EKONOMI

Sabtu, 20 Mei 2017 | 07:09 WIB

BPK Ganti Bos, Pemerintah Langsung Dapat Opini WTP

BPK Ganti Bos, Pemerintah Langsung Dapat Opini WTP
Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara (Foto: istimewa)
INILAHCOM, Jakarta - Setelah menunggu selama 12 tahun, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akhirnya mengganjar opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2016.

Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan BPK, LKPP 2016 telah menyajikan secara wajar untuk seluruh aspek yang material sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

"Opini WTP atas LKPP Tahun 2016 ini merupakan yang pertama kali diperoleh pemerintah pusat setelah 12 tahun menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN berupa LKPP sejak 2004," ujar Moermahadi di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Hasil pemeriksaan atas LKPP didasarkan pada hasil pemeriksaan atas 87 Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL) dan satu Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (LKBUN). Sebanyak 74 LKKL atau 84 persen memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

BPK juga memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada delapan LKKL dan opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) pada enam LKKL. Opini WDP atas delapan LKKL dan opini TMP atas enam LKKL tersebut tidak berpengaruh secara material terhadap LKPP 2016.

BPK menyampaikan juga temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan Kepatuhan. Temuan SPI diantaranya Pengendalian Piutang Pajak dan Penagihan Sanksi Administrasi Pajak, Pengendalian atas Pengelolaan Program Subsidi, Pertanggungjawaban Kewajiban Pelayanan Publik Kereta Api, dan Tindakan Khusus Penyelesaian Aset Negatif Dana Jaminan Sosial Kesehatan.

Temuan kepatuhan diantaranya Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak dan Piutang Bukan Pajak, Pengembalian Pajak serta Pengelolaan Hibah Langsung. Temuan-temuan tersebut tidak berpengaruh langsung terhadap kewajaran LKPP 2016.


Meskipun LKPP 2016 telah disajikan secara wajar atas seluruh aspek yang material, lanjut Moermahadi, pemerintah tetap perlu menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi BPK atas temuan sistem pengendalian intern dan kepatuhan.

"Tindak lanjut rekomendasi tersebut penting bagi pemerintah sehingga penyajian pertanggungjawaban pelaksanaan APBN tahun mendatang akan membaik," katanya.

Sebelumnya, pemerintah telah menindaklanjuti rekomendasi permasalahan yang menjadi pengecualian opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atas LKPP Tahun 2015.

Pemerintah telah berhasil menyelesaikan suspen yaitu, perbedaan realisasi belanja negara yang dilaporkan kementerian/lembaga dengan yang dicatat oleh Bendahara Umum Negara.

Hal itu dilakukan dengan membangun single database melalui e-rekon dan sistem informasi penyusunan LKPP yang lebih baik, sehingga tidak ada lagi suspen pada LKPP 2016.

Dalam 12 tahun terakhir, LKPP tak pernah mendapat opini WTP. Ada kabar bahwa WTP ini ada kaitannya dengan pergantian Ketua BPK dari Harry Azhar Azis kepada Moermahadi pada 26 April lalu. Selama ini, Harry dikenal kritis terhadap pemerintah. Selama memimpin, tak pernah opini WTP disematkan untuk LKPP. [tar]

#bpk #lkpp #audit #wtp #menkeusmi
BERITA TERKAIT
Robert Pakpahan Dirjen Pajak? Ini Kata Menkeu Ani
Ditanya Siapa Dirjen Pajak Baru, Jokowi Menghindar
Sri Mulyani Ingatkan 3 Dirjen Jangan Kerja Sendiri
Menkeu Ingatkan Bank harus Ikuti Tren Digital
Menkeu Curhat Dilema Kejar PDB 5,4% di 2018
Inilah Penggerak Ekonomi Triwulan III Versi Menkeu
Tahun Politik, Hindari Bongkar Pasang APBN

ke atas