EKONOMI
twitter facebook
Senin, 27 September 2010 | 16:29 WIB

Forum Kelapa Sawit Dinilai Alat Kolonialisme Negara Maju

Oleh:
Forum Kelapa Sawit Dinilai Alat Kolonialisme Negara Maju
Dradjat Wibowo - inilah.com
INILAH.COM, Jakarta - Forum Mejabundar Kelapa Sawit yang Lestari (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) dinilai sebagai alat kolonialisme ekonomi para pembeli dari negara industri maju.

Penilaian itu disampaikan ekonom dari Sustainable Development Indonesia (SDI) Dradjat H. Wibowo di Jakarta, Senin (27/9). Dia meminta pemerintah bersama para produsen minyak sawit Indonesia harus bersatu membela kekuatan para pembeli yang mendominasi RSPO.

Pernyataan itu mendukung pernyataan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat yang menyatakan pihaknya akan melakukan pembelaan resmi terhadap produsen minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional.

Pembelaan itu, menurut Drajat perlu dilakukan mengingat seringnya industri Indonesia mendapat perlakuan tidak adil dalam kancah perdagangan internasional, termasuk dari RSPO. "Pengalaman dari forum-forum seperti ini memang menunjukkan bahwa kekuatan negara-negara maju sebagai pembeli lebih dominan. Karena itu, negara-negara produsen atau para produsen perlu menggalang kekuatan bersama sehingga mampu memecah kekuatan negara-negara konsumen," ujar Dradjat Wibowo.

"Roundtable on Sustainable Palm Oil" merupakan forum kumpulan produsen, pedagang, dan perusahaan konsumen CPO yang dibentuk pada 2004. Awalnya RSPO dibentuk sebagai upaya untuk meningkatkan dan mendorong terbentuknya industri kelapa sawit yang sesuai dengan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan.

Namun, Dradjad H. Wibowo menengarai saat ini RSPO lebih berpihak kepada kepentingan-kepentingan kalangan pembeli minyak sawit yang menjadi anggotanya. Dengan demikian, RSPO telah berubah menjadi kendaraan atau alat untuk menekan para produsen minyak kelapa sawit.

"Ini akan menjadi alat kolonialisme negara-negara industri maju yang menjadi konsumen bila dibiarkan terus-menerus. Kolonialisme ini akan semakin kuat mencengkram kalau di antara negara-negara produsen justru saling bersaing dan tidak bersatu," ujar Dradjat.

Menurut Dradjad Wibowo, hanya tinggal soal waktu saja sebelum masing-masing produsen anggota RSPO maupun non-anggota RSPO akan mengalami tekanan-tekanan dan dipersulit menjual produksinya dengan berbagai alasan.

Kekuatan para pembeli dalam RSPO bila tidak ditandingi oleh kekompakan para produsen, menurut dia, akan menyebabkan semakin kuatnya "buyers market". Dalam kondisi ini pasar akan semakin kuat dikendalikan dan ditentukan oleh para pembeli.

"Kalau tidak aktif bergerak dari sekarang, RSPO akan benar-benar berubah menjadi alat bagi para konsumen untuk melakukan kolonialisme dan kita akan terus menerus didikte serta dikendalikan oleh negara-negara konsumen," katanya menegaskan.

Peluang membalikkan kondisi itu menjadi producers market atau pasar yang dikendalikan oleh produsen, menurut Dradjat Wibowo sangat besar sebab CPO memiliki industri turunan yang sangat banyak.

Pada dasarnya, kata dia, produsen CPO nasional memiliki bargaining power dan bargaining position yang sangat kuat. "Karena CPO merupakan komoditas perkebunan yang memiliki produk turunan terbanyak sehingga kita memiliki peluang untuk memecah kekuatan buyers market," ujarnya. [ant/hid]
Berita Terkait
Kembali ke atas