GAYA HIDUP

Kamis, 05 Oktober 2017 | 10:50 WIB

GenRe Beraksi Tekan Angka Pernikahan Dini di NTB

Mia Umi Kartikawati
GenRe Beraksi Tekan Angka Pernikahan Dini di NTB
(Foto: istimewa)


INILAHCOM, Mataram - Zul dan Mega, sepasang Duta GenRe Tahun 2017 menjelaskan berbagai upaya menumbuhkan kesadaran di dalam diri remaja dan anak muda di NTB untuk tidak menikah di usia muda.

Tidak menikah di usia muda mencakup di bawah usia 21 untuk perempuan dan dibawah usia 25 untuk laki-laki. Selain itu, Forum GenRe NTB juga melakukan pemberdayaan potensi remaja dan pemuda di NTB lewat berbagai program dan kegiatan.

Perlu diketahui, berdasar hasil pendataan keluarga tahun 2015, angka pernikahan dini di NTB mencapai angka 5,81 persen. Angka tersebut berkorelasi kuat dengan tingginya jumlah janda dan duda yang mencapai angka 21,55 persen, dimana sebagiannya muncul akibat tingginya angka perceraian.

Misalnya Kolaborasi Aksi, yaitu kegiatan yang diselenggarakan selama bulan ramadan lalu, dimana Forum GenRe bekerja dengan berbagai komunitas untuk menggelar acara pendidikan agama non-formal bersama dan membuka konseling bagi remaja dan pemuda.

"Kita ini dari jalur pendidikan, dari kegiatan yang sudah kita lakukan, seperti kemarin di bulan puasa, kita membuat kolaborasi aksi. Jadi kita mengajak semua komunitas yang ada di NTB, khususnya di Kota Mataram itu ada teman-teman dari Genbi (Generasi Baru Indonesia), itu para penerima beasiswa Bank Indonesia, terus ada Genpi (Generasi Pesona Indonesia), itu kita buat acara bareng di Islamic Center," ungkap Mega seperti yang dikutip dari siaran pers, baru - baru ini.


Kepala BKKBN NTB, Lalu Makripudin, di sela acara Aksi GenRe Akademi Kreatif Santri Berbasis Pondok Pesantren 2017 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Qamarul Huda menjelaskan, tingginya pernikahan dini di NTB tak lepas dari kultur yang terbentuk dalam masyarakat soal pernikahan. Menurutnya, masyarakat NTB telah sejak lama memiliki pola pikir bahwa pernikahan adalah sebuah pencapaian dan solusi dari berbagai masalah.

Hal tersebutlah yang dikatakan Lalu sebagai masalah besar dalam upaya menekan angka pernikahan diri di NTB. Meski begitu, Lalu menegaskan, pihaknya akan terus bekerja keras untuk menekan tingginya angka pernikahan dini yang kerap kali berujung pada perceraian dan permasalahan pengasuhan anak.

"Jadi memang ini (pernikahan dini) sudah terbentuk secara kultur masyarakat, secara mindset, bagaimana pernikahan itu adalah suatu capaian penting bagi masyarakat. Itu mengapa banyak sekali anak-anak yang dinikahkan oleh orang tua mereka di usia muda. Dan ini yang akan terus kita upayakan dan jadi fokus kita," kata Lalu.

Sementara itu, dalam sambutannya di acara Aksi GenRe di Pondok Pesantren Qamarul Huda, Kepala BKKBN, Surya Chandra Surapaty mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berperan aktif menyukseskan program pemerintah terkait pengendalian penduduk dan pengembangan manusia berbasis keluarga.

Menurut Surya Chandra, hal tersebut merupakan hal yang sangat penting, terlebih Indonesia akan memasuki era bonus demografi pada tahun 2020 hingga tahun 2030 mendatang. Pada era itu, kualitas sumber daya manusia diharapkan dalam tingkatan yang cukup baik untuk mendongkrak posisi bangsa dalam kancah internasional.

"Jadi sangat penting untuk generasi-generasi penerus ini dipersiapkan sebagai manusia-manusia yang unggul. Bonus demografi secara nasional ini kan akan masuk pada tahun 2020 hingga 2030. Itu secara nasional. Pada masa itu, kita semua harus bekerja keras dengan kualitas terbaik yang dimiliki," papar Surya.
#GenRe #angka #pernikahan #dini #remaja #anak #muda #usia
BERITA TERKAIT
Perhatikan, Ini Tanda Anak Berkembang
Mulai Gaya Hidup Sehat dengan Sayur-Buah Organik
Yuk Makin Rajin Konsumsi Sayur Segar
Paperun, Charity Fun Run 5K Berlari Sambil Beramal
Pentingnya Menjaga Diri Saat di Jalan Raya
Intip Tujuh Menu Baru Mango Mango Indonesia
Philips CEC Buka Gerai untuk Gaya Hidup Sehat

ke atas