EKONOMI

Selasa, 18 Juli 2017 | 05:29 WIB

DPR Dorong Harga Minyak Brent Jadi Formula ICP

DPR Dorong Harga Minyak Brent Jadi Formula ICP
Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha (Foto: inilahcom)


INILAHCOM, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha mendorong harga minyak mentah dated Brent, ditambah alpha. menjadi formula harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).

"Penggunaan acuan dated Brent plus alpha ini diharapkan mampu mendongkrak penerimaan negara dalam APBN secara signifikan. Produksi minyak mentah dalam negeri bisa meningkat di tahun-tahun mendatang," kata Satya saat diskusi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Senin (17/7/2017).



Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja, perwakilan SKK Migas Arwan, dan Calvin Lee dari Platts.

Saat ini, pemerintah masih mengevaluasi formula ICP seiring habisnya masa berlaku Kepmen ESDM No 6171 K/2/MEM/2016 tentang Penetapan Formula Harga Minyak Mentah Indonesia Periode Juli 2016-Juni 2017.


Formula ICP itu terdiri dari dated Brent ditambah alpha yang dihitung dengan mempertimbangkan kesesuaian kualitas minyak mentah, perkembangan harga minyak mentah internasional, dan ketahanan energi nasional.

Menurut Satya, Brent sudah menjadi dasar dalam pembentukan harga minyak di internasional sejak 1971. "Lebih dari 70 persen seluruh produksi minyak di dunia telah menggunakan Brent ini sebagai acuan formula harga minyak terutama di negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Iran, Irak, bahkan Malaysia memberlakukannya sejak 2011," ujar politisi Partai Golkar dari Dapil Jatim IX mencakup Bojonegoro dan Tuban.

Oleh karena itu, ia optimistis opsi penggunaan "dated Brent" oleh pemerintah bisa lebih akurat untuk mencerminkan harga sebenarnya setiap semester.

Satya yang juga Ketua DPP Partai Golkar Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup tersebut menambahkan formula ICP harus memenuhi empat prinsip utama yakni jelas, objektif dan tranparan (fairness and transparency), dapat bersaing dengan harga minyak mentah dari kawasan atau negara lain (international competitiveness), formula relatif stabil dan ICP yang dihasilkan dari formula tidak berfluktuatif (stability) dan diberlakukan dalam periode yang cukup panjang (continuity).

Kata Satya, penyesuaian formulasi harga ICP harus dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan negara, merefleksikan perkembangan pasar, dan menjamin kelancaran operasional kegiatan migas nasional. "Akurasi patokan ICP sangat krusial sebagai variabel asumsi dasar ekonomi makro APBN kita. Bisa berdampak mengurangi defisit atau menambah surplus dalam struktur penerimaan APBN," kata Satya. [tar]
#dpr #menterijonan #brent #icp
BERITA TERKAIT
Ini Cara Jonan Murahkan Harga Setrum
Tahun Ini, Jonan Bangun 2.000 Jargas Rumah Tangga
Gairahkan Hulu Migas, KESDM Meluncurkan PP 27/2017
Sri Mulyani Akui Realisasi PMN 2015 Gagal Target
Kabar Baik Investor Migas, Pajak Eksplorasi Nol
DPR Setujui PMN untuk KAI dengan Catatan
Senayan Minta Subsidi Pertanian Dipertahankan

ke atas