GAYA HIDUP

Jumat, 19 Mei 2017 | 14:00 WIB

Hipertensi Jadi Penyebab Kematian Paling Tinggi

Mia Umi Kartikawati
Hipertensi Jadi Penyebab Kematian Paling Tinggi
(Foto: Ilustrasi)


INILAHCOM, Jakarta - Hipertensi adalah salah satu penyakit yang dikenal sebagai the silent killer.

Berdasarkan data WHO yang dipublikasikan pada bulan Mei 2014, hipertensi menempati urutan ke-7 pada 20 penyebab kematian paling tinggi di Indonesia dengan tingkat kematian mencapai 42.226 atau 3,02 persen dari total kematian.

Hal tersebut karena gejalanya yang seringkali tidak disadari, hipertensi dapat menyebabkan sejmlah penyakit mematikan seperti stroke yang berada di urutan pertama dalam daftar yang sama, serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

Sebagai perusahaan yang berfokus kepada kesehatan, Philips ingin mengajak masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup sehat dan menyadari pentingnya deteksi dini.

Hipertensi dapat berdampak pada otak dan merupakan salah satu penyebab utama atas sebagian besar tingkat kesakitan dan kematian dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan otak.


Tidak hanya itu, hipertensi merupakan faktor risiko utama dari stroke dan merupakan penyebab utama penurunan kognitif dan demensia. Sekarang sudah menjadi rahasia umum bahwa ada hubungan linier antara tekanan darah dan tingkat kematian akibat stroke.

Secara umum, ada asumsi bahwa hipertensi biasanya diderita laki-laki. Namun, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menerbitkan bahwa pada usia 65 ke atas, prevalensi hipertensi pada wanita adalah 28,8, lebih tinggi daripada pria yang prevalensinya mencapai 22,8 persen.

"Semakin tua seseorang, wajar apabila tekanan darah meningkat. Peningkatan tekanan darah juga dapat terjadi pada saat kehamilan," kata Dokter spesialis jantung dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP, FIHA, FAsCC, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Jumat (19/05/2017).

Hormon estrogen memegang peranan penting dalam naiknya tekanan darah pada fase menopause yang menyebabkan hormon estrogen menurun, risiko hipertensi pun meningkat.

"Ketika seorang perempuan berhenti menstruasi, hormon estrogennya akan menurun secara signifikan. Hal ini dapat merusak sel endotel yang memicu plak di pembuluh darah. Plak di pembuluh darah dapat memicu tekanan darah tinggi yang menyebabkan penyakit kardiovaskular (Cardio Vascular Disease- CVD) dan bahkan stroke, papar Dr. Ann.

"Hal ini bukan menjadi masalah bagi pria. Penurunan hormon testosteron tidak terlalu berdampak pada risiko hipertensi, kecuali bila disertai gaya hidup tidak sehat, merokok maupun obesitas," tambahnya. (tka)
#hipertensi #penyebab #kematian #paling #tinggi #Indone
BERITA TERKAIT
Hipertensi Jadi Faktor Risiko Penyakit Jantung
Faktor Genetik Jadi Penyebab Timbulnya Alergi
Pentingnya Air Bersih untuk Kehidupan di Daerah
Pelayanan Lansia di Fayankes Terus Ditingkatkan
Atasi Sakit Perut Saat Menstruasi
Berwisata Tak Lepas dari Buah Tangan
Ini 10 Penyakit Terbanyak pada Lansia

ke atas