INILAHKORAN.COM - SERBA-SERBI
twitter facebook
Sabtu, 21 Januari 2012 | 07:30 WIB

Situs Batu Kuda, dari Pesugihan hingga Kesaktian

Oleh: Evi Damayanti
Situs Batu Kuda, dari Pesugihan hingga Kesaktian
Di perbatasan Bandung Timur-Rancaekek tepatnya di Kampung Cikoneng RT 04/01, Cibiru Wetan, Cileunyi, Kabupaten Bandung terdapat Situs Batu Kuda. - inilah.com/Evi Damayanti

INILAH.COM, Bandung - Di perbatasan Bandung Timur-Rancaekek tepatnya di Kampung Cikoneng RT 04/01, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung terdapat Situs Batu Kuda.

Untuk sampai di situs tersebut, harus menempuh jarak 15 km dari Jalan AH Nasution persisnya dari Sindang Reret hingga menuju gerbang situs. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki menuju puncak gunung sejauh 900 meter. Situs yang berada di lahan seluas 140 hektar itu menembus jalan Cileunyi Kabupaten Bandung hingga Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Di tiga situs tersebut, ada tiga titik batu yang dianggap keramat oleh penduduk setempat. Ketiganya adalah situs utama yakni batu mirip kepala kuda atau Batu Lawang, batu ampar atau Batu Tumpeng, dan batu kursi atau Batu Jalur Puncak atau disebut juga Jalur Kraton.

Pada batu mirip kepala kuda itu, konon kuda milik tokoh dalam pewayangan yakni Semar dan Gatotkaca ditambatkan. Kemudian mereka bercengkrama sambil beristirahat di batu ampar. Sedangkan untuk pembicaraan penting, mereka melakukannya di batu kursi.

Menurut penjaga sekaligus pemandu Jajang Dedi, situs tersebut kerap dijadikan tempat untuk mendapatkan kesaktian dan juga pesugihan.

"Kami tidak bisa melarang apa pun yang mereka kehendaki, makanya kalau ada penampakan ya semua itu ditanggungnya sendiri," jelas Jajang seraya mengaku menjadi penanggung jawab situs setelah diminta kuncen pertama yakni Aki Wira.

Di hutan situs batu itu terdapat tiga lapisan pohon. Lapisan pertama adalah pohon pinus, lapisan kedua pohon bambu, dan lapisan ketiga pohon kayu campuran. Sedangkan binatang yang masih menghuni di hutan tersebut di antaranya monyet, surili, babi hutan, macan tutul, burung elang, dan binatang lainnya.

Selama 10 tahun menjaga situs, Jajang mengaku pernah mendengar suara kuda. Menurut cerita, lanjut Jajang, setiap pertemuan Eyang Semar dan Gatotkaca menyimpan kudanya tepat di batu kuda kemudian mereka beristirahat di batu ampar atau menggelar pertemuan di batu kursi.

Selain memancarkan aroma mistis, Situs Batu Kuda pun dipercaya memiliki peninggalan harta karun dan berbagai senjata perang. "Ada yang bilang di situs ini ada harta karun. Konon, pemerintahan Jepang sempat membuat uang di sini, ada juga yang bilang di sini gudang senjata bekas kerajaan dan pemerintah Belanda," tuturnya.

Sayangnya, situs batu tersebut sampai saat ini belum dikelola secara maksimal. Padahal jika dikelola dengan baik, dari situs ini diyakini akan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut Jajang, setahun lalu memang sempat ada beberapa fasilitas hiburan seperti out bond. Hanya saja, karena papan reklame ke arah situs dari jalan raya tidak ada serta pengelola arena hiburan itu tidak serius menanganinya, sejumlah fasilitas itu pun kini tinggal puing saja.[jul]

Berita Terkait
Kembali ke atas