MOZAIK

Jumat, 08 Desember 2017 | 07:00 WIB

Bagaimana Jika Dipaksa Murtad dengan Ancaman?

Bagaimana Jika Dipaksa Murtad dengan Ancaman?
(Foto: Ilustrasi)
BAGAIMANA jika ada yang dipaksa dengan ancaman dibunuh untuk mengucapkan kalimat kufur, lantas ia mengucapkannya? Atau bagaimana jika ia dipaksa untuk murtad? Tentang masalah tersebut, mari kita perhatikan dalil-dalil berikut ini.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahl: 106)

Dalam hadits disebutkan bahwa orang-orang musyrik pernah menyiksa Ammar bin Yasir. Ia tidaklah dilepas sampai mencela Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyanjung dengan kebaikan pada sesembehan orang musyrik. Lalu setelah itu ia pun dilepas. Ketika Ammar mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia pun ditanya oleh Rasul, Apa yang terjadi padamu? Sial, wahai Rasulullah. Aku tidaklah dilepas sampai aku mencelamu dan menyanjung-nyanjung sesembahan mereka.


Rasul balik bertanya, Bagaimana hatimu saat itu? Ia menjawab, Hatiku tetap dalam keadaan tenang dengan iman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam kembali mengatakan, Kalau mereka memaksa (menyiksa) lagi, silakan engkau mengulanginya lagi seperti tadi. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2: 389; Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 8: 208. Sanad hadits ini dhaif. Namun ada banyak jalur periwayatan kisah ini. Intinya kisah ini masih memiliki asal. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 12: 312 menyatakan bahwa hadits ini termasuk hadits mursal yang saling menguatkan satu dan lainnya)

Ibnu Hazm juga menyatakan ada klaim ijma dalam hal ini. Beliau berkata dalam Maratib Al-Ijma, hlm. 61, Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa berbuat kufur sedangkan hatinya dalam keadaan tenang di atas iman, ia tidak dihukumi kufur di sisi Allah Taala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Istiqamah (2: 210) berkata, Oleh karena itu, kami tidak ada silang pendapat mengenai hukum bagi orang yang dipaksa tanpa jalan yang benar bahwa tidak dikenakan hukum padanya. Juga dalam Ensiklopedia Fikih, Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah (22: 182) disebutkan, Para fuqaha sepakat bahwa siapa yang dipaksa untuk melakukan suatu kekufuran lantas ia mengucapkan kalimat kufur, maka tidak divonis sebagai orang kafir.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya (14: 223) mengatakan, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menyatakan bahwa siapa saja yang kufur setelah sebelumnya ia beriman, maka baginya murka Allah dan baginya siksa yang pedih. Namun siapa yang dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur, namun hatinya tetap masih dalam keadaan iman, ia mengucapkannya hanya ingin menyelamatkan diri dari musuhnya, maka seperti itu tidaklah mengapa. Karena Allah Taala menghukumi hamba hanya karena kekufuran yang ia ridhai dalam hatinya.

[baca lanjutan: 2 Macam Pemaksaan, Beda Cara Menghadapinya]
#Murtad #Ancaman #Dosa #Kafir #HukumIslam
BERITA TERKAIT
Jangan Boros Air! Ini Cara Wudu Rasulullah
Inilah Wujud Realisasi Tujuan Penciptaan Manusia
Sadarilah Tujuan Penciptaan Manusia
Apabila Meninggalkan Rukun Islam: Puasa Ramadan
Apabila Meninggalkan Rukun Islam: Salat
Ingatlah! Riba akan Hancur, Sedekah akan Subur
Ini Makna Asli Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

ke atas