INILAHKORAN.COM - LINTAS JABAR
twitter facebook
Senin, 14 Mei 2012 | 09:35 WIB

Solidaritas bagi Korban Sukhoi

Oleh: Deni Mulyana
Solidaritas bagi Korban Sukhoi
Tragedi jatuhnya pesawat komersial Sukhoi Superjet 100 di kawasan Gunung Salak, Kabupaten Bogor, kembali menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian dunia. - inilah.com/Wirasatria

INILAH.COM, Bandung - Tragedi jatuhnya pesawat komersial Sukhoi Superjet 100 di kawasan Gunung Salak, Kabupaten Bogor, kembali menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian dunia. Dalam hal musibah, khususnya bencana alam, nama Indonesia memang sering menggaung ke dunia internasional.

Rentetan bencana yang menelan banyak korban, sering menjadi sinyal panggilan bagi bantuan luar negeri. Masih ingat, tragedi tsunami yang meluluh-lantakkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2004 silam. Sontak saat itu, warga dunia bersimpati dan berbondong-bondong memberikan bantuan, baik dalam proses evakuasi, rehabilitasi fisik, hingga pemulihan mental para korban tsunami.

Hanya dalam hitungan hari, sejumlah pemerintah di dunia berkomitmen untuk memberikan bantuan dana hingga US%2 miliar, kendati dalam realisasinya hanya sekitar US$400 juta yang benar-benar disubangkan. Begitu juga dengan bantuan tenaga untuk evakuasi, puluhan negara dengan ratusan hingga seribuan relawan diterjunkan.

Indonesia pun demikian. Kendati tidak bisa menyumbang sebesar negara maju, pemerintah dan rakyat Indonesia selalu menyisihkan anggaran untuk membantu negara lain yang terkena musibah, seperti musibah tsunami Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Saat itu, pemerintah RI menyumbang US$2 juta atau setara Rp17,4 miliar. Sumbangan tersebut memang relatif kecil, tapi cukup untuk menunjukkan simpati, juga sedikit balas budi atas bantuan Jepang yang merupakan pendonor terbesar saat terjadi tsunami Aceh.

Musibah memang bisa mempersatukan umat dunia. Karena itu, tak salah jika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara eksplisit menuangkan soal solidaritas dan kemanusiaan ini dalam salah satu pasal Piagam PBB. Dalam Pasal 1 Paragraf ke-3, PBB dibentuk untuk menciptakan kerja sama internasional dengan cara menyelesaikan permasalahan internasional di bidang kemanusiaan. Dalam Bab IX, secara gamblang dijelaskan bahwa demi terjalinnya kerja sama internasional dalam ekonomi dan sosial, termasuk di dalamnya dalam keadaan pemulihan pascabencana alam, negara-negara tetangga diberikan hak untuk memberikan uluran tangannya kepada negara yang terkena musibah atas izin negara yang terkena musibah tersebut. Hal itulah yang terjadi di Aceh, juga Jepang.

Musibah jatuhnya Sukhoi memang tidak sebesar tsunami Jepang apalagi tsunami Aceh. Jatuhnya pesawat komersial buatan Rusia ini ”hanya” menewaskan 45 penumpang, dan hanya ada 10 penumpang asing dari tiga negara, yakni asal Rusia, Amerika, dan Prancis. Namun paling tidak musibah ini bisa menyatukan ketiga negara tersebut dengan Indonesia, terutama Rusia yang warganya paling banyak menjadi korban. Pemerintah Rusia pun langsung mengirimkan 78 tenaga ahli untuk membantu proses evakuasi dan investigasi penyebab kecelakaan pesawat.

Tim Indonesia pun bahu-membahu bersama orang-orang Rusia untuk mengevakuasi dan mengidentifikasi para korban. Juga mengungkap tabir penyebab kecelakaan pesawat supercanggih tersebut.

Yang jelas selalu ada hikmah di balik suatu tragedi atau musibah. Kali ini, sebanyak 45 nyawa melayang akibat tragedi Sukhoi, tapi ini bisa menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa yang bisa merengut lebih banyak korban, tidak terjadi lagi. Musibah ini pun bisa menjadi awal dari semakin tingginya solidaritas dan mempererat hubungan antarwarga dunia. (*)

Berita Terkait
Kembali ke atas