MOZAIK

Jumat, 10 November 2017 | 00:02 WIB

Oleh-oleh dari Desa: Bahagia itu Masalah Hati

KH Ahmad Imam Mawardi
Oleh-oleh dari Desa: Bahagia itu Masalah Hati
(Foto: Ilustrasi)
DI DESA ada seorang nenek yang jualannya sejak saya sekolah SD sampai kini tetap saja tak ada yang berubah, es sitrup campur kacang. Minuman sederhana yang hanya laku di desa dan pangsa pasarnya adalah anak-anak kecil yang uang sangu sekolahnya tidak seberapa. Dari sisi ilmu bisnis modern, nenek ini gagal dan menampakkan kegagalannya dengan tiadanya kemajuan omzet dan variasi dagangan.

Saat saya mudik saya sempatkan ketemu nenek ini dan bertanya tentang penghasilan dagangannya ini. Dengan tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang tinggal satu setengah beliau berkata: "Aduh nak, kalau keuntungan yang kamu maksud itu uang, ya tidak ada nak. Pas-pasan saja dengan modal. Tapi saya senang dan bahagia melihat bahagia dan cerianya anak kecil yang beli es sitrup saya ini. Itulah keuntungan saya."


Jawabannya sungguh menohok kesadaran saya yang sok modern ini yang terbiasa menyamakan keuntungan dengan uang. Keuntungan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan hati. Buat apa perputaran bisnis lancar, tapi perputaran hidup tersendat-sendat dengan pertengkaran. Buat apa untung uangnya banyak, sementara keberuntungan hati tiada.

Orang modern itu sepertinya mulai terbiasa membendakan sesuatu yang sesungguhnya bukan benda, menilai dengan uang segala sesuatu yang pada asalnya harus dinilai dengan hati. Inilah yang menyebabkan lahirnya penyakit kekeringan spiritual dan kemunculan musim kemaraunya kebahagiaan dan keceriaan.

Kembali ke tradisi lama, retradisionalism, bisa jadi alternatif menemukan kembali kebahagiaan yang hilang. Salam, AIM. [*]
#PencerahHati #Pencerah Hati #AhmadImamMawardi
BERITA TERKAIT
Pria Kekar Vs Anak Kecil: Kelebihan Orang Berilmu
Cara Islami Menghadapi Maling
Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang
Risalah Ilahi Memenangkan Mereka yang Terdzalimi
Kursi Bisa Lebih Mulia dari yang Mendudukinya
Mengambil Hikmah dari Tanah
Tertawa Bahagia Bersama Jamaah Tertua

ke atas