EKONOMI

Senin, 08 Mei 2017 | 04:09 WIB
(Ketua OJK, Muliaman D Hadad)

Menunggu Wajah Baru di OJK

iwan purwantono
Menunggu Wajah Baru di OJK
(Foto: Ilustrasi)


INILAHCOM, Jakarta - Kalau tak ada aral melintang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal memiliki pemimpin baru pada Juli nanti. Meski proses pemilihannya sempat diwarnai gonjang-ganjing.

Ditanya ihwal keputusan pansel OJK yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati, tidak meloloskannya, Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad hanya tertawa. Dia mengaku sempat kaget dan penasaran. Kini, semuanya sudah dikubur dalam-dalam.

Stres? Tidak juga. Setidaknya, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) termuda ini, terlihat lebih gemuk. Dirinya ingin fokus menyelesaikan masa tugasnya. "Iya nih, naik dua kilo berat saya. Perasaan makan biasa-biasa saja," papar Muliaman.

Sebagai orang yang mengasuk OJK sejak 'bayi', banyak tantangan yang harus dihadapi pria kelahiran Bekasi pada 30 April 1960 ini. Namun, Muliaman bisa tersenyum puas. Lantaran, banyak warisan positif yang melekat di OJK saat ini. Berikut petikan wawancaranya.

Dua Bulan lagi, OJK punya pimpinan baru. Ada saran?

Kebijakan untuk memperkuat pengawasan terhadap industri keuangan, harus dilanjutkan. Kedua, lebih membuka akses keuangan untuk UMKM dan masyarakat luas. Ketiga, OJK harus responsif terhadap perkembangan atau perubahan yang terjadi. Saat ini, kita memasuki era digital economy. Di mana sektor jasa keuangan haruslah bisa selaras dengan perkembangan zaman.

Saya kira, ketiga hal itu harus tetap menjadi concern bagi OJK. Kenapa pengawasan perlu diperkuat, karena perkembangan industri jasa keuangan begitu cepatnya. Dalam hal ini pengaturan dan pengawasan dari OJK haruslah efektif dan optimal. Kelihatannya, ketiga hal ini akan mewarnai perkembangan industri keuangan di tanah air.

Untuk membuat aturan, apa sih kisi-kisinya?
Kebijakan OJK haruslah mengedepankan prinsip-prinsip governance. Ini penting guna meminimalisir terjadinya fraud di industri keuangan. Baik itu perbankan maupun non bank. Ini bagian dari pengawasan.

Tentunya, OJK perlu bersiap. Tidak hanya kebijakan namun perlu memperkuat kapasitas lembaga. Ini menyangkut SDM, organisasi yang efektif dan leadership. Diperkuat pula konsolidasi organisasi.

Anda orang pertama yang 'mengasuh' OJK. Apa saja progressnya?
Sebagai lembaga yang baru berumur empat tahun, OJK boleh dibilang sudah tertata. Jalannya sudah normal. Infrastruktur dan aparat pendukungnya, boleh dibilang cukup. Organisasi untuk pembinaan karyawan, sudah ada. Kita sudah susun skema dana pensiun, serta fasilitas untuk karyawan.

Jumlah pegawai meningkat pesat. Aslinya 1.500 karyawan, kini berlipat sekitar 3.500 karyawan. Dalam waktu empat tahun. Pendatang baru yang berlatar belakang industri atau masyarakat, jauh lebih besar ketimbang dari BI ataupun kemenkeu.

Soal kekompakan, saya rasa OJK itu sudah bisa senada dan seirama. Orang-orang dari berbagai latar belakang, sudah melted atau lumer menjadi satu organisasi baru yakni OJK. Semua yang kita rekrut adalah orang-orang pilihan. Misalnya kita pilih 400 orang dari 120 ribu pelamar. jadi tidak ada masalah.

Kemarin memang ada 300 orang yang kembali ke Bank Indonesia (BI). Sedangkan yang 700 orang, masih stay di OJK. Nah, kita perlu mengganti yang 300 orang itu, sudah kita siapkan. Jadi so far tidak ada masalah.

OJK baru mendapatkan penghargaan di bidang inklusi keuangan, komentarnya?
Oh iya. Kita baru saja memenangkan The Global Inclusion Awards 2017. Penghargaan di bidang inklusi keuangan ini berasal dari Child and Youth Finance International (CYFI) bekerja sama dengan Pemerintah Jerman.

Ada tiga penghargaan bidang inklusi keuangan yakni untuk Amerika Latin, Afrika, dan Asia Pasifik. Untuk kawasan Asia Pasifik, ada tiga negara yang masuk nominasi yakni India, Pakistan dan Indonesia. Ternyata yang keluar juara adalah Indonesia (OJK).


Selama ini, OJK fokus membuka akses keuangan untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau pelosok. Banyak sekali program inklusi keuangan yang diinisiasi OJK. dalam hal ini, kita bisa mengalahkan India yang program inklusi keuangannya bagus-bagus. Dan, sejak tahun pertama OJK dianugerahi BPK opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Artinya, disiplin dan ketertiban, kita selalu jaga.

Jelas ini prestasi yang membanggakan...
Iya benar. Semua ini menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi saya, tetapi seluruh pegawai OJK. Kerja keras tak kenal lelah dari insan-insan OJK, ternyata hasilnya bagus. Nah, ini tentu perlu dilanjutkan oleh pengganti saya nanti. Siapapun orangnya, kita harapkan OJK bisa lebih baik lagi.

Kantor OJK masih terpisah-pisah?
Memang benar. Infrastruktur yang kurang adalah kantor pusat. Tahun ini, kita usahakan punya satu kantor sendiri. Rencananya, Mulia Tower. Biar enggak mencar-mencar. Kan ada yang di Kemenkeu, BI, Menara Merdeka, belakang Gedung Indosat. Itu kan sedikit mengganggu. Kalau kantor OJK di Indonesia jumlahnya ada 35 kantor. Masing-masing provinsi dan kota besar, sudah punya.

Apa kenang-kenangan saat menahkodai OJK?
Ya, OJK saat ini, sudah jauh berbeda dengan jaman baru lahir. Sumber daya manusia (SDM) sudah kuat, infrastruktur ada, sistemnya tersedia, prestasi sudah banyak. Jadi, siapapun yang memimpin, saya kira tidak ada masalah. Jelas sekali perbedaannya.

Saya ingat betul bagaimana tantangan kala itu. Gaji saja baru dibayar setelah tiga bulan. Jadinya pakai tabungan. Mau cari kertas, atau mau fotokopi saja susah. Aturan belum ada, semua benar-benar dari nol. Pelan-pelan, kita buat aturan satu per satu, soal kepegawaian, logistik, dan lain-lain.

Itu tantangan internal. Di eksternal, tak kalah dinamisnya. Kala OJK dilahirkan, situasi ekonomi cukup ketat. Karena eranya kebijakan uang ketat. Kan, masa quantitative easing selesai 2014.

Hari-hari, kita mikirin bagaimana menyelamatkan industri keuangan. Agar perekonomian tetap jalan. Pada 2015, nilai tukar dolar AS kan sempat melonjak hingga di atas Rp 14 ribu. Dan, indeks melorot tajam.

Industri batubara mengalami goncangan yang cukup hebat. Di Kalimantan, banyak tambang tutup. Dan, kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) melonjak. Misalnya di Bank CIMB dan lainnya. Kemudian kita berikan kelonggaran.

Alhamdulillah, semuanya bisa fokus. NPL sekarang sudah membaik. Kerja keras bersama tim, membuat semuanya menjadi mudah. Kami sangat bersyukur dengan capaian

Saat ini, sudah berapa banyak peraturan yang dihasilkan OJK?
Wah saya tidak ingat persis jumlah peraturan yang dikeluarkan OJK. Saya kira lebih dari 600 peraturan, kali. Apakah itu sifatnya perbaikan atau meneruskan aturan yang bagus, ditambah peraturan baru. Kita jagain bank dan bursa tidak goncang.

Apa ada warisan yang positif atau legacy di OJK?
Empat tahun OJK, saya mencatat ada lima pilar atau warisan penting. Pertama, pengawasan terhadap sektor keuangan bisa dilakukan secara terintegrasi. Dulu kan pisah-pisah, BI jalan sendiri, kemenkeu jalan sendiri. Sehingga kegiatan terhadap konglomerasi bisa dilakukan. Sehingga transaksi inter grup yang seringkali menimbulkan persoalan, bisa dideteksi sejak dini.

Kedua, isu edukasi kepada konsumen, jelas menonjol. Kalau Anda ke Bogor, ada billboard besar yang berisikan edukasi terhadap konsumen. Kita juga terus bergerak untuk melakukan sosialisasi. Termasuk merangkul sejumlah pihak membentuk satgas waspada investasi, membuka layanan pelaporan dari masyarakat.

Ketiga, isu inklusi keuangan juga sangat menonjol. Kami bikin program laku pandai, dan sebagainya. Keempat, pendalaman pasar keuangan. Terjadi peningkatan jumlah perusahaan yang masuk bursa. Jumlah IPO naik tajam, kapitalisasi pasar. Hal-hal seperti itu yang terjadi saat ini. Terakhir, OJK sangat responsif terhadap perkembangan atau dinamika sektor keuangan. Dulu kita tidak pernah concern terhadap financial technology (fintech). Namun sekarang kita sudah punya aturannya. Saya kira semuanya itu menrupakan legacy yang bisa dilanjutkan oleh pemimpin baru di OJK.

Dulu, yang rapi melaporkan keuangannya adalah bank. Sekarang, semua lembaga keuangan sudah rapi, tidak hanya bank. Karena sistemnya sudah terbangun. Nah,. mudah-mudahan kasus seperti Antaboga dan lain-lain, tidak terulang di masa depan.

Tidak mungkin semuanya baik. Menurut Anda apa yang masih kurang?
Soal penegakan hukum, ini penting. Perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan. Di OJK, kita baru saja punya departemen penyidikan. Tadinya sekedar direktorat, kita naikkan. Kita dibantu eks kepolisian dan KPK. Khusus KPK, kita khususkan untuk anti fraud gratifikasi internal. Mulai level staf ke atas harus lapor harta kekayaannya.

Tantangan ekonomi diprediksi masih akan berat. Komentar Anda?
Tahun ini, tekanan ekonomi kelihatannya belum berkurang. Kita hanya bisa berharap OJK bisa tetap allert, atau responsif dalam mengambil langkah-langkah. Tentunya langkah-langkah yang membantu pertumbuhan ekonomi. Khususnya membantu menyelamatkan sektor keuangan. Jangan sebaliknya, industri keuangan sedang nyungsep, malah diinjek dengan aturan yang memberatkan.
BERITA TERKAIT
Federasi Saint Christopher-Nevis Minati Batik Solo
Ikuti KLHS, Semen Rembang tak Jadi Menambang
Bulan Depan, Ojek dan Taksi Online Wajib Berstiker
Kemenhub Perketat Keamanan Navigasi Saat Lebaran
Perundingan IA-CEPA, RI dan Aussie Sepakati Ini
Target Ekonomi Besar, Tim Jokowi Kurang Trengginas
Puasa Kedua, Daging di Palembang Bertahan Mahal

ke atas