EKONOMI

Kamis, 14 September 2017 | 04:10 WIB

Sumairah Meraup Berkah dari Kain Limbah

Ahmad Munjin
Sumairah Meraup Berkah dari Kain Limbah
(Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Bogor-Di tangan kreatif Sumairah (47), seorang ibu rumah tangga, kain sisa limbah pabrik bisa menjadi produk fashion yang menggiurkan secara ekonomi. Betapa tidak, laba bersih per bulan dari usaha home industry ini bisa mencapai Rp30 juta alias Rp1 juta per hari.

Sumairah merupakan pengusaha kategori mikro di Citeureup Bogor asal Madura. Bersama suaminya, ibu dua anak ini mengadu nasib ke Jakarta pada 1981 dan mencoba peruntungan dengan berjualan sate. Ya jualan sate dan tentunya adalah sate khas Madura.

Pada 1991, Sumairah pindah ke Citeureup, Bogor Jawa Barat dan kemudian berjualan ayam potong. Selain itu, bersama suami, dia juga melakukan jual beli besi bekas. Dalam sebulan bisa menjual 40-50 ton dengan margin keuntungan Rp500-Rp2.000 per kg tergantung kondisi besi yang dijual.

Singkat cerita, pada 2005, Sumairah bertandang ke Bank Syariah Mandiri (BSM) KCP Citeureup untuk mengajukan pinjaman. Dengan bekal agunan sertifikat tanah, Sumairah mendapat pinjaman sebesar Rp100 juta untuk pengembangan dagang satenya.

Setelah pinjaman tersebut lunas, pada 2014, Sumairah melanjutkan ekspansi usaha dengan membuka jenis usaha baru, yakni konveksi. Dengan modal jaminan deposito di BSM sekitar Rp230 juta, Sumairah kembali mendapatkan guyuran dana untuk kali kedua sebesar Rp200 juta.

Awalnya, mau kerja enggak bisa karena mesin hanya punya satu. Karyawan pun, hanya satu. Setelah menjalankan bisnis konveksi dengan bantuan dana dari BSM, sekarang saya sudah punya 6 karyawan. Usaha ini melengkapi dagang sate dan jual beli besi bekas, ungkap dia kepada awak media saat acara kunjungan BSM ke nasabah, di Kampung Sireum Kilang RT 04/RW 08, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Rabu (13/9/2017).

Uniknya, usaha yang dikembangkan Sumairah bukanlah konveksi biasa. Dia menjadikan kain limbah bekas pabrik sebagai bahan baku. Selain harganya murah, pasokan pun diakuinya cukup gampang. Pabrik dibersihkan oleh lapak, lalu dijual ke kami. Kami belanja bahan satu kali sebulan Rp5-10 juta, ucapnya.

Dengan bahan baku kain limbah, biaya produksi home industri yang mengusung merek HS alias Hj. Sumairah ini, 75% lebih murah dibandingkan kain roll. Harga jual pun menjadi lebih murah 40% dibandingkan yang berasal dari bahan nonlimbah. Sisa keuntungan bersih sebesar 35% dari total biaya produksi. Meskipun, keuntungan ini lebih rendah dibandingkan margin dari jualan sate yang mencapai 60%, ungkap dia.

Kami beli bahan bekas, yakni sisa potongan limbah kain dari pabrik-pabrik. Kami tidak beli kain utuh roll. Saat Lebaran baru beli untuk campuran. Kami tidak memproduksi jilbab dan mukena. Yang kami produksi kaos, gamis dari besar sampai kecil. Menjahit sendiri, jual sendiri. Yang tidak laku bisa ditukar. Minimal pembelian satu kodi untuk dijual kembali (reseler). Sedangkan untuk kain potongan-potongan kecil dibuat celana dalam, tutur Sumairah.

Setiap karyawan memproduksi 60 item per hari. Pada Sabtu dan Minggu, mereka libur dari sisi produksi, tapi keliling melakukan penjualan. Bisa juga beberapa karyawan suatu PT datang mengambil barang dari sini untuk dijual kembali ke karyawan di tempat mereka bekerja. Kadang ada pesanan dari perorangan, katanya.

Semua gaji karyawan Sumairah senilai Rp2 juta per bulan (selain margin dari jualan sendiri) ditransferkan melalui tabungan BSM. Akan tetapi, jika karyawan melakukan kasbon, suatu fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawannya untuk mengambil sebagian gaji yang akan diterimanya, gaji diberikan secara tunai.

Produk termahal yang dijual Sumairah Rp250 ribu. Akan tetapi, harga pasaran atau rata-rata sebesar Rp150 ribu dibayar kontan. Setelah modal pertama dari BSM Rp100 juta dan kedua Rp200 juta, sekarang sudah 3 kali, yang terakhir Rp200 juta dan sudah masuk cicilan keenam, Sumairah menambahkan. Saya memilih BSM karena berkah saja yang terasa dari lancarnya cicilan.


Saat ini, Sumairah sudah punya dua toko di Citeureup dan Madura. Hingga akhir 2017, dia berencana untuk membuka tiga toko lagi di Madura yang ditempatkan di level kecamatan dan kabupaten. Biaya untuk satu toko modal Rp50 juta untuk bangunan dan Rp100 juta lebih plus isi toko. Untuk isi toko akan dikirim dari sini, ucapnya.

Ditanya kesulitan apa yang utama dalam menjalankan usaha ini, Sumairah menyebutkan pemasaran. Kesulitan pemasaran, tapi ada saja sih (yang beli), kata dia seraya tersenyum simpul.

Alhasil, sejak saat itu, literasi keuangan Sumairah pun meningkat. Selain deposito yang diagunkan itu, dia juga mulai menyicil emas, dan memiliki produk asuransi AXA Mandiri. Ini merupakan lompatan besar bagi Sumairah yang terbiasa bertahun-tahun menyimpan uang di bawah kasur sebelum tahun 2000-an.

Tanpa ia sadari, kebiasaan tersebut telah mengakumulasi uang pecahan Rp100.000 sebanyak 1.300 lembar, yaitu Rp130 juta. Saat ditemukan, lembaran-lembaran uang tersebut hanya menyisakan bahan pelastiknya.

Uang itu 100-an ribu. Ada orang yang mau menukarkan uang tersebut ke BI tapi orangnya malah hilang bersama uang-uangnya itu. Itu uang sudah bertahun-tahun. Lagi beres-beres ketemu, diangkat ternyata uang. Sebelum tahun 2000 saya biasa taruh uang di bawah kasur, papar Sumairah.

Sumairah mendapatkan bagi hasil spesial yang dibayarkan ke BSM sebesar 18% per tahun. Angka ini lebih rendah dari sistem bagi hasil yang dibayarkan pada pinjaman pertama, yakni sebesar 20% per tahun.

Pada kesempatan yang sama, Niken Larasati, Branch Manager Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu (KCP) Citeureup mengatakan, Sumairah termasuk ke dalam kategori kreditor lancar. Beliau berkenan mempromosikan BSM ke teman-teman bisnisnya, kata dia.

Agar usaha home industry seperti yang dijalankan Sumairah masuk kategori bankable, pihak BSM melakukan BI checking, wawancara, dan menyusun laporan keuangan sederhana yang didapat dari kwitansi-kwitansi jual-beli. Setelah itu, kami memantau kelancaran cicilan 6 bulan pertama, papar Niken.

Saat ini, 40% kredit mikro merupakan ibu rumah tangga produktif. Sementara itu, kelancaran bukan hanya dilihat dari sisi besarnya nilai bisnis tapi karakter. Karakter ibu rumah tangga adalah disiplin, kata dia tandas.

BSM juga melakukan pendampingan yang salah satunya dengan mengadakan kunjungan ke nasabah dengan frekuensi minimal 1 bulan sekali sekaligus mengecek kelancaran anggsuran dan remainder jatuh tempo.

Lebih jauh Niken menjelaskan, pihaknya mempertemukan para nasabah yang beraneka ragam untuk membantu pemasaran. Ke depan, nasabah juga akan dibantu dengan digital marketing untuk pemasaran. Untuk saat ini, nasabah seperti Sumairah belum melakukan penjualan di internet karena kurang mengerti teknologi.

Begitu juga dengan pelatihan pedagang pasar per segmen untuk meningkatkan chanel marketing, ucap dia.

Selain itu, mikrobanking manager mengadakan pendampingan secara personal dalam bentuk saran ketika nasabah bertanya. Tapi ada juga edukasi formal, ada kurikulum yang berlaku nasional. Materi mandatory. Hanya saja, yang paling efektik justru yang informal. Diskusi sambil silaturrahim, timpal Niken. [jin]
#Sumairah #LimbahKain
BERITA TERKAIT
Ritel Lesu, Pertamina Retail Ogah Tambah Bright
Ini Respon Pertamina dengan Lesunya Sektor Retail
(Jelang Meeting IMF-WB 2018) Jokowi Terima Delegasi World Bank di Istana Bogor
Pemuda Kembali Bertani Terpikat Mekanisasi
Jual Aset Negara Dibungkus Holdingisasi BUMN?
Negara Dibikin Sulit Cabai & Bawang, Ini Hikmahnya
Kemenperin Sesumbar Ekspor Mebel US$2 Miliar

ke atas