PASAR MODAL

Selasa, 21 Maret 2017 | 08:04 WIB

Minyak Mentah dalam Tren Negatif

Wahid Ma'ruf
Minyak Mentah dalam Tren Negatif
(Foto: istimewa)


INILAHCOM, New York - Kekhawatiran terhadap pertumbuhan produksi minyak AS dan melimpahnya pasokan telah memicu penurunan harga minyak mentah pada perdagangan Senin (20/3/2017).

Minyak mentah Brent sempat menembus area positif namun tergelincir lagi ke area negatif. Pemicunya karena OPEC disebut-sebut sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang pengurangan produksi untuk semester kedua tahun ini.



Kenaikan harga minyak sempat terjadi dalam sepuluh hari terakhir. Namun hanya karena kesalahan pasar melihat posisi spekulan besar di posisi bullish meski pasokan minyak tetap tinggi. Minyak mentah justru mengalami rebound setelah terpangkas 10 persen walaupun hanya bergerak singkat.

Analis menilai investor bertindak spekulatif untuk mengurangi posisi bullish dengan tren kenaikan aktivitas produksi minyak mentah AS. Manuver AS terjadi untuk mengimbangi upaya OPEC mengurangi pasokan.


"Saya pikir minyak beraksi masih dengan kenaikan mantap dalam hitungan rig AS. Selain itu ada kesadaran tentang momentum membangun harga ke downside dari reposisi kepentingan spekulasi di pasar," kata John Kilduff, analis di Again Capital yang berbasis di New York seperti mengutip cnbc.com.

Data terakhir pemboran AS bertambah 14 rig minyak untuk pekan per 17 Maret menjadi 631 buah. Angka ini terbesar sejak September 2015.

Akibatnya minyak Brent turun 13 sen ke US$51,63 per barel. Untuk minyak mentah WTI stagnan di US$48,22 per barel.

Upgrade di prospek pasokan non-OPEC juga menyebabkan analis di J.P. Morgan memangkas perkiraan harga mereka tahun 2017 dan 2018 untuk $ 55,75 dan $ 55,50 untuk Brent dan untuk $ 53,75 dan $ 53,50 untuk WTI.
#bursasaham #ihsg #dolarrupiah #dolar as
BERITA TERKAIT
Bursa AS Coba Cari Sentimen Positif
Inilah Pemicu Bursa Saham Asia Berakhir Variatif
Impor Minyak China Naik 15,4% di Bulan Mei
Bursa Eropa Tergelincir di Awal Sesi
Minyak Mentah di Asia Naik Tipis
Temasek: Potensi Krisis China Masih Jauh
Bursa Saham Asia Bergerak Variatif

ke atas