INILAHKORAN.COM - POLITIK DAN PEMERINTAHAN
twitter facebook
Kamis, 24 Mei 2012 | 17:38 WIB

Inilah Alasan Jepang Teliti Batu Bara di Indonesia

Oleh: Asep Mulyana
Inilah Alasan Jepang Teliti Batu Bara di Indonesia
Vice President Director Japan Gas Corporation (JGS) Nurdin Haris mengatakan, investasi dan implementasi yang dilakukan sejalan dengan cadangan batu bara yang ada. - inilah.com/Asep Mulyana

INILAH.COM, Karawang - Vice President Director Japan Gas Corporation (JGS) Nurdin Haris mengatakan, investasi dan implementasi yang dilakukan sejalan dengan cadangan batu bara yang ada.

JGC sendiri bertujuan, ingin membangun Indonesia. Sebelumnya, Indonesia merupakan negara penghasil minyak bumi. Akan tetapi, sejak 2004 Indonesia justru terbalik menjadi negara importir minyak.

Lebih lanjut Nurdin Haris menuturkan, batu bara memiliki nilai tambah untuk mineral. Bahkan, potensinya lebih bagus dibanding minyak mentah. Termasuk, ketika sudah diolah. BBM yang bersumber dari minyak bumi ternyata memiliki kualitas rendah jika dibanding dengan hasil dari batu bara.

“Batu bara bisa mentransfer energi kadar rendah menjadi energi yang baik,” ujar Nurdin.

Dengan menggunakan teknologi slurifikasi, tambahnya, batu bara yang berbentuk padat bisa menjadi gas ataupun cair (liquid). JGC menggunakan batu bara muda (low rank coal) dikarenkan cadangan batu bara muda ini cukup melimpah. Yakni mencapai 40 % dari 170 miliar ton cadangan batu bara yang ada di Indonesia.

Selain itu, batu bara muda mengandung kalori antara 2.500 sampai 3.000 kilo kalori per kilogram. Batu bara ini, kemudian diproses dengan teknologi slurifikasi, sehingga kalorinya meningkat antara 4.000 sampai 4.500 kilo kalori per kilogram. Dengan kalori panas yang maksimal ini, diharapkan bisa menghemat kebutuhan energi sampai 40 %.

Selain bisa menghemat energi, teknologi JFC juga ramah lingkungan, aman dan mudah. Biasanya, batu bara akan menghasilkan polusi berupa debu (fly ash). Namun, dengan teknologi JCF hasil pengolahan batu bara akan berbentuk cairan sehingga tak menyebabkan polusi dan tidak mudah terbakar. Selain itu, minyak dari batu bara ini mudah dipindahkan seperti bahan bakar hasil minyak bumi.

Dibagian lain, Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Thamrin Sihite menyebutkan, Indonesia mempunyai potensi sumber daya energi yang besar. Untuk batu bara saja potensinya mencapai 170 miliar ton. Batu bara yang kualitas tinggi mencapai 30 ton. Sisanya, batu bara muda dan yang kualitasnya rendah. “Saat ini, yang termanfaatkan baru batu bara kualitas tinggi,” kata Thamrin.

Untuk itu, sambung dia, ketika perusahaan Jepang ini mengembangkan penelitian mengenai potensi batu bara muda, pemerintah sangat mendukung. Apalagi, teknologi yang ditawarkan Jepang ini sangat dibutuhkan. Terutama, untuk mendongkrak nilai tambah batu bara muda.

Dia menilai, sektor pertambangan bisa membawa kemakmuran bagi masyarakat. Akan tetapi, bisa juga memunculkan polemik. Karena itu, perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan, terutama batu bara harus mempertimbangkan lingkungan. Apalagi, yang menyangkut aspek sosial ekonimi dan fisik lingkungan. “Perhatikan dampak pencemarannya. Selain itu, harus membawa manfaat bagi masyarakat di sekitar pabrik,” paparnya.[ang]

Berita Terkait
Kembali ke atas