DUNIA

Jumat, 19 Mei 2017 | 11:33 WIB

Intel Rusia Sebutkan Pilpres AS Bakal Kacau

Didi Prambadi
Intel Rusia Sebutkan Pilpres AS Bakal Kacau
(Foto: Istimewa)
INILAHCOM, Washington DC - Petugas intelijen AS mendengar ocehan seorang perwira intel Rusia yang menyebutkan bahwa pemilu presiden AS bakal kacau.

Hal itu diungkap laporan utama majalah TIME yang terbit Kamis (18/5/2017). Menurut majalah kondang itu, ocehan agen rahasia Rusia itu terjadi enam bulan sebelum pemungutan suara dimulai. Ocehan itu berasal dari seorang perwira militer yang bekerja di badan intelijen militer Rusia, GRU kepada sesama rekan intelnya. Dalam obrolan yang didengar sejumlah perwira intelijen AS itu, disebutkan pula bahwa kericuhan di pilpres AS itu sebagai ganjaran bagi Hillary Clinton yang dituduh menghasut protes di Rusia, sewaktu menjadi menteri luar negeri AS.


Yang tidak mereka sadari, obrolan itu didengar oleh para agen rahasia AS yang kemudian mencatatnya dan mengirimnya ke markas besarnya untuk dianalisa, tutur perwira tinggi intelijen AS kepada TIME. Ternyata, menurut perwira tinggi AS itu, obrolan ringan itu dijadikan laporan resmi dan diedarkan di antara para agen militer AS. Setelah beberapa lama, kami baru sadar bahwa obrolan itu serius, sambungnya.

Para penyidik juga baru menyadari, upaya Rusia mempengaruhi hasil pilpres bukan saja dengan cara meretas surat elektronik, tetapi juga cara lain. Termasuk di antara membentuk membentuk sebuah operasi khusus untuk mempengaruhi hasil pilpres 2016 agar Hillary kalah.

Komunitas intelijen AS akhirnya menyimpulkan, operasi khusus itu disetujui oleh Presiden Vladimir Putin. Pemimpin Rusia ini, menurut AS, berupaya merendahkan institusi demokrasi di AS. Dan yang terpenting, mencegah Hillary Clinton muncul sebagai pemenang selama kampanye. Putin dan pemerintah Moscow memang berniat agar Donald Trump muncul sebagai pemenang dan menjadi Presiden AS, bunyi laporan intelijen AS itu.
#pilpresas #rusia #trump
BERITA TERKAIT
Trump Ketahuan Terima Ribuan Pebinis dan Pejabat
Putin dan Trump Bertelepon Bahas Perdamaian Suriah
Kisah Pemilik Truk Dengan Stiker Anti-Trump
Pentagon Keliru Kirim Twitter Minta Trump Lengser
Rusia Beri Cap VOA dan 8 Media 'Agen Asing'
Tak Ada Obrolan Soal HAM Antara Trump dan Duterte
PM May Tuding Rusia Campur Tangan Pemilu Inggris

ke atas