RAMADHAN

Sabtu, 24 Juni 2017 | 05:00 WIB

Kontroversi Salat Hari Raya, Masjid atau Lapangan?

Kontroversi Salat Hari Raya, Masjid atau Lapangan? #Kurma
(Foto: ilustrasi)


DALAM setiap masalah fikih, setidaknya ada empat pendapat yang berbeda. Masing-masing pendapat mempunyai dalil, baik naqli (Alquran dan hadis), atau pun aqli (logika berupa kesimpulan hukum dari Alquran dan hadis baik tersurat maupun tersirat).

Contoh ringan adalah hukum salat berjemaah bagi laki-laki. Ada yang mengatakan, wajib namun bukan bagian dari rukun salat, sunah muakkadah (sunnah yang ditekankan), dan fardu kifayah. Ada pula yang berpendapat, salat berjamaah bagi laki-laki adalah wajib dan itu merupakan rukun salat.



Perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan ulama juga terjadi ketika menentukan mana yang lebih utama antara salat hari raya di masjid atau di lapangan. Berikut ini adalah pemaparannya.

Menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama mazhab Hanafi, salat hari raya di lapangan hukumnya sunah sekalipun masjid bisa menampung semua jemaah. Menurut mazhab Hanafi, melakukan salat hari raya di masjid tanpa ada uzur yang dibenarkan dalam syariat hukumnya makruh, kecuali di Mekah yakni di Masjidil Haram, karena ia adalah sebaik-baik tempat salat di muka bumi.

Ulama mazhab Hambali berpendapat, salat hari raya di lapangan hukumnya sunah. Namun dengan syarat lapangan itu dekat dengan bangunan yang ada di sebuah daerah. Jika lapangan itu jauh, maka menurut mereka salat di lapangan hukumnya makruh. Hampir sama dengan mazhab Hanafi, ulama mazhab Hambali juga berpendapat bahwa salat hari raya di masjid tanpa uzur hukumnya makruh, kecuali bagi orang-orang yang tinggal di Mekah; karena yang utama adalah salat di Masjidil Haram.

Ulama mazab Maliki menuturkan, salat hari raya di lapangan sangat dianjurkan namun tidak disunahkan. Mereka juga sependapat dengan mazhab Hanafi dan Hambali, bahwa salat hari raya di masjid tanpa uzur hukumnya makruh kecuali bagi yang berdomisili di Mekah. Penduduknya dianjurkan salat di Masjidil Haram karena ia adalah tempat salat paling utama. Alasan lainnya, agar orang-orang dapat melihat Kabah secara langsung.

Imam Malik mengatakan, salat hari raya di selain masjid lebih utama. Dalilnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu pergi ke lapangan untuk menunaikan salat hari raya. Menurut Imam Malik, jika ada halangan seperti hujan turun, maka yang lebih utama adalah salat di masjid.

Sementara itu, ulama mazab Syafii mengatakan, salat hari raya di masjid lebih utama karena masjid adalah tempat yang mulia, kecuali tempatnya sempit dan tidak bisa menampung jemaah dan membuat mereka berdesak-desakan. Pada saat itu, maka salat di lapangan hukumnya sunah. Dalilnya adalah bahwa banyak hadits yang menerangkan keutamaan salat di masjid secara umum.

Dalam Kitab Al-Umm, Imam Asy-Syafii mengatakan, Kami pernah mendengar hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa keluar rumah menuju mushalla (lapangan) di Madinah untuk melaksanakan salat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Begitu pula halnya dengan generasi setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.

Hal yang sama juga diterapkan di negeri lainnya selain di Mekah. Kami tidak mendengar seorang pun dari generasi salaf yang mengerjakan salat hari raya selain di Masjidil Haram. Menurutku, hal ini mereka lakukan karena Masjidil Haram adalah sebaik-baik tempat yang ada di muka bumi. Sehingga, mereka tidak ingin mengerjakan salat selain di masjid itu. Wallahu Alam.

Secara umum, tidak ada dalil yang tegas tentang suruhan untuk salat hari raya di lapangan dan tidak ada pula dalil yang pasti tentang larangan untuk salat hari raya di masjid. Namun, sunah filiyah (sunah yang menerangkan perbuatan) dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa beliau biasa salat hari raya di lapangan. Maka, untuk mengikuti sunah itu, sebaiknya salat di lapangan.


Namun demikian, bagi yang berpendapat bahwa salat hari raya di masjid lebih utama, maka kita tetap menghormatinya. Sebab, perbedan ini hanya pada furu (cabang) ibadah bukan pada ushul (pokok).

Kesimpulan

1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa salat hari raya di lapangan lebih utama dibandingkan salat di masjid. Mazhab Syafii mengatakan, salat di masjid lebih utama kecuali ada halangan untuk melakukannya.

2. Bagi penduduk Mekah, salat hari raya di Masjidil Haram lebih utama.

3. Hal yang sama juga berlaku bagi penduduk Madinah. Mereka salat di Masjid Nabawi; karena tidak ada lagi lapangan yang dikhususkan untuk salat hari raya.

4. Jika ada masjid besar yang bisa menampung semua jemaah dan tidak ada lagi lapangan yang bisa digunakan untuk salat hari raya, apalagi di kota-kota besar yang mana lahan semakin sempit, maka tentu shalat di masjid lebih utama.

5. Jika masjid penuh sesak sementara ada lapangan yang lebih luas untuk jemaah, maka tentu salat di lapangan lebih diutamakan.

6. Banyak hikmah yang didapat ketika salat hari raya dilaksanakan di lapangan, antara lain:

Pertama, kapasitas masjid yang tidak bisa memuat semua jmaah yang salat hari raya.

Kedua, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para wanita untuk menghadiri salat hari raya termasuk yang sedang haid. Hal ini seperti yang diterangkan dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim. Seperti diketahui, wanita yang sedang haid tidak boleh masuk dan berdiam di masjid.

Ketiga, memperlihatkan syiar Islam dan kegembiraan kaum muslimin dengan datangnya hari raya.

Keempat, pemandangan yang menggetarkan hati kaum muslimin ketika melihat jumlah mereka begitu banyak di sebuah tempat yang besar. Hal yang sama tidak mereka dapatkan ketika berada di masjid. Sebab, di hari raya, banyak orang yang akan datang, termasuk yang jarang salat berjemaah di masjid. Wallahu Alam. []
#salat #salathariraya
BERITA TERKAIT
Kontroversi Salat Hari Raya, Masjid atau Lapangan?
Ramadan, Ari Irham Ini Berbagi Kepada Sesama
Setiap Hari Ratusan Pemudik Batalkan Tiket KA
Stasiun Senen Berangkatkan 27.666 Pemudik
Arus Mudik 2017, Sudah Terjadi 598 Kecelakaan
Harga Daging Sapi Segar Jadi Rp140/Kg di Tebet
Jalur Nagreg Padat, Diimbau Lewat Jalur Alternatif

ke atas