INILAH.COM, Jakarta - Aksi saling contek-mencontek konsep maupun teknologi di Indonesia masih bisa dimaklumi. Mengapa?
Adi Haryo Pratomo, CEO dan co-founder dari startup Ruma, mengatakan bahwa menjiplak konsep dan teknologi atau dikenal dengan istilah 'cloning' tidak menjadi masalah besar di Indonesia.
"Ini karena sangat berbeda iklimnya antara di Sillicon Valley, AS, dengan Indonesia. Karena di sana sudah jauh lebih establish, sementara di Indonesia masih baru," ujar Adi di Jakarta, Selasa (17/1/2012).
CEO dari Ruma tersebut mengatakan bahwa di AS iklim di dunia startup sudah jauh lebih nyaman. Para investor pun tidak terlalu sulit untuk dimintai dananya.
"Jadi cloning merupakan salah satu hal termudah untuk dilakukan saat ini," ungkap Adi, seraya memberi contoh bahwa Groupon adalah salah satu firma yang paling sering ditiru.
"Tapi saya sendiri cenderung untuk tidak cloning, karena apabila tidak melakukan hal tersebut, kita menjadi lebih terbuka untuk inovasi-inovasi baru," tambahnya.
Startup Ruma yang dipimpin oleh Adi sendiri bergerak di dunia sosial dengan membantu warga desa berjualan dengan menggunakan perangkat ponsel, entah itu bisa melalui teknologi SMS maupun aplikasi.