EKONOMI
twitter facebook
Senin, 17 Maret 2008 | 00:01 WIB
Tulus Santoso

"Kendalanya di Serah Terima "

Oleh: Nusantara HK Mulkan
"Kendalanya di Serah Terima "
INILAH.COM, Jakarta - Hingga kini, disinyalir masih banyak pengembang yang belum menyerahkan kewajiban pengadaan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jumlahnya cukup fantastis; konon hingga Rp 80 triliun!
Hal ini membuat Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berang dan memerintahkan jajarannya untuk meneliti fasos dan fasum yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah.
DPRD DKI mendata, hingga kini baru 593 SIPPT (surat izin penunjukan penggunaan tanah) yang sudah diserahkan fasos/fasumnya, dengan nilai Rp 3,3 triliun. Sementara, kewajiban pengembang dari 2.619 SIPPT sejak 1971-1998 untuk menyediakan fasos dan fasum sebesar 40% dari luas tanah yang dikuasainya, mencapai Rp 80 triliun.
Namun, semua itu dibantah Tulus Santoso, Ketua DPD REI (Real Estate Indonesia) DKI Jakarta, saat INILAH.COM mewawancarainya Jumat (14/3). Berikut petikannya:
Gubernur DKI mengatakan masih banyak tunggakan fasos-fasum dari para pengembang yang belum diserahkan ke Pemprov DKI. Berapa pengembang yang belum menyerahkan?
Saya nggak tahu.
Apa kendalanya, sehingga sampai saat ini banyak pengembang yang belum menyerahkan fasum fasos ke Pemprov DKI?
Kendalanya di proses serah terima. Pihak Pemda mempersulit. Serah terima itu kalau ditunggu semua memang lama. Sebaiknya serah terima dilakukan secara parsial.
Misalnya soal tempat ibadah, karena dinamika masyarakat setempat, belum bisa dibangun. Tapi tanahnya sudah tersedia. Nah, Pemda nggak parsial begitu.
Jadi sebetulnya, sebagian besar fasum-fasos saya kira tanahnya sudah tersedia. Cuma, tanahnya nggak dipakai apa-apa. Tersedia, tapi nggak bisa diserahkan, karena bangunannya belum ada.
Kalau bisa diserahkan parsial kan minimal separuh bisa turun. Jadi sebenarnya lebih karena misleading communication. Misalnya, belum ada serah terima, jadi NJOP (nilai jual obyek pajak) dikalikan luas tanah. Padahal, misalnya taman sudah ada.
Boleh tahu nilai fasum fasos yang belum diserahkan ke Pemprov DKI?
Saya nggak tahu.
Apa betul jumlahnya sampai Rp 80 triliun?
Wah, saya kira nggak mungkin. Nilai dari tanah dan lain-lain itu yang membuat jadi misleading.
Persisnya sejak tahun berapa banyak pengembang yang belum menyerahkan fasum-fasos ke Pemprov DKI?
Itu akumulatif sejak lama. Saya kira sejak krisis sekitar 1997.
Pengembang mana saja yang hingga sekarang belum menyerahkan?
Saya juga nggak tahu. Sebetulnya, ada tunggakan atau nggak, fasilitas itu kan dalam pengerjaan sambil berjalan. Jadi kalau dibilang tunggakan, itu mana ada? Karena, pengembang jelas membangun, membuat jalan, membangun lagi sesuai tahapan pembangunan. Saya kira, ada berita yang lain dari fakta yang ada.
Misalnya untuk peruntukkan taman, tanahnya juga ada. Sekarang mana ada real estate yang nggak ada fasum fasosnya? Memangnya laku? You kalau mau beli rumah pasti yang ada fasilitasnya kan.
Jadi, Anda menilai adanya tunggakan fasum-fasos itu sebagai kesalahpahaman pemerintah?
Jadi semuanya sudah dibangun. Hanya serah terimanya yang susah. Apakah spesifikasinya nggak cocok. Tapi kan bukan berarti menjadi nol, karena sudah ada prestasi dan progresnya. Tapi karena belum diterima jadi nol.
Misalnya, tadinya harus menyerahkan bangunan senilai Rp 500 juta, tapi belum memenuhi persyaratan spesifikasi. Yang Rp 500 juta itu jadi nol. Padahal kan yang Rp 500 juta itu ada nilainya. Mungkin Rp 300 juta atau Rp 400 juta kalau diproses secara parsial.
Misalnya aspal kurang tebal, tapi jalan sudah dipakai sama penghuni. Kalau nggak ada jalan bagaimana masuknya?
Tapi, apakah benar semua pengembang memenuhi hal itu?
Namanya sudah dipakai lima atau sepuluh tahun pasti kan bisa diperbaiki. Artinya, sambil diperbaiki ya diproses serah terimanya saja secara parsial. Karena itu akan menurunkan tunggakan, tapi tidak dilakukan.
Sekitar 2006 DPD REI pernah mengajukan keringanan tunggakan. Bagaimana sekarang?
Kita nggak pernah ada yang namanya mengajukan keringanan. [E1/I4]
Kembali ke atas