EKONOMI

Senin, 10 Juli 2017 | 14:40 WIB

Ini Cerita Sukses Menteri Susi di Sektor Perikanan

Ini Cerita Sukses Menteri Susi di Sektor Perikanan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim sejumlah sukses yang berhasil ditorehkannya. Mudah-mudahan benar.

"Kemenangan kita sudah banyak seperti stok ikan naik dan NTN (nilai tukar nelayan) nsik,"kata Susi Pudjiastuti dalam acara halalbihalal di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (10/7/2017).

pada 2015, KKP menyatakan estimasi adanya sumber daya ikan sebanyak 9,93 juta ton berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 47/2016 tentang Estimasi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan RI. Sedangkan hasil kajian tim Balai Riset Perikanan Laut KKP pada 2016, menyatakan bahwa potensi sumber daya ikan (SDI) adalah sebesar 12,5 juta ton.

Masih kata Susi, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden No 44/2016 tentang Perikanan Tangkap. Ditetapkan bahwa pihak asing tidak boleh lagi masuk ke sektor perikanan tangkap. "Itu kemenangan luar biasa di era globalisasi," tegas Susi.

Sebelumnya, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti fenomena meningkatnya kredit macet yang dihadapi UMKM sektor perikanan. Diharapkan, pemerintah dapat mengatasi permasalahan tersebut.

"Angka kredit macet UMKM perikanan pun semakin mengalami peningkatan sekitar 8,7 persen dibandingkan tahun 2015," kata Wakil Sekjen KNTI, Niko Amrullah.


Menurut Niko, sejumlah aktivitas industri perikanan di sejumlah daerah juga mengalami kelesuan, seperti di wilayah Sulawesi Utara.

Berdasarkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional dari Bank Indonesia (BI), pada triwulan I-2017, terjadi penurunan aktivitas unit pengolahan ikan (UPI) yang diakibatkan oleh turunnya pasokan ikan sebagai bahan baku dari 250 ton/hari (2015) menjadi 90 ton/hari.

Pengamat kelautan dan perikanan, Abdul Halim menyatakan, nelayan tradisional atau kecil yang tersebar di berbagai daerah perlu peningkatan akses terhadap permodalan guna mengembangkan sektor perikanan di tanah air. "Terhubungnya hulu hilir sektor perikanan memberikan kepastian usaha bagi nelayan, termasuk urusan permodalan," kata Halim.

Halim bilang, peningkatan akses permodalan akan sangat membantu para nelayan dalam mengembangkan usahanya serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kelancaran hulu hilir sektor perikanan dalam artian mulai dari ikan ditangkap, bisa didaratkan di tempat pelelangan ikan (TPI), hingga adanya fasilitas "cold storage" (penyimpanan dingin) untuk pengolahan dan pemasaran.

Sedangkan di tingkat ekonomi, KKP dinilai mesti dapat menghubungkan pengelolaan sumber daya ikan dari hulu ke hilir sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan hidup nelayan. [tar]
#kkp #perikanan
BERITA TERKAIT
(Perikanan Berkelanjutan) Susi Bagi Alat Tangkap Ramah Lingkungan di Kalsel
Proyek KA Kuala Tanjung, Budi Pasang Target Khusus
(Di Depan Mahasiswa UMM) Airlangga Sebut RI Masuk Kategori Negara Industri
Harga BBM Vivo Bakal Berubah Tiap 4 Jam
PLN Pasok Listrik 160 MVA Bagi Wisata Bintan
Festival Tesso Nilo, Ajak Warga Lestarikan Alam
Toko Tani Indonesia Selalu Dinanti Warga

ke atas