PASAR MODAL
twitter facebook
Minggu, 24 Juni 2012 | 16:06 WIB

Peluang IPO Pada Semester Kedua 2012

Oleh: Agustina Melani
Peluang IPO Pada Semester Kedua 2012
IST

INILAH.COM, Jakarta - Penawaran umum saham perdana/initial public offering (IPO) diperkirakan masih menarik pada semester kedua 2012. Namun harga penawaran saham perdana yang ditawarkan menjadi pertimbangan semua pihak di tengah situasi perekonomian Eropa tidak pasti.

Direktur PT Indopremier Securities Rayendra Tobing menuturkan, penawaran umum saham perdana masih menarik pada semester kedua 2012. Hal itu dilihat dari beberapa perusahaan yang menyatakan ingin melakukan penawaran umum saham perdana pada semester kedua 2012. Meski begitu, Rayendra menuturkan, calon emiten juga menginginkan harga penawaran umum saham perdana yang menarik karena berkaitan dengan dana yang ingin diperoleh dari hasil penawaran umum saham perdana.

Sementara itu, Direktur PT OSK Nusadana Securities Indonesia Mardy Sutanto optimis terhadap penawaran umum saham perdana pada semester kedua 2012. Hal itu sepanjang emiten memberikan harga yang menarik untuk calon investor. Lebih lanjut Mardy menuturkan, sampai situasi di negara-negara maju masih tidak menentu, investor institusi akan menjaga tingkat likuiditas mereka cukup tinggi. Hal itu mengingat kemungkinan penarikan dana dari para pemilik reksa dana cukup tinggi maka minat membeli saham di pasar penawaran umum saham perdana akan berkurang. "Namun tentu saja penawaran umum saham perdana akan tetap bisa dilaksanakan apabila emiten tidak ragu untuk memberikan harga saham yang sangat menarik. Tergantung supply dan demand. Selain itu, emiten memberikan harga yang menarik untuk calon investor," tutur Mardy lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, akhir pekan ini.


Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai dengan kondisi situasi global tidak pasti, calon emiten harus memiliki usaha lebih untuk meyakinkan kepada calon investor mengenai kondisi perusahaan. Dengan penjelasan manajemen perusahaan dapat bisa meyakinkan para calon investor sehingga berminat membeli saham perdana calon emiten itu. "Terkadang investor memanfaatkan momen penawaran umum saham perdana suatu perusahaan untuk mengambil capital tagin. Capital gain tersebut untuk menutup loss di saham lain yang sudah cut loss atau rugi," kata Reza.

Menurut Reza, pelaksanan penawaran umum saham perdana juga ditentukan oleh penjamin emisi efek dan emiten. Penjamin emisi efek dan calon emiten akan mengkalkulasi waktu pelaksanaan penawaran umum saham perdana dan harga penawaran umum saham perdana. "Dari penentuan harga memang agak susah kalau memaksakan harga di premium untuk saat ini. Pasti investor ritel akan dianggap kemahalan. Padahal belum tentu karena harga penawaran umum saham perdana dapat juga mencerminkan nilai perusahaannya. Bila mungkin perlu dipertimbangkan untuk mendekati batas bawah dan mengambil rentang cukup lebar untuk mengetahui di harga berapa minat para investor," jelas Reza.

Sekedar informasi, ada beberapa perusahaan yang sedang melakukan penawaran umum saham perdana antara lain PT Trisula Internastional Tbk menawarkan 300 juta saham ke publik dengan harga penawaran Rp300 per saham, PT Kobexindo Tractors Tbk menawarkan maksimal 858 juta saham ke publik dengan harga penawaran Rp400 per saham, PT Toba Bara Sejahtera Tbk akan melepas 15% saham ke publik di kisaran harga Rp1.850-Rp2.400 per saham, PT MNC Sky Vision Tbk melepas 1,41 miliar saham ke publik dengan harga penawaran Rp1.460-Rp1.750 per saham, PT Global Teleshop Tbk melepas saham baru sebesar 111,11 juta saham dengan kisaran harga Rp1.000-Rp1.150 per saham, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur akan menawarkan saham perdana di kisaran harga Rp430-Rp670 per saham dengan jumlah saham yang dilepas ke publik 2,98 miliar saham.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 25 emiten dapat mencatatkan saham perdana pada 2012. Hingg kini, baru lima emiten yang mencatatkan saham perdana di BEI dengan total perolehan dana mencapai Rp1,15 triliun. Direktur Utama PT Lautandhana Securindo Wientoro Prasetyo mengatakan, kondisi Eropa tak pasti turut mempengaruhi penawaran umum saham perdana pada semester pertama 2012. Calon emiten menunggu momentum yang tepat untuk melakukan penawaran umum saham perdana. Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Henan Putihrai Felix Sindhunata, situasi global yang kurang baik mempengaruhi penawaran umum saham perdana. Hal itu membuat minat penawaran umum saham perdana berkurang.

Berita Terkait
Kembali ke atas