PASAR MODAL

Minggu, 13 Agustus 2017 | 13:40 WIB

Bos OJK Harap Pasar Modal Siap Hadapi Tantangan

Bos OJK Harap Pasar Modal Siap Hadapi Tantangan
Ketua OJK Wimboh Santoso (Foto: Inilahcom)
INILAHCOM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan industri pasar modal Indonesia yang telah memasuki usia 40 tahun makin matang dalam menghadapi persaingan dan tantangan global.

"Dengan dukungan infrastruktur yang lebih mumpuni, kinerja emiten positif, regulator, dan seluruh insan Pasar Modal Indonesia, saya meyakini kita mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia," kata Ketua OJK Wimboh Santoso dalam sambutan peringatan HUT Ke-40 Pasar Modal Indonesia bertema Langkah Baru Kedewasaan Pasar Modal di Jakarta, Minggu (13/8/2017).

Dalam rangka memperingati momentum bersejarah bagi Pasar Modal Indonesia yang kini genap menapaki usia 40 tahun sejak aktif kembali pada tahun 1977, Wimboh Santoso juga mengharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih merasakan dampak positifnya.

"Memasuki usia 40 tahun berarti Pasar Modal Indonesia telah memasuki usia matang dan siap untuk memetik hasil yang telah ditanam," ujarnya.

Jika menoleh kebelakang 4 dasawarsa lalu, dia menceritakan bahwa pada tahun 1977 posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 98,00 poin, sementara per 11 Agustus 2017, IHSG sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000 persen.

Sementara itu, lanjut dia, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia pada tahun 1977 sebesar Rp2,73 miliar, sedangkan per 11 Agustus 2017 nilai kapitalisasinya sudah mencapai Rp6.319,55 triliun.

"Pada saat itu mungkin tidak terbayangkan oleh kita bahwa pasar modal Indonesia akan berkembang sedemikian pesat, bahkan saat ini pasar modal kita mulai disejajarkan dengan beberapa negara maju, baik di kawasan ASEAN maupun dunia," kata Wimboh Santoso.

Ia menambahkan bahwa industri pasar modal Indonesia saat ini juga sudah menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi para investor, baik lokal maupun asing.

Wimboh mengatakan bahwa pasar modal Indonesia juga sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang (source of longterm financing) yang penting bagi dunia usaha, dan juga pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan nasional, khususnya infrastruktur di tengah mulai terbatasnya pembiayaan dari sektor perbankan.


"Sebagaimana kita ketahui, saat ini pemerintah sedang gencar melakukan pembangunan berbagai sarana infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan, tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, dan bandara yang semuanya tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit," katanya.

Jika keseluruhan pembiayaan pembangunan infrastruktur tersebut mengandalkan APBN, menurut dia, tentunya tidak akan mencukupi. APBN yang tersedia dalam 5 tahun diperkirakan hanya Rp1.500 triliun, sementara kebutuhan pembangunan diperkirakan lebih dari Rp5.000 triliun.

Untuk memperoleh tambahan dana pembangunan infrastruktur itu, Wimboh Santoso menyebutkan salah satu strategi yang saat ini dipilih adalah melalui pemanfaatan berbagai instrumen pembiayaan di sektor pasar modal, mulai dari instrumen konvensional, seperti saham dan obligasi.

"Selain saham dan obligasi, instrumen investasi turunannya, seperti Dana Investasi Infrastruktur berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK)), Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Real Estate (DEIRE), baik konvensional maupun Syariah, Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, Dana Investasi Multi Aset berbentuk KIK," jelasnya.

Banteng Wulung Dalam peringatan HUT Ke-40 Pasar Modal Indonesia bertema Langkah Baru Kedewasaan Pasar Modal itu juga diresmikan patung banteng bernama "Banteng Wulung" (IDX Bull Statue) seberat sekitar 7 ton sebagai ikon pengharapan positif terhadap industri pasar modal domestik agar terus mencatatkan pertumbuhan.

"Banteng Wulung merefleksikan kondisi sebuah bursa efek sedang naik atau menguat. Bull Statue pun dimiliki oleh bursa-bursa dunia, seperti di New York, Amsterdam, Frankfurt, Bulgaria, Shanghai, Shenzhen, Korea, dan Mumbai," ujar Wimboh Santoso.

Ia menambahkan bahwa peresmian Banteng Wulung itu juga merupakan ikon tersendiri yang menjadi kebanggaan segenap pelaku pasar modal Indonesia hingga puluhan dekade mendatang.

Menurut Direktur Utama BEI Tito Sulistio, di pasar saham, banteng menjadi simbol positif bagi industri pasar modal domestik agar terus mencatatkan pertumbuhan ke depannya.

"Kami juga akan menjadi saksi sejarah simbol banteng yang menjadi karakter saham. Kami juga optimistis tingkat literasi dan inklusi pasar modal akan terus membaik," ujarnta.

Dalam HUT Pasar Modal Indonesia, juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, jajaran Dewan Komisioner OJK, serta Direksi tiga lembaga penyelenggara pasar modal (self regulatory organization/SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). [tar]
#ojk #pasar modal #wimboh santoso
BERITA TERKAIT
PT Sarana Menara Raih Kredit Bank DBS Rp350 M
Selama 2017, Pelanggan XL Naik hingga 7 Juta
(Geopolitik Yerusalem) Bukopin Hati-hati Kucurkan Kredit di 2018
Hollywood pun Membuat Film tentang Bitcoin
(Erupsi Gunung Agung) Demi Kelangsungan UMKM, BRI Siap Restrukturisasi
Maret 2018, BRI Bakal Digitalisasi Layanan UMKM
Yuk Tengok Rangkaian Kegiatan BEI Pekan Ini

ke atas