EKONOMI

Jumat, 19 Mei 2017 | 08:09 WIB

Tumbuhkan Industri Gula, Kemenperin Beri Gula-gula

uji sukma medianti
Tumbuhkan Industri Gula, Kemenperin Beri Gula-gula
(Foto: inilahcom/ilustrasi)


INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Perindustrian tawarkan sejumlah insentif untuk menarik minat investor dalam membangun pabrik gula di Indonesia.

Direktur Jenderal, Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto bilang, insentif yang disiapkan berupa pemberian izin impor bahan baku Gula Kristal Merah (GKM). Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10/2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.



"Tujuannya adalah membangun industri gula yang terintegrasi dengan perkebunan tebu, mempercepat pengembangan perkebunan tebu dan memaksimalkan utilisasi mesin-mesin pabrik," tutur Panggah di Jakarta, Kamis (18/5/2017).

Dalam beleid itu, kata Panggah, pabrik gula di luar Pulau Jawa akan diberikan izin impor bahan baku GKM selama tujuh tahun secara bertahap.

tahun pertama, Kemenperin memberikan izin impor 90% dari seluruh kebutuhan bahan baku yang berangsur menurun hingga nol persen di tahun ke delapan. Kemudian, untuk pabrik gula yang berada di Pulau Jawa, izin impor diberikan selama lima tahun dan secara bertahap impornya terus dikurangi.

Sementara pabrik gula yang melakukan perluasan, diberikan insentif selama tiga tahun. Adapun, pabrik gula yang bisa memanfaatkan insentif tersebut yakni pabrik gula baru atau perluasan yang terintegrasi dengan perkebunan tebu yang membangun pabrik gula lengkap mulai dari proses ekstraksi atau penggilingan sampai proses kristalisasi sesuai standar yang dibutuhkan.


Panggah menambahkan, setiap perusahaan yang akan mengajukan insentif harus membuat business plan (perencanaan usaha) dan peta jalan (roadmap) tentang pengembangan perkebunan tebu serta membuat pakta integritas untuk pelaksanaan business plan tersebut yang ditandatangani dan disampaikan kepada Menteri Perindustrian.

Setiap perusahaan yang mendapat insentif GKM impor harus melaporkan pelaksanaan pakta integritas pengembangan lahan tebu setiap enam bulan sekali dan akan dievaluasi, jelas Panggah.

Selain itu, Izin Usaha Industri (IUI) pabrik gula tersebut terbit setelah 25 Mei 2010 atau setelah Perpres 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Untuk memperoleh insentif tersebut, pabrik gula harus mengajukan permohonan rekomendasi persetujuan impor gula yang kemudian akan diverifikasi.

Menurut Panggah, verifikasi dilakukan untuk menilai kebenaran dokumen, memeriksa kebenaran laporan pelaksanaan impor gula dan melakukan validasi atas kepemilikan kebun dan atau kemitraan. "Hasil verifikasi sebagai persyaratan permohonan rekomendasi persetujuan impor gula sejak tahun kedua," ungkap Panggah. [ipe]

#menperinairlangga #pabrikgula #industri
BERITA TERKAIT
Menperin Senang Pakaian dan Kerajinan RI Bersaing
8 Tahun Pabrik Sepatu di Sukabumi Ini Ilegal
Bupati Bojonegoro Ingin Produksi Tembakau Melompat
KEIN Minta Jokowi Jangan Lupakan Industri Kreatif
Mitshubishi Siap Ekspor Mobil MPV Tahun Depan
Ngobrol dengan Bos Blackberry, Airlangga Minta Ini
Sebentar Lagi Ada Cokelat Rasa Kampus UGM

ke atas