METROPOLITAN
twitter facebook
Rabu, 28 Maret 2012 | 21:45 WIB

TPST Bantargebang Timbun Solar?

Oleh: Wahyu Praditya Purnomo
TPST Bantargebang Timbun Solar?
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Disaat menjelang kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang akan diberlakukan pemerintah pada 1 April 2012, mendatang, aksi penimbunan BBM kian marak. Bahkan aksi timbun-menimbun sempat dialamatkan kepada pengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, PT Godang Tua Jaya.

Menanggapi tudingan tersebut, pengelola TPST Bantargebang, membantah melakukan penimbunan solar di dalam lokasi TPST. "Justru ratusan jerigen solar yang ada merupakan stok solar yang dibeli khusus untuk kebutuhan operasional alat berat yang beroperasi untuk mengolah sampah sebanyak 5.500 ton per hari," kata Direktur PT. Godang Tua Jaya, Douglas Manurung.

Dauglas mengatakan ribuan liter solar dalam sekitar 150 jerigen solar dibeli untuk stok operasional alat berat selama satu hari kerja. “Mengapa kita butuh cukup banyak solar untuk alat berat ini, karena alat berat tersebut bekerja sepanjang hari untuk mengolah sampah sehingga tidak menimbulkan bau dan dipadatkan,” kata Douglas, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Alat berat yang berada di TPST seluas 110 hektar ini, beroperasi untuk memuat (loading) sampah, meratakan, membentuk trap, memadatkan serta melapis sampah dengan tanah merah (cover soil). Ini sesuai dengan Kontrak dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta dan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan TPST berbasis sistem Sanitary landfill.

Menurut Douglas, sebanyak 43 unit alat berat dengan jenis Loader, Excavator, dan Bulldozer beroperasi 24 jam perhari yang dibagi dalam tiga shift kerja. Tentunya ketiga alat berat ini memiliki kebutuhan bahan bakar beragam sesuai jenis alat beratnya. Jika ditotalkan kebutuhan solar untuk 43 unit alat berat, dibutuhkan solar 10.320 liter per hari kerja.

“Kami menegaskan, seluruh solar yang dibeli itu bukan untuk dijual lagi, tetapi dipergunakan untuk bahan bakar 43 unit alat berat di TPST Bantar Gebang. Kami perkirakan satu unit kendaraan berat membutuhkan sekitar 150 liter solar per harinya,” paparnya.

Agar penyimpanan stok solar untuk kebutuhan sehari-hari di TPST Bantargebang tidak menimbulkan masalah, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna, menginstruksikan kepada pihak pengelola TPST Bantargebang selalu taat pada peraturan perundangan yang berlaku.

“Saya berharap pengelola agar segera memproses pengajuan kuota BBM kepada PT. Pertamina, untuk dipertimbangkan diberikan stok kebutuhan BBM per tahun dengan harga subsidi,” kata Eko. [mar]

Berita Terkait
Kembali ke atas