MOZAIK

Jumat, 11 Agustus 2017 | 08:00 WIB

Ketika Mubaligh tak Lagi Pancarkan Aura Sakral

Ketika Mubaligh tak Lagi Pancarkan Aura Sakral
(Foto: Ilustrasi)


SAAT televisi menjadi semacam tuhan baru, tak terelakkan jika budaya yang muncul adalah budaya massa, budaya pop.

Dalam kendali budaya pop, tak ayal media massa turut mengemas dakwah dan mubalighnya. Dalam budaya pop yang instan, kualifikasi mubaligh bukan pada keluasan ilmu, melainkan selera pasar. Bukan kefaqihan, tapi justru rating.


Karena itu jangan heran bila para mubaligh pun tak lagi memancarkan aura sakral. Yang ada hanya sinar lampu sorot, dan kilat kamera. Bukan min asyari sujud, melainkan polesan make up juru rias.

Pada saat seperti ini, kian terasa kita perlu para mubaligh yang istiqamah, para pewaris Nabi yang tekun menjalani jalan sunyi. Mereka yang senantiasa mengadukan setiap derita umatnya kepada Tuhan, dalam sepi dini hari. Dalam hening yang khusu', jauh dari tepuk tangan dan sorot lampu. []
#nasihat #kesalehan #ulama #dakwah #mubaligh
BERITA TERKAIT
Totalitas Rasulullah Sang Pengemban Risalah
Manusia tak Bisa Melawan Ketetapan Allah
Adab Jika Beda Pendapat dalam Perkara Fikih
Dua Penasihat Kematian dari Rasulullah
Berlebihan Jadi Beban, Sedikit Lebih Bermakna
Ternyata Boleh Menikah antara Saudara Tiri
Faedah Sedekah dari Nafkah yang Diberikan Suami

ke atas