DUNIA
twitter facebook
Jumat, 2 Desember 2011 | 06:51 WIB

Agama Pemicu Baru Konflik Antarbangsa

Oleh:
Agama Pemicu Baru Konflik Antarbangsa
inilah.com/Rino

INILAH.COM, Jakarta - Konflik Iran dan negara-negara Barat khususnya Inggris-Amerika Serikat kelihatannya sangat sulit untuk ditengahi. Situasinya semakin bertambah sulit dan rumit karena masuknya unsur keyakinan (agama) dan faktor ketidak sukaan Iran terhadap Israel yang sangat kuat.

Bagi Iran, Israel harus dihapus dari peta bumi. Iran melihat dua negara yang menjadi penghambat atas penghapusan itu adalah Inggris dan Amerika Serikat. Sehingga ketika AS dan Inggris bersama negara Eropa Bersatu lainnya, menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran, negara Islam ini semakin bertambah berang dan menyatakan siap berperang dengan mereka.

Kini kekuatiran akan meletusnya perang di kawasan Teluk Persia itu, sangat tinggi. Jika itu terjadi, perang tersebut akan menghambat semua jalur suplai dan jalur ekonomi antar dua benua yakni Eropa dan Asia. Sebab letak Teluk Persia tepat berada di garis tengah yang memisahkan Eropa dan Asia.

Jika jalur Eropa-Asia terhambat, imbas pahitnya akan dirasakan oleh hampir separuh penduduk dunia yang berjumlah 7 miliar. Tentu saja termasuk Indonesia yang penduduknya berjumlah 250 juta jiwa.

Sebagaimana dilaporkan jaringan televisi Fox, Amerika Serikat pada 7 Nopember 2011, yang membuat Iran menjadi negara yang paling keras menghadapi Barat, terutama dikarenakan oleh keyakinan (agama) !

Keyakinan para pemimpin Iran saat ini, yakni Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad adalah, hari kiamat sebentar lagi akan tiba. Sehingga bagi mereka, kalau perang merupakan hari kiamat, maka hal itu tidak harus dihindari. Memang sudah saatnya terjadi.

Hari kiamat akan ditandai oleh sebuah perang besar-besaran dengan menggunakan senjata pemusnah. Peperangan yang akan saling menghancurkan.

Sekalipun Iran tidak merujuk pada kesiapannya berperang dengan senjata nuklir, tetapi para pemimpin Iran saat ini berkeyakinan, perang melawan 'setan besar' yaitu Amerika Serikat dan 'setan kecil' yakni Israel, akan terjadi bersamaan dengan datangnya Imam Mahdi yang di ajaran Islam Shiah, disebut sebagai Imam Keduabelas.

Ali Khamenei dan Mahmoud Ahmadinejad sebagai penganut Shiah percaya bahwa di akhir zaman, Mesias (juru selamat) Shiah, yaitu Imam Mahdi akan muncul segera untuk mendirikan kerajaan Islam global yang dikenal sebagai khalifah. Sebelum kerajaan Islam global itu didirikan, dua setan yang harus dihancurkan terlebih dahulu adalah Israel dan Amerika Serikat.

Atas keyakinannya itu, Ali Khamenei bahkan menyatakan pada 2010 ia telah bertemu secara pribadi dengan Imam Mahdi. Khamenei mengklaim bahwa Imam Mahdi telah menetapkannya sebagai perwakilan Imam Keduabelas itu di bumi. Untuk itu semua umat Islam di dunia harus taat kepada dia.

Klaim Ali Khamenei ini oleh pihak intelejen Barat kemudian ditafsirkan, itulah sebabnya Khamenei terus bekerja sama dengan Ahmadinejad dan militer Iran untuk mengembangkan hulu ledak nuklir dan senjata balistik.

Mengenai Amerika Serikat yang selama ini disebut-sebut sebagai negara adidaya, oleh Presiden Ahmadinejad dinilai sebagai sesuatu yang sudah berakhir. Sama dengan Uni Sovyet yang bubar pada 1989, kini saatnya Amerika Serikat mengalami kehancuran.

Gejala kehancuran AS terlihat dari melemahnya perekonomian negara itu. Tanda-tanda lain sebagai bukti terjadinya pelemahan dan kehancuran AS, adalah keengganan Presiden Obama menghadapi Iran dengan kekerasan.

Ahmadinejad sebagaimana diucapkannya pada 26 Oktober 2005, menyatakan bahwa sesuai dengan kekuatan Allah, dunia akan segera mengalami kehidupan tanpa Amerika Serikat dan Zionisme (Israel).

Umat Shiah kata media Amerika Serikat tersebut, percaya bahwa Imam Mahdi akan datang untuk mendirikan kebenaran, keadilan dan perdamaian. Ketika ia datang, Imam Mahdi akan membawa Yesus dengannya. Yesus akan menjadi seorang Muslim dan akan berfungsi sebagai wakilnya, bukan sebagai Raja segala raja dan tuan segala tuan.

Tentang Imam Mahdi dilukiskan bahwa namanya sebenarnya Muhammad bin Hasan bin Ali. Pengikut Shiah menyakini Mahdi dilahirkan di Samarra, Irak, tahun 868 sesudah masehi.

Pada usia yang sangat muda, Ali lenyap dari masyarakat. Beberapa orang mengatakan ketika itu ia berumur empat tahun, sementara yang lain mengatakan lima dan beberapa lagi mengatakan enam tahun.

Beberapa kalangan percaya Ali jatuh ke sebuah sumur di Samarra tetapi tubuhnya tidak pernah ditemukan. Ibu Mahdi sebetulnya meletakkannya di dalam sumur untuk mencegah para pejabat pemerintah yang jahat akan menangkap dia kemudian membunuhnya. Ali kecil kemudian hanya bisa dilihat dengan mata supernatural.

Para ulama Shiah percaya Imam Mahdi akan muncul pertama kalinya di Mekkah dan menaklukkan Timur Tengah, kemudian mendirikan kantor pusat pemerintahannya atau kekhalifahannya di Irak.

Tapi ada juga yang percaya Imam Mahdi akan muncul dari salah satu sumur masjid di Iran dan kemudian melakukan perjalanan ke Mekkah dan Irak. Beberapa orang mengatakan bahwa ia akan menaklukkan Jerusalem sebelum mendirikan pemerintahannya di Irak.

Satu hal yang cukup dipercaya bahwa Imam Mahdi akan mengakhiri kemurtadan dan memurnikan korupsi dalam Islam. Ia diharapkan akan menaklukkan Teluk Jazirah, Jordania, Suriah, "Palestina," Mesir dan Afrika Utara, kemudian seluruh dunia.

Ia dan Yesus katanya akan membunuh 60 sampai 80 persen dari populasi dunia, khususnya mereka yang menolak memeluk Islam. Ayatolah Ibrahim Amini, seorang profesor di Qom, antara lain menulis bahwa Imam Mahdi akan menawarkan agama Islam kepada orang Yahudi dan Kristen. Jika mereka menerima mereka akan diselamatkan, kalau tidak mereka akan dibunuh.

Ketika Imam Mahdi menawarkan agama, nampaknya itulah awal dari bencana yang tak dapat dihindari. Perang dan pertumpahan darah tidak dapat dihindari. Dengan masuknya masalah agama dalam konflik Iran dan negara-negara Barat, secara nalar persoalannya makin menjadi sulit diselesaikan. Karena kalau sudah bicara soal keyakinan, yang salah bisa jadi benar atau sebaliknya.

Sebuah fenomena baru, setelah konflik antara ideologi, komunis versus non-komunis berakhir. Ujung-ujungnya perdebatan tanpa akhir, lalu senjata pun akhirnya berbicara. Ironis. [mdr]

Berita Terkait
Kembali ke atas