PASAR MODAL

Senin, 20 Maret 2017 | 15:30 WIB

China dan Saudi Tingkatkan Kerja Sama Bisnis

Monica Wareza
China dan Saudi Tingkatkan Kerja Sama Bisnis
(Foto: Lintao Zhang/Getty Images)


INILAHCOM, Beijing - Sebuah perjanjian baru antara perusahaan utama Saudi dengan perusahaan terbesar China menjadi bukti peningkatan kolaborasi strategis antara kedua negara.

Saudi Basic Industries Corporation (SABIC), sebuah perusahaan manufaktur di bidang kimia dan lainnya, menandatangani perjanjian dengan perusahaan milik negara China, Sinopec Group pada Kamis (16/3/2017) untuk proyek-proyek kolaborasi baru dan berpotenasi meningkatkan investasi dalam usaha kolaborasi yang telah ada.



"Saya pikir hal ini tidak terlalu mewakili pergeseran bahwa bisnis Saudi mulai mendekati China. Tetapi membawa ke tahap berikutnya kolaborasi yang telah ada, antara Saudi dan China, dan secara khusus antara SABIC dan Sinopec," kata Yousef Abdullah Al-Benyan, CEO Sabic saat menghadiri China Development Forum seperti mengutip cnbc.com, Senin (20/3/2017).

Salah satu komponen kunci dari kesepakatan iu adalah keinginan untuk memperluas kolaborasi teknologi dan inovasi dari kedua perusahaan. Benyan mengatakan dimensi ini menjadi sangat penting karena keinginan politisi China utnuk bergerak dari produksi produk rendah ke pertengahan hingga high end melalui inovasi teknologi.

"Saya pikir kami ingin menangkap untuk menjadi bagian dari pertumbuhan di China. Dan di saat bersamaan, Sinopec juga menemukan SABIC sebagai pintu gerbangnya memasuki Kerajaan Arab Saudi dalam hal kesempatan dan investasi," katanya.


Benyan mengatakan saat ini adalah saat yang tepat bagi perusahaan China untuk melihat investasi di Arab Saudi karena "Visi Saudi 2030" adalah rencana pemerintah untuk diversifikasi ekonomi.

"Saudah sangat jelas China ingin meningkatkan lingkungan bsinis di Arab Saudi. Mereka ingin membuka peluang bisnis uang serius dimasa yang akan datang, mengubah praturan dan membawa program lebih insentif, China lebih kuat di bidang pemerintahan dan transparansi. Dan saya pikir ini akan menarik banyak orang untuk mengambil kesempatan dan mencapai misi di 2030 nanti," katanya.

Bahkan, Benyan mengatakan ia tidak akan terkejut jika investor China terlibat dalam bisnis Saudi lainnya. Termasuk perusahaan energi besar seperti Aramco dan dari sektor konstruksi atau perawatan kesehatan.

"Saya pikir ada begitu banyak kesempatan bahwa saya tidak akan terkejut melihat banyaknya perusahaan China yang akan datang ke Saudi," tambahnya.

Disinggung mengenai minyak, Benyan mengatakan stabilitas harga menjadi kunci utamanya. "Tentu saja lebih tinggi lebih baik bagi kita, tetapi kita perlu harga minyak stabil, tidak hanya untuk kita dan input biaya, tetapi juga untuk output dan pelanggan," katanya.

Benyan mengatakan ia melihat di 2017 ini sangat positif dan kemungkinan harga minyak untuk stabil dnegan kisaran harga US$50 hingga US$60 per barel. [hid]
#bursasaham #ihsg #dolarrupiah #dolar as #aramco
BERITA TERKAIT
Bursa AS Coba Cari Sentimen Positif
Inilah Pemicu Bursa Saham Asia Berakhir Variatif
Impor Minyak China Naik 15,4% di Bulan Mei
Bursa Eropa Tergelincir di Awal Sesi
Minyak Mentah di Asia Naik Tipis
Temasek: Potensi Krisis China Masih Jauh
Bursa Saham Asia Bergerak Variatif

ke atas