MOZAIK

Sabtu, 13 Januari 2018 | 18:00 WIB
(Syair)

Dimanakah Sang Kekasih?

Dimanakah Sang Kekasih?
(Foto: ilustrasi)
Betapa tak kan sedih aku, bagai malam, tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku: semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.


Titik air mata demi Dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan kutertawakan seluruh dalihnya.



Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang Maha Benar, O Engkaulah Mimbar Agung, dan akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu? Di manakah sang Kekasih, di manakah kita dan aku?
O Engkau, Jiwa yang bebas dari kita dan aku, O Engkaulah hakikat ruh lelaki dan wanita.


Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan aku dan kita supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh aku dan engkau dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang Kekasih.


[Rumi]
#puisi # syair # rumi # tasawuf # sufi
BERITA TERKAIT
(Syair) Pinjaman Mimpi
(Syair) Malang Melintang
(Syair) Doa Merasuki Sanubari
(Syair) Mengeluh dan Mengaduh
(Syair) Krakatau dalam Diriku
(Syair) Engkau Ibu dan Aku Anakmu
(Syair) Menuju Laut

ke atas