INILAHKORAN.COM - EKONOMI
twitter facebook
Senin, 26 Desember 2011 | 23:20 WIB

Petani Keluhkan Harga Akar Usar Turun

Oleh: Nul Zainulmukhtar
Petani Keluhkan Harga Akar Usar Turun
Para petani tanaman Usar (Adropogon squarosus Linn) atau akar wangi di Desa Sukakarya Kecamatan Samarang mengeluhkan harga akar wangi yang melorot cukup tajam. - inilah.com/Budiyanto

INILAH.COM, Garut - Para petani tanaman Usar (Adropogon squarosus Linn) atau akar wangi di Desa Sukakarya Kecamatan Samarang mengeluhkan harga akar wangi yang melorot cukup tajam hingga Rp1.500 perkilogram. Padahal sebelumnya, harganya berkisar Rp 3.000 perkilogram.

Menurut salah seorang petani Usar asal Kampung Cidarengdang Mamin S (27), penurunan harga usar terjadi sejak memasuki musim hujan sekitar sebulan lalu. "Mungkin karena pada musim hujan itu kandungan airnya jadi lebih banyak daripada minyaknya. Sehingga harga usar jadi murah," kata Mamin, Senin (26/12/2011).

Akar Usar atau akar wangi merupakan bahan baku untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan. Akar usar hasil panen, selanjutnya dijemur namun tidak sampai kering melainkan sampai kadar kelembaban tertentu. Setelah itu, akar usar disuling hingga diperoleh kandungan minyak atsirinya. Minyak atsiri tersebut dihargai cukup mahal sebagai bahan dasar antara lain untuk pembuatan parfum, kosmetik, dan obat-obatan.

Pengusaha minyak usar asal Kampung Lame Sahrudin (45) menyebutkan, naik turunnya harga usar tidak hanya dipengaruhi curah hujan namun juga oleh harga minyak usar itu sendiri.

Harga minyak usar, tambahnya, selama ini sangat bergantung kepada harga yang diberikan para pembeli yang umumnya dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi. Para pengusaha pengolah minyak usar sendiri tidak bisa langsung mengirim minyak usar kepada importir di luar negeri, melainkan menjualnya kepada para tengkulak. Harga minyak usar saat ini dipatok sekitar Rp750.000-Rp800.000 per kilogram. Padahal sebelumnya, minyak usar dihargai Rp1 juta per kilogram.

"Berapa mereka (para tengkulak) menjualnya ke luar, kita sendiri nggak tahu," kata Sahrudin.

Dia berharap dirinya dan para penyuling usar lainnya dapat menjual langsung hasil penyulingan minyak usar langsung kepada importir. Apalagi sekarang di Desa Sukakarya sedang dirintis pendirian koperasi petani usar. "Tapi sepertinya para bos (tengkulak) tak tertarik dengan adanya koperasi, sekali pun mereka sering diundang rapat koperasi," ujarnya.

Saat ini di Desa Sukakarya, sedikitnya terdapat sepuluh tempat penyulingan. Untuk satu kali penyulingan dibutuhkan sekitar 1,5 ton bahan baku akar usar. Dan proses sekali penyulingan menghabiskan waktu sekitar 12 jam. Kabupaten Garut sendiri dikenal sebagai daerah penghasil minyak usar atau minyak akar wangi. Kawasannya tersebar selain di Kecamatan Samarang, juga di Kecamatan Pasirwangi, Leles, dan Cigedug.[ang]

Berita Terkait
Kembali ke atas