EKONOMI
twitter facebook
Selasa, 13 Maret 2012 | 20:32 WIB
Majalah InilahREVIEW Edisi Ke-28

Industri Semen Tetap Cerah

Oleh: AS Riyanto
Industri Semen Tetap Cerah
inilah.com

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) tinggal menunggu hari. Tentunya, hal ini akan berakibat pada biaya produksi. Utamanya pada biaya transportasi semen. Sebenarnya, semen masih tetap bersinar. Seiring pembangunan di sektor infrastruktur, permintaan semen tahun ini akan lebih tinggi dari 2011.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat, estimasi kebutuhan pendanaan infrastruktur di tahun 2012 (termasuk infrastruktur di luar PU) mencapai Rp 306,1 triliun. Khusus untuk Kementerian PU, alokasi anggarannyamencapai Rp 62, 56 triliun, dan sebesar 88% (Rp 55,05 triliun) di antaranya akan digunakan untuk proyek yang sifatnya fisikatau konstruksi.

Salah satu infrastruktur yang diharapkan menarik banyak investor adalah pembangunan jalan tol. Hermanto, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, mengatakan pemerintah telah menyusun berbagai skema kerja sama dengan swasta yang bisa dijalankan dalam pembangunan tol. Salah satunya, jika sebuah ruas tol dinilai secara ekonomi layak tetapi secara finansial tidak layak, maka pembangunan konstruksinya dilakukan oleh badan usaha yang paling sedikit memerlukan dukungan pemerintah.

Kondisi tersebut membuat Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memperkirakan kebutuhan semen nasional tahun 2012 mencapai 53 juta ton. Angka ini meningkat sekitar 11% dibandingkan tahun lalu sebesar 48 juta ton.Meskipun prospek cerah, kenaikan harga BBM bisa menjadi batu sandungan industri semen. “Perusahaan semen kan mayoritas ada di Jawa, dan mereka masih banyak pakai BBM,” papar Satrio Utomo, Analis Universal Broker Securities.

Kekhawatiran serupa juga datang dari Urip Timuryono, Ketua Umum ASI. Menurutnya, dampak langsung kenaikan BBM subsidi berpengaruh terhadap distribusi semen,meskipun pabrik-pabrik semen dalam produksinya tidak menggunakan BBM subsidi. “Kalau distribusi pasti terpengaruh karena kendaran seperti truk masih pakai BBM subsidi. Ini yang akan menyebabkan kemungkinan naiknya harga semen. Tapi angkanya saya tidak tahu,” ujar Urip.

Kenaikan harga semen nanti akan tergantung dari kebijakan masing-masing perusahan semen karena terkait dengan persaingan. “Tidak bisa otomatis harga semen naik begitu saja. Karena persaingan bisnis bisa jadi pertimbangan. Misalkan perusahaan yang nanti nggak menaikkan harga semen, pasti akan diincar pasar karena harganya lebih murah,” kata Urip.

Investasi Tak Henti

Meskipun dihantui meningkatnya biaya transportasi, investasi industri semen ternyata terus meningkat. Sejumlah investor siap menggelontorkan dana Rp 57 triliun untuk membangun pabrik semen baru dengan total kapasitas produksi sekitar 30 juta ton per tahun.

Komitmen tersebut datang dari delapan investor, empa dari dalam dan sisanya dari luar negeri. Mereka akan membangun pabrik di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Jika investasi tersebut selesai dalam dua atau tiga tahun ke depan, maka total kapasitas produksi semen Indonesia mencapai 90 juta ton pada tahun 2016-2017.

Saat ini enam investor tengah melaksanakan studi kelayakan, menjalankan analisa dampak lingkungan, dan telah meneken nota kesepahaman. Mereka adalah PT Semen Gresik, PT Semen Baturaja, PT Indocement Tunggal Prakarsa melalui anak usahanya PT Sahabat Mulia Sakti, PT Semen Bosowa, Lafarge Cement Indonesia dan China Anhui Conch Group Co. Ltd. Adapun dua investor lainnya adalah China Triumph International Engineering Co. Ltd, dan State Development and Investment Cooperation.

Siam Cement Group juga tak mau ketinggalan. Raksasa produsen kimia milik kerajaan Thailand ini berencana membangun pabrik semen di Sukabumi, Jawa Barat, tahun ini. Nilai investasinya mencapai US$ 300 juta. Pabrik semen yang memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton per tahun ini akan dibangun selama dua setengah tahun.

“Semua produksi semen ini untuk pasar dalam negeri,” kata Kan Trakulhoon, Chief Executive Officer Siam Cement Group. Kebijakan itu, lanjut Trakulhoon, diambil berdasarkan prospek ekonomi Indonesia yang cerah.

Hingga 2011, Siam Cement sudah membenamkan modal US$ 700 juta di Indonesia. Investasi itu antara lain dalam bentuk akuisisi empat perusahaan Indonesia. Siam Cement Group Chemicals Co Ltd, perusahaan petrokimia terbesar di Asia Tenggara asal Thailand, mengakuisisi 30% saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) senilai Rp 3,76 triliun.

Siam Cement juga mengakuisisi 93,5% saham PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk (KIA), produsen keramik terkemuka di Indonesia. Tidak hanya itu, Siam Cement mengakuisisi 99% saham PT Kokoh Inti Arebama Tbk (Kokoh), distributor bahan bangunan dengan jaringan penjualan yang luas di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu. Siam Cement juga mengakuisisi saham PT Boral Indonesia -- produsen beton campuran (ready-mix concrete) – dari Boral Limited, Australia dengan nilai 4,3 miliar baht atau US$ 135 juta (sekitar Rp1,2 triliun). Dengan merek dagang Jayamix, saat ini Boral memiliki 40 pabrik di Jawa dan Sumatra dengan kapasitas 2,2 juta meter kubik per tahun.“Siam memperluas bisnisnya di Asean untuk mencapai misi kami sebagai pemimpin bisnis yang berkelanjutan di kawasan ini,” ujar Trakulhoon.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-28 yang terbit, Senin, 12 Maret 2012. [tjs]

Berita Terkait
Kembali ke atas