INILAH.COM, Jakarta - Pengambilan gambar film-film Hollywood sudah mulai memilih lokasi di Bali dan Jawa. Sebuah perkembangan positif yang harus didukung dengan regulasi yang mendukung.
“Eat, Pray, Love” (yang dibintangi Julia Roberts), “Java Heat” (Mickey Rourke dan Kelllan Lutz), “I, Alex Cross” (Tyler Perry) adalah beberapa film yang memilih sebagian atau seluruh lokasi pengambilan gambarnya di sini.
Alam Indonesia yang lebih indah nan eksotis daripada negara lain, adalah infrastruktur yang sangat mendukung untuk memajukan bisnis film di mata dunia (Hollywood). Sebagai negara kepulauan, Indonesia punya sorga bawah laut ada di Raja Ampat (Papua Barat), Bunaken (Sulawesi Utara), Pulau Derawan (Kalimantan Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Pulau Weh (Aceh), Nusa Penida (Bali), bahkan laut mistis Samudera Indonesia.
Indonesia juga punya kaldera pasir yang luas yakni Bromo, pegunungan belerang Ijen (Jawa Timur), candi Buddha yang kokoh di Borobudur (Jawa Tengah), Danau Toba (Sumatera Utara) dan kadal raksasa komodo (NTT).
Kekayaan alam ini sangat menopang pengambilan gambar kelas dunia. Mengapa pulau-pulau karang di Phuket, Thailand Selatan, lebih dibidik oleh serial James Bond untuk lokasi shooting? Padahal pulau-pulau di nusantara bisa lebih cantik dari Phuket?
Pertama, perizinan. Pemerintah Thailand sangat sadar bahwa film yang dibuat Hollywood di Thailand akan berdampak sangat positif terhadap dunia pariwisata. Lebih dari 13 juta turis asing berkunjung ke Thailand setiap tahun, dan ini jelas menghasilkan devisa yang sangat besar. Oleh karena itu, izin pembuatan atau pengambilan gambar dipermudah, dibuat simple dan lebih professional.
Film action “Point Break” (tentang peselancar/surfer) yang dulu (1991) dibintangi Patrick Swayze dan Keanu Reeves, sedianya akan dibuat ulang di Bali tiga tahun lalu, tetapi batal meskipun produser sudah mengeluarkan duit ratusan juta rupiah.
Sumber INILAH.COM, mengungkapkan, orang yang ditunjuk oleh Warner Bros untuk mengurus izin lokasi, pengurusan equipment shooting di Ditjen Bea Cukai, tidak berpengalaman dan ternyata hanya menggerogoti uang produser.
Izin pengambilan gambar dan memasukkan equipment sangat penting untuk kepastian melakukan shooting bagi produser eksekutif mana pun.
Seorang produser eksekutif film-film laga Hollywood asal Indonesia yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di California, tahun lalu bertemu INILAH.COM di sebuah hotel di Jakarta. Ia mengungkapkan, pemerintah Indonesia harus membuat terobosan dalam kemudahan izin lokasi dan Bea & Cukai untuk equipment shooting.
“Jangan sampai izin dan urusan bea masuk jadi ajang pemerasan bagi produser eksekutif. Kita pasti membayar semua pengurusan, tapi jelas jumlahnya dan kapan keluar izin dan equipment kita,” ujarnya.
Kedua, investasi yang pertama dan penting adalah naskah cerita. Sebuah ide yang bagus, tapi tidak dituangkan dalam naskah cerita yang kuat, tentu tidak akan menghasilkan film cerita yang bagus pula. “Kalangan Hollywood sangat selektif terhadap naskah cerita ini. Keputusan deal atau tidaknya sebuah bakal filem, tergantung sekali pada naskah cerita,” ujar produser eksekutif asal Pasar Baru itu.
Filem “The Year Living Dangerously” (diambil dari judul Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1964 “Vivere peri coloso”, bahasa Italia) bercerita tentang pergolakan politik menjelang kejatuhan Presiden Soekarno (dibintangi Mel Gibson 1982) tidak didukung oleh nasakah yang kuat, sehingga film ini hanya tampil biasa-biasa saja. Lokasi pembuatan film ini di Filipina, karena pemerintah Ode Baru menolak permohonan izin produser.
Tahun lalu pengambilan gambar “Eat, Pray, Love” di Ubud, Gianyar, Bali dan menancap ke benak para penonton yang cinta Bali. Seorang teman di Barranquilla, Colombia, ingin naik sepeda seperti Julia Roberts, kalau suatu saat datang di Bali, katanya. Film tetap kuat menginspirasi orang untuk datang berwisata.
Karena itu, Menteri Marie Pangestu sangatlah tepat berkunjung ke Bali dan melihat bagaimana sutradara Rob Cohen, 62 tahun, shooting “I, Alex Cross” di dekat villanya di Jarsi, Karangasem, bulan lalu. Mudah-mudahan pemerintah membuka kedua tangan menyambut dengan hamparan red carpet buat para produser Hollywood yang mau shooting di sini dengan member izin dan gampang mengurus barang di Bea dan Cukai. [mdr]