EKONOMI

Selasa, 21 Maret 2017 | 06:29 WIB

Kasus Raja Ampat,MV Caledonian Sky Siap Ganti Rugi

Kasus Raja Ampat,MV Caledonian Sky Siap Ganti Rugi
Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan (Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Gresik - Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan meminta pemda introspeksi terkait rusaknya terumbu karang di Raja Ampat akibat tertabrak kapal pesiar MV Caledonian Sky.

"Kita belum hitung kerugian yang disebabkan, belum tahu berapa persisnya. Tapi kita juga instrospeksi kenapa kapal itu bisa lepas. Jadi kita ingin peraturan untuk lebih ketat lagi karena (Raja Ampat) adalah daerah tujuan wisata kita dan terumbu karang di daerah itu termasuk jenis yang langka di dunia," ujar Luhut saat berkunjung ke kawasan industri PT Maspion di Gresik, Jawa Timur, Senin (20/3/2017).

Sementara Humas Kemenko Kemaritiman dalam rilis menyebutkan, kapal pesiar MV Caledonian Sky yang dinakhodai Keith Michael Taylor, kandas tepat di pusat kawasan konservasi perairan Raja Ampat pada awal bulan ini.

Ketika ditanya media apakah pemerintah sudah mengetahui berapa luas kawasan yang rusak karena kapal tersebut, Menko Luhut mengatakan baru mendapat data awal.

"Kemarin saya dapat laporan ada hampir dua hektar, atau sekitar 20 ribu meter persegi karang yang rusak. Tim terpadu kami sekarang sedang menilai dan menghitung, apa saja yang rusak. Dan, bagaimana (kasus ini) ditinjau dari aspek legalnya. Kami sudah berhubungan dengan asuransi kapal tersebut, mereka akan bertanggungjawab atas kerusakan ini," ucap Luhut.

Terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan di Pelabuhan Palaran, Samarinda, Luhut juga komentar. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari usaha pemerintah untuk memerangi inefisiensi yang terjadi selama ini.


"Bagus itu, Pak Menteri Perhubungan kemarin sudah memberitahukan kepada saya bahwa ada sekitar Rp6 miliar lebih yang diamankan. Ini menjadi bagian dari usaha kita membersihkan bongkar muat di pelabuhan yang selama ini terlalu dimonopoli. Kita ingin melakukan efisiensi agar produktivitas terus berjalan," tegasnya.

Akhir pekan lalu, Bareskrim Polri melakukan OTT atas praktik pemerasan, pencucian uang dan premanisme yang dilakukan di wilayah Pelabuhan Palaran Samarinda yang menyebabkan tingginya biaya bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Palaran.

Produk Dalam Negeri Pada kunjungan di kawasan industri Maspion, Menko Luhut melakukan peninjauan ke industri pipa kabel laut dan terminal kendaraan industri. Menko Luhut sempat menuliskan "Produksi dalam negeri dibanggakan" pada sebuah gulungan kabel laut.

Setelah meninjau kawasan industri tersebut, Menko Luhut bertatap muka dengan pimpinan Maspion dan beberapa pengusaha. Pada acara ini para pengusaha menyampaikan usul, bertanya dan menyampaikan keluhan mereka mulai dari birokrasi, pentingnya reklamasi, serta infrastruktur dan transportasi.

Luhut kembali mengingatkan pentingnya peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Menurut dia, kunjungan ini adalah tindak lanjut dari paparan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo beberapa waktu yang lalu di depan Presiden Joko Widodo. "Pokoknya kita tingkatkan penggunaan produk dalam negeri. Kalau bisa pakai produksi dalam negeri, tidak perlu lagi impor," katanya.

Gubernur Jatim Soekarwo, menurutnya telah menghitung bahwa produksi dalam negeri telah memenuhi standar dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Tadi Pak Gubernur katakan kita ingin semampu kita menggunakan produksi dalam negeri. Beliau mengatakan tadi ada sejumlah Rp25 triliun bahan baku yang diimpor, padahal bisa menggunakan produksi dalam negeri. Padahal dengan ini, kita bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan pajak daerah," katanya menambahkan. [tar]
#terumbukarang #menkoluhut
BERITA TERKAIT
Bangun Pabrik Baterai Molis, Luhut Tempel Korsel
Gunung Agung Batuk, Pertemuan IMF-WB Jalan Terus
Di Belanda, Luhut Minta Kampus Gelar Lomba Maritim
Rangkong Gading Butuh Perlindungan Ekstra
KRPL Dorong Masyarakat Produksi Pangan Mandiri
Uji Coba, Tiket KA Bandara di Banderol Rp30 Ribu
Beras TTI Diminati Masyarakat dan Pedagang Kecil

ke atas