MOZAIK

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 13:00 WIB

Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar?

Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar?
(Foto: Ilustrasi)


ADA yang bertanya kepada Syaikh Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief, Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi di sekitarnya?

Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan lalu dikubur? Lalu apakah mayat tersebut dapat mendengarkan suara-suara disekelilingnya? Saya sempat membaca sebuah hadis yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar hentakan sandal orang yang menguburkannya. Benarkah?



Sang Syaikh menjawab sebagai berikut sebagaimana dituliskan kembali oleh laman muslimorid:

Keadaan asalnya, orang mati tidak dapat mendengar, berdasarkan firman Allah Taala:

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar (QS. An Naml: 80)

Allah Subhanahu Wa Taala juga berfirman: "Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar (QS. Ar Ruum: 52)


Juga firman-Nya: Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar (QS. Fathir: 22)

Serta ayat-ayat yang lain. Selain itu, mati itu seperti tidur. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa tidur adalah Al Wafaat Ash Shughra (kematian kecil). Firman Allah Taala:

Dan Allah-lah yang mewafatkan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari (QS. Al Anam: 60)

Dan kita tahu bersama, bahwa orang yang tidur tidak bisa mendengar orang berbicara padanya. Maka orang mati tentu lebih tidak bisa lagi.

Adapun orang mati dapat mendengar suara hentakan sandal ini merupakan pengecualian khusus dari keadaan asal, pengecualian ini dikarenakan terdapat dalil yang menyebutkannya. Wallahualam.[]

Sumber: http://www.alabdulltif.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=28121
#meninggal #wafat #roh #rohgentayangan
BERITA TERKAIT
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Kekeliruan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriah
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Kekeliruan Kedua: Puasa Awal dan Akhir Tahun
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Kekeliruan Pertama: Doa Awal dan Akhir Tahun
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Sahabat Tak Lakukan Amal Sambut Tahun Baru Hijriah
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Dua Makna Di Balik Penamaan Bulan Haram
(Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah) Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

ke atas