa alasan apapun, maka berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi dan jika masih kelakuannya untuk menyakitkan kondisi umat Islam di seluruh dunia Islam maka pemimpin ini harus disingkirkan dari jabatannya. Jika penyingkirannya akan membawa kondisi yang lebih baik dari beliau terus kekal, maka ia memiliki pilihan apakah mengundurkan diri atau disingkirkan dari jabatan.

Sebuah fatwa yang aneh ditujukan pada seorang Sultan yang memiliki reputasi dan akhlak yang baik. Menariknya, empat utusan parlemen; Emmanuel Carasso, seorang Yahudi warga Italia dan wakil rakyat Salonika (Thessaloniki) di Parlemen Utsmaniyyah, melangkah masuk ke istana Yildiz. Turut bersamanya adalah Aram Efendi, wakil rakyat Armenia, Laz Arif Hikmet Pasha, anggota Dewan Senat yang juga panglima militer Utsmaniyyah, serta Arnavut Esat Toptani, wakil rakyat daerah Daraj di Meclis-i Mebusan. Mereka akhirnya mengkudeta Sultan. Negara telah memecat Anda!


Negara telah memecatku, itu tidak masalah, tapi kenapa kalian membawa serta Yahudi ini masuk ke tempatku? Spontan Sultan marah besar sambil menudingkan jarinya kepada Emmanuel Carasso. Sultan kenal betul siapa Emmanuel Carasso itu. Dialah yang bersekongkol bersama Herzl ketika ingin mendapatkan izin menempatkan Yahudi di Palestina. Malam itu, Sultan bersama para anggota keluarganya yang hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan diangkut di tengah gelap gulita menuju ke Stasiun kereta api Sirkeci. Mereka digusur pergi meninggalkan bumi Khilafah, ke istana kumuh milik Yahudi di Salonika, tempat pengasingan negara sebelum seluruh khalifah dimusnahkan di tangan musuh Allah.

Khalifah terakhir umat Islam dan keluarganya itu dibuang ke Salonika, Yunani. Angin lesu bertiup bersama gerimis salju di malam itu. Pohon-pohon yang tinggal rangka, seakan turut sedih mengiringi tragedi memilukan itu. Atas peristiwa ini, Sultan Abdul Hamid II mengungkap kegundahan hatinya yang dituangkan dalam surat kepada salah seorang gurunya Syeikh Mahmud Abu Shamad.

[baca lanjutan: 3 Maret 1924, Runtuhnya Khilafah Islamiah: Surat Pilu Sultan Abdul Hamid II untuk Gurunya]
#khilafah #sultanabdulhamidii #3maret1924 #negaraisla
BERITA TERKAIT
Nabi Isa, dan Sahabatnya yang Bangga Diri
Ketika Rasulullah Marah kepada Umar
Kemana Saja Engkau Menghadap, Itulah Wajah Allah
Rasulullah Pernah Lupa Salat Zuhur Lima Rakaat
Tips Utama Menjadi Pribadi Berhati Bahagia
Perumahan Tanpa Kegaduhan
(Syair) Maafkan Kami Rohingya

ke atas