EKONOMI

Selasa, 21 Maret 2017 | 02:05 WIB

Duh, Utang Kok Terus Meningkat

Latihono Sujantyo
Duh, Utang Kok Terus Meningkat
(Foto: inilahcom)


INILAHCOM, Jakarta -- Utang pemerintah terus bertambah. Dikhawatirkan beban cicilan pokok dan pembayaran bunga akan terus meningkat dan akhirnya kita mengalami oleng.

Janji Jokawi saat kampanye untuk tidak menambah utang baru tampaknya belum terbukti. Lihat sampai akhir Februari 2017 utang pemerintah pusat sudah mencapai Rp 3.589,12 triliun, atau naik sebesar Rp 39,95 triliun (1,13%) dibandingkan bulan sebelumnya.



Kenaikan itu berasal dari naiknya Surat Berharga Negara (SBN) Rp 33,09 triliun dan bertambahnya pinjaman Rp 6,86 triliun. Belakangan, pemerintah gemar menerbitkan SBN.

Tampaknya, pemerintah sudah tak melihat cara lain untuk memenuhi kebutuhan anggaran. Istilahnya, uang setan pun ditabrak asalkan kebutuhan minimal terbayar. Dikatakan minimal, lantaran efisiensi sudah dilakukan dimana-mana dengan memangkas anggaran belanja.

Jadi bisa dibayangkan, betapa prihatinnya negara kita yang kaya raya ini, sudah mengirit pun utangnya semakin besar. Padahal disadari atau tidak, penambahan utang ini menyimpan segudang risiko bagi kesehatan fiskal. Dalam jangka panjang utang tidak lagi hadir sebagai obat, karena beban bunga dan cicilan pokok bisa semakin mencekik anggaran pemerintah.


Memang, saat ini pemerintah sedang banyak membutuhkan dana untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur, yang lima tahun ke depan mencapai Rp 5.000 triliun. Tahun ini saja dibutuhkan dana infrastruktur sekitar Rp 1.000 triliun.

Dana sebesar itu berasal dari APBN sebesar Rp 387,2 triliun. Selebihnya berasal dari bantuan anggaran pemerintah daerah, BUMN, kemudian perbankan dan industri keuangan nonbank, serta pasar modal.

Selan itu, masih ada harapan dari progam tax amnesty (pengampunan pajak) yang akan berakhir pada 31 Maret 2017. Hingga hari Senin (20/03/2017) petang, penerimaan uang tebusan mencapai Rp 116 triliun, atau sekitar 70,30% dari target sebesar Rp 165 triliun. Sedangkan deklarasi sudah menembus Rp 4.552 triliun, tapi repatriasi harta baru Rp 145 triliun, atau sekitar 14,5% dari target Rp 1.000 triliun.

Kalau memang begitu, kenapa utang terus ditambah? Sekali lagi, yang dikhawatirkan adalah beban cicilan pokok dan pembayaran bunga akan terus meningkat dan akhirnya kita mengalami oleng. Pemerintah harus tegas menghentikan candu utang sebelum terlambat.[lat]

#utang #naik #pemerintah
BERITA TERKAIT
Utang Tinggi, Tiap Bayi Lahir Berutang Rp16 Juta
Utang Luar Negeri US$328,2M, BI Bilang Masih Aman
Garuda Dikepung Masalah Keuangan, HIPMI Miris
Puja-puji Bank Dunia untuk Sri Mulyani
Sri Minta Kenaikan Anggaran Kemenkeu Rp4,9 T
Jasa Marga Tambah 6 Loket di Cikampek
Proyek Kereta Api Cepat Masih Kurang Lahan

ke atas