MOZAIK

Senin, 17 April 2017 | 09:00 WIB

Suami Impoten, Bolehkah Meminta Cerai?

Suami Impoten, Bolehkah Meminta Cerai?
(Foto: ilustrasi)
KETIKA suami tidak bisa melakukan hubungan karena sakit atau impoten, sementara istri tidak rida, apakah istri langsung memiliki hak untuk mengajukan khulu (gugat cerai)? Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, istri berhak mengajukan gugat cerai di hakim. Selanjutnya hakim menunggu selama setahun. Jika dalam waktu selama setahun, suami masih tidak menggauli istrinya maka hakim berhak menfasakh (menceraikan) pernikahan. Ibnu Qudamah menjelaskan, "Kesimpulannya, wanita yang melaporkan bahwa suaminya tidak bisa berhubungan karena impoten. (lalu Ibnu Qudamah menjelaskan apa yang harus dilakukan hakim) dan ditunggu selama setahun, menurut pendapat banyak ulama. Sementara diriwayatkan dari al-Harits bin Rabiah, dia ditunggu selama 10 bulan." (al-Mughni, 7/604).

Adanya masa tunggu ini berlaku jika penyakit impoten yang diderita sang suami, memungkinkan untuk disembuhkan. Sehingga jika penyakit impoten itu tidak memungkinkan untuk disembuhkan maka tidak perlu menunggu. Imam Ibnu Utsaimin mengomentari pendapat ini, "Jika dokter yang berpengalaman dan amanah menetapkan bahwa kemampuan seksual suami tidak akan lagi kembali, maka tidak ada manfaatnya dilakukan penantian." (as-Syarh al-Mumthi, 12/207).


Kedua, istri berhak gugat cerai karena suami impoten. Kecuali jika penyakit impoten ini bisa disembuhkan. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, "Jika suami tidak bisa berjimak karena sakit, dan istri gugat cerai maka gugatan cerai bisa dikabulkan. Kecuali jika sakit ini diketahui atau diduga kuat bisa disembuhkan dengan diobati. Atau bisa disembuhkan dengan dikondisikan. Maka istri tidak berhak gugat cerai. Karena bisa ditunggu sembuhnya." (as-Syarh al-Mumthi, 12/410).

Ketiga, jika dipastikan suami impoten dan istri tidak rida, maka istri berhak gugat cerai tanpa harus menunggu kesembuhan suaminya. Ini merupakan pendapat Syakhul Islam dan Abu Bakr Abdul Aziz ulama hambali -. Al-Mardawi mengatakan, "Beberapa ulama mazhab hambali berpendapat bahwa sang istri berhak untuk langsung gugat cerai. Diantaranya adalah Abu Bakr dalam kitabnya at-Tanbih dan al-Majd Ibnu Taimiyah dalam al-Muharrar." (al-Inshaf, 8/138).

Kesimpulannya, istri berhak untuk gugat cerai karena suami impoten. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat mengenai teknis dan tata caranya. [baca lanjutan: Atasi Impoten dengan Kerja Sama]
#hukumislam #cerai #pernikahan #impoten #jimak #suami
BERITA TERKAIT
Mampu Menikah, Tapi Tak Juga Naik Pelaminan
Bahaya! Inilah Bidah yang Paling Parah
Awas! Ini 3 Bentuk Doa yang Termasuk Bidah
Ini Tawasul yang Dilarang atau Dibenarkan?
Dianjurkan Menyiapkan Kain Kafan Sebelum Kematian?
Halalkah Bekicot dan Keong? (Bekicot Air)
Halalkah Bekicot dan Keong? (Bekicot Darat)

ke atas