MOZAIK

Rabu, 19 April 2017 | 00:07 WIB

Hikmah itu Hikmah, Benar itu Benar

KH Ahmad Imam Mawardi
Hikmah itu Hikmah, Benar itu Benar
(Foto: ilustrasi)


TERKENAL sekali ungkapan "pungutlah hikmah dari manapun ia keluar." Kebenaran, kebaikan, dan keadilan adalah tetap dalam nilai mulia dan berharganya walau ia disuarakan oleh siapapun.

Tak ada yang tak mendengarkan dan menjawab adzan walaupun yang melantunkan adzan adalah anak kecil karena kalimat adzan adalah ajakan kebaikan dan kebenaran. Mereka yang terbiasa menolak kalimat kebenaran dan kebaikan dari orang-orang kecil hanya karena mereka tak memiliki kelas dalam pandangan manusia adalah orang yang tak punya kelas dalam pandangan Allah.



Terkenal pula ungkapan semakna: "Kalau putih-putih keluar dari dubur/silit/pantat ayam, maka ambillah karena itulah yang disebut telur. Kalau kuning-kuning keluar dari dubur manusia, maka jauhilah karena itulah yang disebut tahi." Begitu banyak yang tekun dan khusyuk mendengarkan kalimat orang-orang besar, mengangguk-angguk dan tertawa lebar mengapresiasi hanya karena takut tak kecipratan "kasih sayangnya" berupa pembagian kue duniawi. Begitu banyak yang meremehkan dan meninggalkan begitu saja kata bijak nan baik orang-orang kecil karena dianggap tak akan memberikan manfaat duniawi.

Cobalah suatu saat sempatkan berkeliling desa yang sangat tradisional, di mana setiap pola hubungan kemanusiaan masih dibangun di atas dasar perasaan kemanusiaan. Dengarkanlah kata-kata dan kalimat para tetua di sana, maka kita akan temukan "kalimat manusia yang betul-betul manusia, bukan kalimat manusia mesin yang perhitungannya adalah untung rugi, bukan baik buruk.


Suatu malam anak desa yang baru saja berkesempatan menonton TV, melihat rumah mewah penuh lampu kerlap kelip, berkata kepada ayahnya begitu kayanya mereka orang kota. Sang ayah memeluk anaknya sambil berujar: "Kaya itu di sini nak," sambil menunjukkan telunjuknya ke dadanya.

Dibimbinglah anaknya ke halaman, diajaklah anaknya melihat ke langit sembari berkata: "Bintang-bintang itu adalah lampu-lampu milik Allah, Tuhan kita. Lebih banyak itu kan ketimbang lampu-lampu di rumah mewah itu? Kamu bisa memiliki dan menikmatinya asal kamu memiliki Allah di dalam hatimu."

Sungguh pelajaran agama yang sangat sederhana namun indah dan menyentuh sekali walau tanpa teori yang menyebut namanya saja susah. Hikmah tetaplah hikmah, benar tetaplah benar. Terimalah dengan hativdan sebarkanlah dengan hati agar tetap menyentuh hati. Salam AIM. [*]

#pencerahhati #pencerah hati #ahmad imam mawardi
BERITA TERKAIT
Nikmati dan Syukuri, Gelisah Menjadi Tiada
Lika Liku Jalan Hidup
Siapakah yang Merusak Kebahagian Kita?
Perumpamaan Hati yang Keras
Tak Usah Sesali Kebaikan yang Tak Terbalaskan
Sederhanakah Jalan Bahagia?
Tak Kemaruk Maka Bahagia

ke atas