TEKNOLOGI

Senin, 19 Juni 2017 | 21:21 WIB

Uni Eropa Rangkul China Setelah AS Mundur

Uni Eropa Rangkul China Setelah AS Mundur
(Foto: faogz)


INILAHCOM, Guiyang - Uni Eropa merangkul China untuk bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan global setelah AS menarik diri dari Perjanjian Paris yang mereta tandatangani bersama sejumlah negara pada 2015.

"Saat ini ketika Presiden AS Donald Trump sudah menyerahkan tanggung jawab dalam mengatasi persoalan global, maka tidak ada jalan lain bagi Uni Eropa, kecuali merangkul China," ujar politikus Inggris, John Leslie Presscott, di Guiyang, Provinsi Guizhou, China, Sabtu malam (17/6/2017) waktu setempat.

Saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan simposium Forum Ekologi Global (EFG) 2017 tersebut, Wakil Perdana Menteri Inggris periode 1997-2007 itu menyatakan peran pentingnya China untuk bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan.

"Uni Eropa sebagai konsumen ekonomi terbesar di dunia akan bekerja sama dengan China sebagai salah satu negara terbesar dunia untuk mengamankan Perjanjian Paris dan bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan," kata anggota parlemen Inggris yang pernah duduk di jajaran Dewan Uni Eropa itu.

Di bawah pemerintahan Presiden Xi Jinping, Presscott menganggap China memiliki kemampuan untuk menjembatani kepentingan negara maju dan negara berkembang yang sedang menuju tahap pembangunan dengan perspektif ekologi.

Menurut dia, sudah saatnya kerja sama negara-negara maju dan negara-negara berkembang dikonkretkan.


"Di jajaran Dewan Uni Eropa yang beranggotakan 47 negara, saya telah menyusun kerangka kesepakatan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang untuk ditandatangani pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn (Jerman) pada November mendatang," katanya.

Oleh sebab itu, Presscott berharap agar ajang tahunan EFG di Guiyang yang berlangung pada 17-18 Juni itu bisa menelurkan kesepakatan yang bisa diimplementasikan dalam mengatasi persoalan lingkungan.

"Saya ucapkan selamat kepada panitia penyelenggara atas terselenggaranya konferensi rutin ini sebagai solusi atas masalah lingkungan global," katanya.

Guiyang, kota kecil yang berjarak sekitar 2.250 kilometer di sebelah selatan Ibu Kota Beijing itu bergeliat sejak Jumat (16/6/2017) saat para peserta dari berbagai negara datang untuk menghadiri simposium tersebut.

Hampir semua sudut kota, termasuk Bandar Udara Internasional Longdongbao, dipenuhi dengan spanduk kegiatan tahunan yang dipusatkan Guiyang International Ecologial Confence Center itu.

Selain jajaran pejabat dari Pemerintah Provinsi Guizhou dan Pemerintah Kota Guiyang serta akademisi lingkungan hidup China, acara tersebut juga dihadiri sejumlah praktisi dan pakar lingkungan internasional, seperti Presiden Wilderness Foundation Vence Marti, Presiden IUCN Zhang Xinsheng, UNESCO, dan WWF. [tar]
BERITA TERKAIT
(Tokyo Motor Show 2017) Nissan Siap Pamer Ambulans Generasi Kelima
Kanker Payudara Serang Pria di Irlandia Utara
Segmen City Car, Penjualan Ignis Lampaui Brio
Pendiri Kaskus Raih Penghargaan di Korea Selatan
Sony Xperia XZ Premium Segera Cicipi Oreo
Nokia 7 Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp5,1 Juta
Atasi Pelecehan Seksual, Twitter Perketat Keamanan

ke atas