DUNIA

Selasa, 14 November 2017 | 03:01 WIB
(Kembalikan Penghargaan)

Musisi Bob Geldof Kecam Keras Aung San Suu Kyi

Musisi Bob Geldof Kecam Keras Aung San Suu Kyi
(ist)
INILAHCOM, Dublin - Musisi legendaris penggagas konser Live Aid, Bob Geldof, mengembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin sebagai protes atas pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, yang juga dianugerahi penghargaan tersebut.

Geldof yang berasal dari Irlandia mengatakan bahwa keterkaitan Suu Kyi dengan Kota Dublin adalah hal yang memalukan.

Suu Kyi mendapat kecaman luas dari berbagai penjuru dunia atas sikapnya yang cenderung pasif dalam menangani berbagai tudingan pembersihan etnis terhadap warga Muslim Rohingya Myanmar.

Lebih dari setengah juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh menyusul kekerasan yang terjadi baru-baru ini.

Geldof adalah musisi dan penggagas Live Aid, konser raksasa pada tahun 1985 yang melibatkan para pemusik top dunia untuk menggalang dana untuk membantu para korban kelaparan di Afrika.

"Hubungan (Suu Kyi) dengan kota kita membuat kita malu. Kita dulu menghormatinya, dan sekarang dia begitu mengerikan sikapnya dan mempermalukan kita," ujar Geldof dalam sebuah pernyataan yang dikutip BBC.

Dia menyerahkan kembali penghargaan tersebut di Balai Kota Dublin, ibukota Irlandia pada Senin pagi (13/11/2017) waktu setempat.

Suu Kyi mendapat kecaman dari para pemimpin internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena enggan mengakui kekerasan militer negerinya, yang oleh PBB disebut 'contoh buku teks tentang pembersihan etnis'.

Akhir pekan lalu, grup band ternama U2 yang juga berasal dari Irlandia juga mengkritik Suu Kyi, mendesaknya untuk mengambil sikap lebih tegas menentang kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan keamanan.


Dalam sebuah pernyataan di situs band tersebut, mereka menyebutkan bahwa kegagalannya dalam mengatasi krisis tersebut 'mulai terlihat seperti sebuah kesengajaan'.

"Jadi, kami katakan sekarang apa yang kami ingin nyatakan kepadanya: kekerasan dan teror yang diarahkan kepada orang-orang Rohingya merupakan kekejaman sangat mengerikan dan harus dihentikan," kata pernyataan U2.

Bulan lalu, Dewan Kota Oxford mencabut penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi, yang dianugerahkan pada tahun 1997.

Pemimpin Dewan Kota Oxford Bob Price, mengakui bahwa ini merupakan 'langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya' di kota itu.

Orang-orang 'sangat terguncang' oleh situasi di Myanmar, katanya. Dia menambahkan sikap Suu Kyi yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun tentang kekerasan yang dilaporkan di negaranya merupakan hal yang 'luar biasa'.

St Hugh's College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, pun sudah mencopot foto Aung San Suu Kyi dari dinding kampus.

Kekerasan di Rakhine meletus pada 25 Agustus 2017 ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos-pos keamanan di negara bagian Myanmar, Rakhine, yang kemudian memicu tindakan keras militer.

Puluhan orang tewas dan muncul tudingan bahwa mereka militer membakar desa-desa Rohingya dan warga Rohingya diusir.

Meski demikian, militer Myanmar berdalih bahwa mereka sekadar menumpas militan Rohingya, dan menyangkal telah memburu warga sipil.
#BobGeldof #AungSanSuuKyi #Myanmar #Rohingya
BERITA TERKAIT
UE Segera Bahas Krisis Rohingya dengan Suu Kyi
PBB: Hentikan Operasi Militer Terhadap Rohingya
Jolie Kecam Pelecehan Seksual Perempuan Rohingya
(Laporan Human Rights Watch) Tentara Myanmar Perkosa Massal Perempuan Rohingya
PBB: Tentara Myanmar Perkosa Wanita Rohingya
DK PBB Tuntut Myanmar Hentikan Kekerasan Rohingya
Pinjaman Kingdom Holding Saudi Ditolak Kreditur

ke atas