EKONOMI

Kamis, 20 April 2017 | 03:09 WIB

Pengusaha Sawit Minta Regulasi Gambut Dirombak

Pengusaha Sawit Minta Regulasi Gambut Dirombak
(Foto: inilahcom)


INILAHCOM, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau berharap pemerintah mengevaluasi Peraturan Pemerintah 57/2016 tentang Gambut. Aturan ini menyulitkan bisnis sawit.

Ketua Gapki Riau Riau, Saut Sihombing mengeluhkan keberadaan PP 57/2017 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, serta 4 Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai turunannya. "Regulasi itu tidak bisa dipaksakan karena jelas berpengaruh pada bisnis kelapa sawit," kata Saut di Pekanbaru, Rabu (19/4/2017).



Saat ini, luas perkebunan sawit di Riau mencapai 3 juta hektar (ha). Sebanyak 45% dari luasan total itu adalah milik rakyat. Sebanyak 40% milik perusahaan, dan sisanya milik petani plasma.

"Mari kita bersama-sama mendukung pengembangan kelapa sawit nasional sebagai penopang perekonomian, bukan malah menyulitkan dengan beragam aturan yang ketat. Bila memang ada masalah dalam tata kelola sawit, mari sama-sama dibenahi bukan ditambah sulit dengan aturan baru," kata Saut.

Saut bilang, salah satu poin dalam regulasi baru itu yang sulit diimplementasikan, adalah terkait pengelolaan lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter. Di mana statusnya diubah menjadi hutan lindung.

Padahal, Saut mengatakan, Riau memiliki luasan lahan gambut 3,8 juta ha, dan 75% di antaranya memiliki kedalaman di atas tiga meter.

Guru Besar Universitas Riau, Prof Almasdi Syahza bilang, regulasi pengelolaan gambut sebenarnya bertujuan baik. Yakni, untuk mencegah kebakaran lahan gambut. Hanya saja, poin dalam regulasi itu yang mengatur ketinggian muka air pada lahan gambut, ditetapkan minimal 0,4 meter, sangat sulit dipraktikan.

Daerah di Riau yang mayoritas lahannya bergambut seperti Kabupaten Rokan Hilir, Indragiri Hilir dan Bengkalis, akan sulit mengembangkan daerahnya untuk bercocok tanam perkebunan. "Tidak hanya sulit ditanami untuk kelapa sawit, untuk kelapa saja akan sulit, artinya semua komoditas yang menggunakan lahan gambut akan terdampak," ujar Almasdi.


Saat ini, kata Almasdi, luas lahan sawit di Riau, lebih dari 2 juta hektar. Di mana, mayoritas dimiliki petani rakyat. Kelapa sawit memiliki dampak ekonomi berganda yang besar di Riau karena hampir semua lini kehidupan masyarakat telah diuntungkan dengan pengembangan komoditas ini.

Berdasarkan penelitian, kata Almasdi,
indeks kesejahteraan masyarakat perdesaan Riau sejak 1995 hingga 2015, terus meningkat. Pendapatan petani sawit pada 2015, mencapai US$4.630 hingga US$5.500 per tahun.

Almasdi bilang, ekonomi Riau belum bisa lepas dari sawit karena telah memberikan dampak terhadap percepatan pembangunan ekonomi masyarakat dalam upaya mengetaskan kemiskinan di perdesaan, pedalaman, bahkan di perbatasan.

Dampak aktivitas tersebut terlihat dari indikator, salah satunya usaha tani kelapa sawit telah dapat mengurangi ketimpangan pendapatan di daerah perdesaan.

"Saya sudah sering katakan, aturan tentang gambut ini tidak bisa dipaksakan," ujar kata Almasdi yang sudah meneliti dampak ekonomi sawit di perdesaan Riau sejak 1995.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, luas lahan sawit nasional hingga 2016 mencapai 11,6 juta ha. Sebanyak 41%, atau 4,75 juta ha dimiliki petani rakyat (smallholders). Yang milik BUMN hanya 7% (812.000 ha), dan swasta sebesar 52% (6,03 juta ha).

Produk ekspor sawit dan turunannya lebih dari 154 jenis, dengan nilai ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk hilir turunannya pada 2016 mencapai US$18,6 miliar. Dan, sumbangan pajak dari industri ini sebesar 2,23% dari total realisaswi penerimaan pajak sebesar Rp1.230 triliun.

Industri sawit sektor hulu-hilir menyerap seikitnya 5,3 juta pekerja. Yang didominasi sektor perkebunan sawit, serta menghidupi lebih dari 21,2 juta orang. [tar]
#gapki #sawit #gambut #presidenjokowi
BERITA TERKAIT
Backlog di Kampung Jokowi Capai 300 Ribu Rumah
Dua Menteri Jokowi Tanam Raya Jagung di Bengkulu
Ekonomi Desa, Jokowi Minta 300 Jembatan Gantung
KLHK Lakukan Berbagai Upaya Cegah Kebakaran Gambut
Ini Kabar Baik Bagi Petani Kelapa Sawit
Jokowi Panen Padi dan Buka Ekspor di Sanggau
Ekspor Minyak Sawit Terkerek Kendati Harga Nyusruk

ke atas