EKONOMI

Rabu, 06 September 2017 | 12:48 WIB

Penangangan Karhutla Tak Sekadar Siram Air

Penangangan Karhutla Tak Sekadar Siram Air
(Foto: Istimewa)
INILAHCOM, Jakarta - Langkah penting dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) adalah membaca situasi dan kondisi serta cara pemadamannya. Keberhasilan pemadaman juga dipengaruhi faktor teknis di lapangan, seperti metode yang digunakan juga pertimbangan aspek geografis dan klimatologis.

Menanggulangi kebakaran tidak sekadar menyiramkan air saja ke api agar padam, tapi harus dilihat dari mana sumber api, dimana posisi kepala api, bahan bakaran apa yang terbakar, topografi dan arah angin sehingga dapat disusun strategi pemadaman sehingga api dapat segera dikendalikan, jelas Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan PKHL Kementerian LHK, Raffles B Panjaitan.

Dalam penanggulangan Karhutla, Manggala Agni siap diterjunkan setiap saat dengan dibekali peralatan yang memadai. Tidak jarang lokasi kebakaran berada di lokasi dengan akses yang sulit, sehingga Manggala Agni juga disiapkan untuk menghadapi segala kondisi lapangan. Bahkan dengan dengan peralatan tangan sederhana pun pemadaman tetap dilakukan.


Kebakaran yang terjadi pada areal yang sulit dijangkau oleh kendaraan roda empat dihadapi Brigade Dalkarhutla Kementerian LHK - Manggala Agni Daops Tinanggea saat melakukan upaya penanggulangan kebakaran di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di wilayah Tinanggea, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (4/9/2017).

Kepala Daops Tinanggea menerima laporan terjadinya kebakaran dari petugas Balai TNRAW pada pukul 10.47 WITA. Selanjutnya Kepala Daops dan tim melakukan pengecekan langsung ke lapangan dan melakukan koordinasi dengan Polsek Tinanggea. Pemadaman dilakukan Manggala Agni Daops Tinanggea bersama personel Babinkamtibmas Desa Tatangge di dua titik dengan luas areal terbakar masing-masing kurang lebih 27 ha.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Sistem Peringatan Kebakaran Hutan, potensi kemudahan terjadinya kebakaran di Indonesia untuk 5 September 2017 menunjukan sebagian besar Provinsi di Indonesia pada tingkat sangat mudah terbakar. Provinsi-provinsi tersebut antara lain Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara dan sebagian kecil provinsi lain di wilayah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Untuk itu, Raffles menghimbau dan mengajak untuk bersama-sama bekerja keras, bekerja cerdas, serta tetap menggalakkan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan Karhutla. [*]
#lhk #kementerianlhk #karhutla #kebakaranhutan
BERITA TERKAIT
Inovasi Manggala Agni: Cuka Kayu Limbah Buka Lahan
KLHK Tambah 20 Regu Brigade Pengendalian Karhutla
Dunia Perlu Belajar Kelola Gambut dari Indonesia
RI Ajak Dunia Gotong Royong Atasi Perubahan Iklim
Menteri LHK Sampaikan Dukacita Gempa Irak & Iran
Pemanfaatan Pekarangan Efektif Cegah Karhutla
Perhutanan Sosial, Aksi Mitigasi & Perubahan Iklim

ke atas