HIBURAN

Sabtu, 20 September 2008 | 17:09 WIB
(Goyang Indonesia untuk Dunia (3-Tamat))

Dangdut Pun Tembus Amerika

Babyrock
Dangdut Pun Tembus Amerika
Rhoma Irama

INILAH.COM, Jakarta - Setelah tergerus revolusi pop dunia pada era 1960-an, sejumlah musisi dangdut tidak tinggal diam. Berbagai pengayaan terhadap musik dangdut terus terjadi hingga kini, hingga akhirnya bisa mendapat tempat di mancanegara.Di awal 1970-an, seorang musisi muda yang awalnya banyak memainkan musik-musik rock milik Led Zeppelin atau Deep Purple diam-diam sedang melakukan sebuah revolusi untuk musik dangdut. Ya, Rhoma Irama, musisi muda itu, akhirnya 'mengawinkan' musik dangdut dengan musik rock yang biasa ia mainkan. Tujuannya? "Agar musik dangdut naik kelas. Sebelumnya musik dangdut kan cuma didengar oleh kalangan bawah saja, tetapi saya ingin dengan nuansa musik rock, dangdut bisa dinikmati oleh lapisan atas juga," ungkap Bang Haji, sapaan akrab Rhoma.Tak sekadar musik, dari segi lirik dan aransemen pun dirombaknya. "Orkes Melayu itu dulunya identik dengan lirik ninabobo, mendayu-dayu, kepedihan, dan ratapan. Saya ubah dengan lirik yang optimistis dan dinamis," kata Rhoma Irama.Tak hanya urusan lirik, Rhoma melakukan pengayaan musikal dengan memasukkan unsur-unsur rock, bahkan heavy metal.Lebih dari itu, Rhoma Irama pun kemudian 'mengislamkan' dangdut. Ia menegaskan bahwa Orkes Melayu Soneta adalah sound of moslem. Revolusi yang dibawa Rhoma ini ternyata tak hanya mengubah wajah dangdut, melainkan juga sekalian memperluas publiknya; tak hanya kaum pinggiran, juga generasi muda perkotaan yang tergila-gila rock. Selain Rhoma, di generasi yang sama lahir pula nama lain, seperti Elvie Sukaesih, A Rafiq, dan Mansyur S. Upaya keras generasi dangdut ini menampakkan hasil. Kaset rekaman mereka laku keras. Bahkan dari segi jumlah mulai jauh mengungguli rekan-rekan mereka dari aliran musik pop. Dangdut pun mengambil tahtanya kembali sebagai 'poros' musik di Tanah Air

Bahkan, sebuah konser musik digelar untuk mengadu kehebatan antara musik rcok dengan musik dangdut, yakni konser bertajuk God Bless Vs Soneta Grup yang berlangsung di Istora Senayan, 22 Desember 1977. Konser itu dimaksudkan melihat yang mana lebih hebat, rock atau dangdut. Konser sempat rusuh. Padahal, sebelum manggung Rhoma melepaskan burung dara putih sebagai tanda perdamaian.Yang jelas, perlahan irama pop Melayu menjadi tren. Pada akhir 1970-an, jagat musik di sini diramaikan para penyanyi pop papan atas yang mencoba mendulang rezeki dari irama Melayu. Masih jelas dalam ingatan bagaimana Yok Koeswoyo dari Koes Plus merekam Cubit-cubitan yang berirama dangdut. Atau bagaimana Ucok Harahap membuat rock dangdut, dan Ahmad Albar menyanyikan Zakia.Dangdut pun go international sejak Camelia Malik dan Reynold Panggabean dengan grup Tarantula-nya manggung di pusat hiburan Shibuya, Tokyo, Jepang, selama tiga hari berturut-turut. Atau ketika Fahmi Shahab, Hetty Sunjaya, dan Elvie Sukaesih juga mentas di Negeri Sakura itu. Lagu Kopi Dangdut Fahmi bahkan sempat menduduki posisi nomor empat di tangga lagu Jepang, dan direkam dalam versi Jepang dengan judul Coffee Rumba.Ya, akhirnya dangdut mampu menjadi musik yang diperhitungkan. Tidak kalah dengan genre musik lainnya. Jadi memang tidak ada salahnya kalau dangdut kini siap untuk go international.Bukan sesuatu yang tidak mungkin membuat dangdut dengan lirik lagu berbahasa Inggris. Lihat saja, bagaimana Orkes Melayu PSP (Pancaran Sinar Petromaks) dan Warkop DKI pada penghujung 1970-an mendekonstruksi beberapa hit pop Barat menjadi langgam versi dangdut yang unik, seenaknya, dan sungguh nyaman dipakai bergoyang. My Bonnie, Oh Carol, Send Me the Pillow, Bye Bye Love, dan sederet lagu Barat lain disulap dengan bumbu dangdut menjadi hit baru yang digandrungi massa. Dan kini, melalui program Dangdut in America, baik dalam bentuk audisi dan dalam format album rekaman di negara Adi Daya itu, musik dangdut telah tiba di gerbang pasar musik internasional. Dangdut siap menggoyang dunia. [Tamat/L1]

BERITA TERKAIT
Band Asal Bengkulu Ini Siap Warnai Belantika Musik
Nikita Dompas Membidani Album MLD Jazz Project
(Studio Rekaman Bersejarah di Solo) Bung Karno Hingga Gesang Rekaman di Lokananta
Rating Televisi di Indonesia Masih Dipertanyakan
Indah Dewi Pertiwi Kurangi Manggung Sejak Berhijab
Ringgo Agus Rahman Dapat Kejutan Manis dari Ayah
Duh! Sandra Dewi Tak Sanggup Beli Kado untuk Suami

ke atas