PASAR MODAL

Sabtu, 15 Juli 2017 | 06:20 WIB

Inilah Pemicu Pelemahan Dolar AS

Monica Wareza
Inilah Pemicu Pelemahan Dolar AS
(Foto: inilahcom)
INILAHCOM, New York - Dolar AS melemah pada akhir perdagangan Jumat (14/7/2017), turun ke level terendah sejak September 2016.

Pelemahan setelah data menunjukkan berkurangnya inflasi dan kelemahan konsumen, dua di antaranya mengatakan bahwa pelaku pasar dapat menunda langkah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.

The ICE US, Dollar Index yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya turun 0,6% menjadi 95,17. The WSJ Dollar index yang melihat dolar terhadap sekeranjang mata uang lainnya, turun 0,6% menjadi 87,42.

Indeks harga konsumen tidak berubah pada bulan Juni, yakni ekspektasi untuk pertumbuhan sebesar 0,1%. Untuk tingkat inflasi selama 12 bulan terakhir melambat 1,6% di bulan Juni dari 1,9% di bulan sebelumnya, dan turun dari lima tahun tertinggi 2,7% hanya lima bulan yang lalu.

Penjualan ritel turun 0,2% bulan lalu, menunjukkan ekonomi AS tidak pulih dengan kuat di musim semi karena investor telah berharap terjadinya bullish.

Dolar mengalami penurunan setelah data tersebut dirilis Jumat. "Pembacaan rendah yang kami dapatkan bisa mengubah ekspektasi saat Federal Reserve akan mengubah tingkat, dan gagasan jalur yang lebih lambat berkontribusi pada kelemahan di sini dan menambah kekuatan pada mata uang lain, terutama yang terkait dengan komoditas," kata Brian. Daingerfield, ahli strategi makro di Natwest Markets, seperti mengutip marketwatch.com.


Di antara komoditas mata uang yang disebut, dollar turun 1,2% terhadap rubel dan 0,6% terhadap dolar Kanada.

Secara keseluruhan, greenback turun 0,9% sejauh minggu ini, yang sebagian besar disebabkan oleh komentar dari Ketua Fed Janet Yellen, yang menegaskan kembali rencana bank sentral menaikkan suku bunga lebih lanjut. Namun juga memperingatkan bahwa suku bunga tidak perlu Meningkat secara signifikan.

Pound bergerak 1,2% lebih tinggi, memperpanjang kenaikan baru-baru ini yang muncul setelah komentar hawkish dari Ian McCafferty. Hal ini pembuat kebijakan Bank of England yang menyerukan diakhirinya program pelonggaran kuantitatif bank sentral.

Sterling diperdagangkan US$1,3091, menembus di atas level US$1,30 untuk pertama kalinya sejak 3 Juli, pada hari sebelumnya, Kamis (13/7/2017) diperdagangkan pada US$1,2940. Pound telah berayun di kisaran US$1,3094 dan US$1,2935 pada hari Jumat, namun berada di jalur untuk kenaikan 1,6% pada minggu ini.

Euro berakhir di US$1,1468, naik 0,6% dari US$1,1399 pada hari Kamis. Untuk pekan ini terjadi kenaikan 0,6%.

Dolar diperdagangkan melemah terhadap yen, diperdagangkan di harga 112,54 dari sebelumnya 113,28. Di tengah melemahnya dolar baru-baru ini, yen telah digunakan sebagai perdagangan safe haven, dan naik 1,2% mpekan ini.
#bursasaham #ihsg #dolarrupiah #dolaras
BERITA TERKAIT
Ini Proyek Awal China-Kazakhstan
Niat SoftBank Miliki Uber Terhalang Ini
Ini Alasan Wall Street akan Bergerak Terbatas
Sentimen Bisnis Jerman Tembus Rekor Tertinggi
Smartphone Paling Laris Saat Thanksgiving Day
Bursa Eropa Coba Bertahan di Area Positif
IHSG Berlabuh Positif 3,89 Poin ke 6.067

ke atas